Mashael al-Jaloud, 33, perempuan Arab Saudi yang telah berhenti mengenakan abaya yang menutupi semua tubuhnya, kecuali saat dia berada di tempat kerja. (Foto: AFP)

Tak Lagi Wajib Pakai Hijab, Wanita Arab Saudi Ramai-Ramai Berambut Pendek

Riyadh (Independensi.com) – Pemerintah Arab Saudi memberikan banyak kelonggaran bagi kaum wanita dalam beraktivitas di luar rumah, termasuk dalam bekerja dan aktivitas lainnya. Wanita Arab Saudi juga tidak lagi wajib mengenakan hijab dan mereka layaknya perempuan modern dengan bebas berambat panjang atau pendek.

Sebagaimana diberitakan kantor berita AFP, di jalan-jalan kota di Arab Saudi tampak wanita yang berambut pendek. Mereka beramai-ramai memotong rambut pendek. Selain itu, banyak perempuan Arab telah berhenti mengenakan abaya yang menutupi semua tubuhnya.

Arab Saudi secara terang-terangan menggunakan istilah “Vision 30” untuk konsep modernisasi. Atas konsep itu maka semua aspek kehidupan, baik hubungan antara agama dan keyakinan, pendidikan, kesehatan, ekonomi, budaya akan mengalami perubahan yang sangat luar biasa (drastis).

Moderasi Arab Saudi lebih mudah ketimbang moderasi di Indonesia. Karena sifatnya dari raja diterapkan ke bawah. Ketika Raja melaksanakan sebuah perintah, secara otomatis semua harus ikut berubah.

Sementara Indonesia, dengan alasan demokrasi, Salafi, Syiah, Ikhwanul Muslimin mendapat angin demokrasi. Mereka bisa mengembangkan akidahnya dengan alasan demokrasi. Sementara pemerintah, tidak bisa berbuat banyak menginterfensi.

Wanita Arab Saudi beramai-ramai memotong rambut panjang mereka menjadi sangat pendek. Tren rambut pendek ini mulai terlihat pada wanita-wanita di jalanan ibu kota Riyadh, terutama setelah wanita Saudi tidak lagi diwajibkan mengenakan hijab di tempat umum.

Salah satunya Safi yang seperti dilansir AFP, Jumat (24/6/2022), berprofesi sebagai dokter dan baru saja mendapatkan pekerjaan di sebuah rumah sakit di Riyadh. Safi memutuskan untuk memberikan penampilan baru bagi dirinya memotong rambutnya yang panjang bergelombang menjadi sangat pendek hingga ke leher.

Gaya rambut pendek — yang secara lokal dikenal dengan kata bahasa Inggris `boy` — semakin populer di kalangan wanita pekerja di Saudi yang konservatif.

Terlihat di jalanan Riyadh, banyak wanita yang memiliki gaya rambut pendek. Situasi itu bisa terjadi juga setelah wanita Saudi tidak lagi diharuskan mengenakan hijab di bawah reformasi sosial yang didorong oleh Putra Mahkota Saudi Pangeran Mohammed bin Salman (MBS), yang juga penguasa de-facto Saudi.

Dengan semakin banyak wanita bergabung dalam angkatan kerja — bagian utama dari upaya pemerintah membangun kembali perekonomian Saudi, banyak yang menggambarkan gaya rambut `boy` sebagai alternatif yang praktis dan profesional dibandingkan gaya rambut panjang.

Bagi Safi, yang menggunakan nama samaran untuk melindungi identitasnya, potongan rambut pendek juga menjadi semacam perlindungan dari perhatian yang tidak diinginkan dari laki-laki, yang memampukan dirinya lebih fokus pada pasien-pasiennya.

“Orang lebih suka melihat feminitas dalam penampilan wanita. Gaya ini menjadi semacam perisai yang melindungi saya dari orang-orang dan memberikan saya kekuatan,” ucapnya

Melalui Vision 30, semua mulai berubah drastis. Tidak satu-pun yang berani membantah titah seorang Raja. Ulama-pun, harus taat terhadap aturan negara. Tidaklah heran, pada setiap perhelatan internasional. Seperti; seminar bahasa, pendidikan, ekonomi, budaya, selalu melibatkan wanita-wanita cantik tanpa memakai tutup kepala (jilbab).

Wanita, pada masa-masa sebelumnya, kira-kira kurun 30 tahun yang lalu, atau paling dekat saat saya masih kuliah di Umm Alqura University (tahun 2000-an), tidak ada seorang wanita mengendari mobil, bekerja di toko, apalagi di pemerintahan.

Bandara-bandara, sebagian besar yang bekerja di imigrasi, dipenuhi kaum wanita yang masih muda. Walaupun ada juga yang sedikit stw (setenggah tua). Di antara sekian wanita, ada juga yang membuka tutup kepala (kerudung) tanpa merasa riskan dan sungkan.

Kendati demikian, tetap ada wanita-wanita yang istikomah memakai cadar. Bahkan, mereka kadang sesekali bercanda kecil saat pemeriksaan paspor dengan calon jamaah umrah dan haji.

Pertokoan besar (mall) di Hijaz (Makkah, Madinah, Jeddah), Najed (Riyad dan sekitarnya) sebagian kaum wanita muda diperdayakan bekerja. Begitu juga dengan pertokoan di sekitar Masjidilharam dan masjid Nabawi.

Dengan gaya khasnya, wanita-wanita melayani para pembeli, namun masih terlihat kaku, jika dibandingkan dengan wanita-wanita Mesir saat menawarkan barang dagangan.

Dulu, fatwa “haram” terhadap wanita tidak berjilbab, sudah tidak lagi bermunculan, namun tetap saja haram dalam hukum fikih.

Fatwa “Haram” terhadap wanita nyetir mobil, bekerja di luar rumah tanpa muhrim, lambat laun sudah tidak muncul lagi. Moderasi menghiasai perubahan besar-besaran menuju Arab Saudi tahun 2030. (dikutip dari media law justice.co)