Hari Pahlawan, GMNI Mamuju Ziarah ke Makam Pahlawan

MAMUJU (Independensi)- Hari Pahlawan  10 November diperingati Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Mamuju dengan berziarah ke salah satu Makam Pahlawan di Tambi, Kelurahan Mamunyu, Kecamatan Mamuju, Kabupaten Mamuju, baru-baru ini.

Makam tersebut merupakan makam dari salah seorang Raja Mamuju Lebopang atau Maradika yang bergelar Pue Tonileo yang memerintah di Kerajaan Mamuju pada abad ke-18 atau sekitar tahun 1700 – 1709.

Raja (dalam bahasa lokal Maradika) Pue Tonileo memiliki pengaruh cukup besar dalam pembangunan peradaban yang ada di Mamuju.

Wakil Ketua Agitasi dan Propaganda GMNI Mamuju Adam Jauri mengatakan, ziarah ini digelar untuk mengenalkan kader pada nilai-nilai juang para tokoh lokal. Selain itu GMNI Mamuju juga mendorong publik untuk melestarikan budaya lokal.

“Sebagai kaum terpelajar yang berpondasi pada pemikiran nasionalis, kader GMNI harus mengetaui dan menjaga nilai-nilai budaya lokal. Kader GMNI Cabang Mamuju harus melakukan penghormatan bagi jasa para Pahlawan baik nasional maupun lokal, tujuan lainnya saat setelah kader GMNI berziarah ialah mengajak kepada seluruh lapisan masyarakat agar menghormati serta melanjutkan visi dan semangat juang para Pahlawan khususnya Pahlawan yang ada di Mamuju,” Kata Adam.

Usai berziarah, GMNI Mamuju menyebut, kondisi makam memprihatinkan dan jarang terpublikasikan ke publik. Padahal kata Adam, makam itu memiliki nilai sejarah dan budaya yang penting bagi Mamuju.

“Kondisi makam memprihatinkan, makam itu jarang dikunjungi. Kuburan Pahlawan ini seperti pusara tak bernama,” terang Adam.

Melihat kondisi itu, GMNI Mamuju berharap ada perhatian dari Pemerintah Daerah untuk melakukan perbaikan agar peninggalan sejarah itu tak hilang dan rusak.

“Dari ziarah makam Pahlawan yang dilakukan di Tambi, GMNI Mamuju menyerukan agar Pemerintah memperhatikan persoalan Sejarah dan Budaya ketika merencanakan/melakukan pembangunan, mengingat diwilayah perkampungan Tambi dan Kampung Baru akan dibangun Jalan Nasional ‘Arteri Ring Road’ yang menuai pro-kontra diruang publik,” ujarnya.