Ilustrasi Hari Pahlawan (Ist/Tangkapan layar AI).

Monolog Anak-Anak Negeri di Hari Pahlawan

Loading

JAKARTA (Independensi.com) – Dengarlah, wahai anak-anak negeri yang darahnya masih mengalirkan api kemerdekaan. Tenangkan sejenak langkahmu di tengah gemuruh zaman yang tak kenal henti ini. Biarkan jiwa kita melayang menembus kabut waktu, kembali ke sebuah fajar kelam di bulan November, ketika langit Surabaya bukan lagi biru, tetapi merah yang membara oleh amarah suci dan darah para pahlawan yang gugur.

10 November bukan sekadar tanggal yang kita hapal dari buku pelajaran sekolah. Ia adalah nyala, luka, sekaligus anugerah. Pada hari itu, langit Surabaya pernah menyala merah: bukan oleh matahari senja, tetapi oleh keberanian darah yang tumpah demi nama tanah air.

Mereka yang gugur waktu itu bukan pahlawan dengan jubah keperkasaan. Mereka adalah wajah yang kita kenal: petani yang meninggalkan ladang, nelayan yang menunda turun ke laut, pemuda dengan langkah pertama menuju masa depan. Mereka bukan tanpa takut. Namun cinta pada negeri ini lebih besar dari rasa gentar pada maut.

Merdeka atau mati bukan slogan. Itu adalah sumpah yang keluar dari dada yang telah memilih untuk memberi segalanya. Kini kita berdiri di tanah yang mereka menangkan.

Pertanyaannya adalah, apa yang sedang kita lakukan dengannya? Musuh kita hari ini tidak lagi mengenakan seragam asing. Ia lebih tenang, lebih rapi, lebih pandai menyamar. Ia bernama keserakahan. Ia menjelma dalam korupsi yang menggerogoti tiang-tiang keadilan. Dalam apatisme yang membiarkan ketidakadilan berlalu seperti angin. Dalam rasa saling curiga yang memudarkan persatuan.

Namun jangan kira gelap ini tanpa cahaya. Cahaya itu ada pada kaum muda yang berani bertanya, berani berbeda, berani jujur ketika dunia mengajak berkompromi. Pada guru yang tetap mengajar walau sekolahnya berada jauh di ujung peta. Pada ilmuwan yang menolak menjual kebenaran pada kepentingan modal. Pada seniman yang menjaga keindahan agar tetap berbicara bagi nurani.

Pahlawan hari ini bukan mereka yang memikul senjata. Pahlawan adalah mereka yang memilih mendengarkan suara hati. Maka mari kita tatap cermin dan bertanya pelan tapi pasti, “Apa yang telah kuberi untuk negeri ini?” Pertanyaan sederhana, namun tak semua berani menjawab.

Jiwa 10 November bukan tentang masa lalu yang selesai. Ia adalah api kecil yang harus kita jaga tetap hidup. Dalam keputusan tidak mengambil yang bukan hak kita. Dalam keberanian membela yang lemah. Dalam usaha mempertemukan yang tercerai.

Ibu Pertiwi menangis pilu memanggil lirih namamu. Jawablah panggilan itu. Dengan membawa air mata,  menjadi embun penyejuk bagi negeri yang haus akan keadilan dan kejujuran. Buktikan bahwa darah pahlawan tidaklah mengalir sia-sia. Bahwa jiwa besar mereka telah bereinkarnasi dalam semangatmu yang tak pernah padam. Bersama kita saling menguatkan satu sama lain untuk menjaga negeri tercinta.

Indonesia tidak meminta kita menjadi sempurna. Indonesia hanya meminta kita untuk tidak menyerah.

Masita Riany

Pegiat Lingkungan, Seni, Sastra dan Kebudayaan

About The Author