![]()
JAKARTA (Independensi.com) — Ketua Dewan Penasihat PWI Jaya, Benny N. Joewono, menegaskan pentingnya menjadikan PWI Jaya sebagai “rumah cerdas” bagi wartawan Jakarta. Gagasan ini, menurutnya, bukan sekadar slogan, tetapi menjadi visi dan arah organisasi dalam memperkuat kapasitas, kolaborasi, dan profesionalisme jurnalis ibu kota.
“Makna menjadikan PWI Jaya sebagai rumah cerdas bagi anggotanya bisa dijadikan deskripsi visi atau tagline,” ujar Benny Joewono melalui keterangan tertulis, Selasa (14/10/2025). Ia menjelaskan, rumah cerdas bermakna tempat belajar, berinovasi, dan berbagi pengetahuan, menegaskan fungsi PWI Jaya sebagai pusat pengembangan kapasitas dan kolaborasi antarwartawan.
Benny memaparkan tiga makna rumah cerdas. Pertama, PWI Jaya sebagai tempat tumbuhnya wawasan, etika, dan inovasi media dengan fokus pada pendidikan dan nilai profesionalisme. Kedua, wadah pembinaan dan inspirasi bagi wartawan di era digital, menyesuaikan dinamika modernisasi media.
Ketiga, ruang belajar dan bertransformasi, yang menurut Benny cocok dijadikan tagline publikasi PWI Jaya. “Tantangan terbesarnya adalah menjadikan organisasi PWI Jaya bukan hanya tempat berlindung, tetapi juga mencerdaskan, menghubungkan, dan mengangkat martabat profesi wartawan,” tegasnya.
Benny, yang kini menggantikan Johnny Hardjojo sebagai Ketua Dewan Penasihat PWI Jaya periode 2024–2029, juga menegaskan akan melanjutkan pemikiran dan gaya kepemimpinan pendahulunya. “Saya mohon dukungan teman-teman anggota Wanhat PWI Jaya, baik para senior maupun anggota baru,” ujarnya.
Benny mengingatkan, PWI Jaya selama ini dikenal sebagai barometer wartawan nasional, melahirkan banyak tokoh pers berpengaruh seperti Adam Malik, Harmoko, Jakob Oetama, Rosihan Anwar, SK Trimurti, Herawati Diah, Tan Malaka, dan Mochtar Lubis. “Para tokoh tersebut berhasil memperkuat posisinya sebagai wartawan di tengah masyarakat. Keterlibatan mereka membuat PWI Jaya makin disegani dan dihargai,” ujar Benny.
Namun, ia juga menyoroti tantangan di era digital saat ini. “Banyak tokoh pers yang kini jadi publik figur atau pejabat, tapi tidak terlalu dikenal masyarakat karena karya nyata mereka kurang dekat dengan publik,” katanya.
Menutup pernyataannya, Benny mendukung sikap Ketua PWI Jaya Kesit Budi Handoyo yang menekankan pentingnya otoritas moral dan intelektual organisasi. “Itu wajib menjadi konsep utama PWI Jaya. Kita harus memberi teguran atau punishment bagi anggota yang tidak beretika. Mekanismenya tentu di Dewan Kehormatan,” pungkasnya.

