Buku “Bali Slam: Entitas Yang Terlupakan” karya Ilham Efendi, Harmoni Islam-Hindu di Bali

Loading

Denpasar (Independensi.com) – Buku “Bali Slam: Entitas Yang Terlupakan” karya Ilham Efendi sejatinya menerangkan bahwa Islam berdampingan dengan Hindu, melalui dialog antara iman Islam dan adat lokal Bali dalam semangat menyama braya (persaudaraan antarmanusia). Buku ini menekankan bahwa komunitas Muslim Bali Slam telah berakar sejak era Kerajaan Gelgel, terlihat di kampung bersejarah seperti Pegayaman, Kusamba, dan Kecicang, di mana kedua agama saling menghormati tanpa konflik dominan.

Hal tersebut dikemukakannya disela-sela peluncuran Buku “Bali Slam: Entitas Yang Terlupakan” karya Ilham Efendi di Wistara Cafe di Denpasar, Sabtu, 31 Januari 2026.

Buku Balislam Karya lham Effendi setebal 180 halaman yang diterbitkan oleh Deepublish di Yogjakarta ini merupakan momentum penting bagi sejarah Islam di Bali sekaligus ruang refleksi intelektual untuk memahami peran, kontribusi, dan perkembangan umat Islam dalam konteks sosial, budaya, dan kebangsaan di Bali. Melalui bedah buku ini diharapkan lahir diskursus yang mencerahkan serta memperkuat semangat keberagaman dan harmoni.

Efendi membongkar mitos bahwa Muslim Bali hanyalah pendatang baru, menunjukkan integrasi panjang yang terpinggirkan dari narasi resmi Pulau Dewata. Stigma modern, seperti pasca-Bom Bali 2002, justru memperlemah ingatan kolektif ini, meski realitas menunjukkan koeksistensi damai.

ILHAM EFENDI, laki-laki yang lahir pada tanggal 19 November 1997 di Denpasar, merupakan keturunan putra Bali Slam atau orang Bali yang beragama Islam yang leluhurnya hidup sudah berabad-abad lamanya di tanah Bali. Mengenyam pendidikan tinggi di STAI Denpasar-Bali jurusan Manajemen Pendidikan Islam dan merupakan alumni Angkatan Tahun 2021.

Ketertarikannya terhadap sejarah Islam khususnya Sejarah Islam di Bali berawal dari ras keresahannya melihat tentang bagaimana muslim Bali Mulai kehilangan identitasnya akibat rasa termarjinalkan polarisasi politik yang ingin menggerus sejarah yang ada yang nyatanya dalam berinteraksi sosial seperti apa yang digambarkan, Dirinya terpanggil dan mancoba untuk memberanikan diri dalam menulis untuk menjadi pembuka literasi untuk Sejarah Islam di pulau Bali dan semata-matahanya ingin bermanfaat agar kelak generasi penerus memiliki sebuah landasan dasar mengapa mereka disebut Bali Slam hingga nengapa mereka juga punya kewajiban yang sama untuk saling menjaga warisan sejarah, budaya dan peradaban ini hingga akhir jaman. (hd)

About The Author