Pembukaan analisa jabatan di lingkungan Perumda Tirta Bhagasasi dalam penerapan SOTK

Perumda Tirta Bhagasasi: SOTK Disusun Berbasis Analisis Jabatan Kunci Efektivitas Organisasi

Loading

BEKASI (Independensi.com)- Dalam
penataan Struktur Organisasi dan Tata Kerja (SOTK) yang ideal, harus didasarkan pada analisis jabatan yang objektif. Jadi, bukan atas dasar kepentingan individu.

Langkah ini menjadi kunci utama bagi pihak manajemen perusahaan dalam mengukur kinerja, serta mengidentifikasi beban kerja riil di setiap bagian organisasi secara akurat.

Penjelasan itu disampaikan narasumber ahli dari PT Ratama Mitra Kualitas, Hermansyah di hadapan para perwakilan manajemen dan karyawan Perumda Tirta Bhagasasi saat Kick Off dan Awarness Analisa Jabatan dan Struktur Organisasi dan Tata Kerja Perumda Tirta Bhagasasi, Kamis (2/7/2026).

Dikatakan, esensi utama dari program analisis jabatan ini adalah untuk memberikan kepastian hukum dan operasional mengenai fungsi spesifik dari suatu posisi di dalam perusahaan.

“Maka, dengan melakukan analisis jabatan ini, harapannya adalah kita bisa memastikan apa sebenarnya tugas pada jabatan tersebut. Jadi ini bukan bicara masalah orang harus melakukan apa dulu, melainkan jabatan tersebut harus melakukan apa. Siapa pun yang masuk tidak ada masalah, karena jabatan itu jelas tugas, tanggung jawab, dan ujung-ujungnya apa SOP yang harus dijalankan,” kata Hermansyah.

Ditambahkan, bahwa kejelasan fungsi dalam struktur organisasi ini nantinya akan menjadi fondasi penting bagi jajaran manajemen. Melalui pemetaan yang jelas, perusahaan dapat menyusun indikator yang objektif dalam mengukur dan mengevaluasi capaian kinerja pada setiap jabatan.

Ia juga mengingatkan para peserta yang melakukan pengisian data kuesioner dalam penyusunan SOTK, dilakukan secara transparan dan jujur.

Kejujuran data ini sangat penting karena setiap informasi yang diberikan akan berdampak langsung pada Analisis Beban Kerja instansi. Dengan data yang riil, nantinya manajemen perusahaan dapat melihat secara objektif jika ada posisi yang mengalami beban kerja berlebih (overload). Sehingga langkah-langkah mitigasi dapat segera dilakukan demi kesehatan organisasi.

“Bagaimana kita bisa membuat organisasi jadi lebih baik adalah bagaimana kita bisa mendefinisikan dengan jelas apa tugas saya apa adanya, jangan dikarang. Tulis saja dulu apa adanya yang dikerjakan, karena bagaimanapun juga SOTK akan berdampak kepada analisis beban kerja untuk melihat apakah terjadi overload atau tidak,” tambahnya.

Hermansyah memproyeksi, bentuk SOTK perusahaan tidak boleh kaku dan harus mampu mengadopsi dinamika yang terjadi. Ia menyebut, perubahan lingkungan global saat ini menuntut organisasi untuk mengintegrasikan fungsi-fungsi modern yang berkaitan erat dengan keselamatan (safety), manajemen risiko (risk management), hingga pengelolaan dampak lingkungan.

“Diharapkan dengan menyusun SOTK ini benar-benar dia bisa terimplementasikan dengan baik,” tuturnya.

Rangkaian Kick Off dan Awarness Analisa Jabatan dan SOTK selama dua hari ini mulai dengan pemberian materi tentang analisa jabatan dan SOTK. Lalu dilanjutkan dengan workshop bagaimana mengisi kuesioner analisa jabatan dan masuk ke sesi wawancara.

Proses wawancara ini, dikatakan Hermansyah, sangat vital karena untuk memastikan apakah pegawai bekerja sesuai dengan jabatannya. Ia menargetkan pada bulan November 2026, dokumen Analisis Jabatan dan naskah SOTK sudah siap diimplementasikan secara matang. (jonder sihotang)

About The Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *