Foto: Management Rumah Sakit Petrokimia Gresik saat melakukan MoU bersama Kemenag Gresik

Tak Hanya Rawat Fisik, RS Petrokimia Gresik Perkuat Pendampingan Rohani Pasien

Loading

GRESIK (independensi.com) – Dalam mendukung proses pemulihan pasien, Rumah Sakit Petrokimia Gresik (RSPG) hadirkan bimbingan keagamaan Inklusif dengan mengandeng Kementerian Agama (Kemenag) Gresik Jawa Timur.

Hal tersebut dilakukan menurut Direktur RS Petrokimia Gresik dr. Luviana Tyaswulandari, proses pemulihan pasien di rumah sakit tidak hanya membutuhkan penanganan medis. Namun juga butuh ketenangan batin, dukungan psikologis, serta penguatan spiritual sebagai bagian penting yang dapat membantu pasien menghadapi masa perawatan.

“Kami meyakini bahwa proses pemulihan pasien tidak hanya berkaitan dengan kondisi fisik, tetapi juga membutuhkan ketenangan hati dan dukungan secara emosional maupun spiritual. Melalui kolaborasi dengan Kemenag Gresik ini,” ujarnya, Kamis 8 September 2026.

“Kami juga berharap pasien dapat memperoleh pendampingan rohani yang sesuai dengan keyakinannya, sehingga selama menjalani perawatan mereka merasa lebih tenang, nyaman, dan didukung,” sambungnya.

Dikatakan dr. Luviana, bahwa kerja sama tersebut sejalan dengan komitmen RS Petrokimia Gresik untuk menghadirkan pelayanan kesehatan yang humanis, inklusif, dan berpusat pada pasien.

“Rumah sakit bukan hanya tempat untuk mendapatkan tindakan medis, tetapi juga menjadi tempat pasien dan keluarga mendapatkan rasa aman dan dukungan selama menghadapi proses pengobatan,” tegasnya.

“Karena itu, kami menyambut baik sinergi ini sebagai bagian dari upaya memberikan pelayanan yang lebih utuh kepada pasien,” tandas dr. Luviana.

Kolaborasi tersebut lanjutnya, ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara kedua pihak.

Melalui kerja sama ini, Kemenag Gresik menyiapkan Rohaniawan agama dan pembimbing spiritual untuk memberikan pendampingan kepada pasien selama menjalani perawatan di RS Petrokimia Gresik.

“Layanan ini dirancang secara inklusif, dengan memperhatikan kebutuhan pasien dari berbagai latar belakang agama. Sehingga pendampingan tidak hanya diperuntukkan bagi pasien beragama Islam, tetapi juga mencakup pemeluk agama Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, dan Konghucu.

Dengan demikian, kebutuhan spiritual pasien tetap mendapatkan perhatian sebagai bagian dari pelayanan kesehatan yang menyeluruh. Karena aspek spiritual merupakan salah satu bagian yang perlu diperhatikan dalam memberikan pelayanan kesehatan yang berorientasi pada kebutuhan pasien dan rumah sakit wajib mampu memfasilitasi pasien yang membutuhkan layanan terbaik,” ungkapnya menguraikan.

Sementara Kepala Kantor Kemenag Gresik Muhammad Ali Faiq bersama Kasi Bimas Islam Abdul Ghofar meyampaikan bahwa sinergi tersebut merupakan bentuk komitmen untuk menghadirkan pelayanan keagamaan yang dapat menjangkau masyarakat dalam berbagai kondisi, termasuk ketika sedang menjalani perawatan di rumah sakit.

“Bagi pasien, masa menjalani perawatan tidak jarang menjadi periode yang penuh tantangan. Rasa khawatir terhadap kondisi kesehatan, proses pengobatan, hingga kecemasan terhadap kesembuhan dapat memengaruhi kondisi emosional pasien maupun keluarga,” tukasnya.

Dengan adanya sinergi kolaborasi ini, dr Luviana menjelaskan bahwa pasien RS Petrokimia Gresik diharapkan dapat memperoleh pengalaman perawatan yang lebih komprehensif—mendapatkan layanan medis sekaligus dukungan rohani yang sesuai dengan kebutuhan dan keyakinannya.

Sekaligus menjadi langkah bersama untuk menghadirkan pelayanan kesehatan yang semakin humanis, inklusif, dan berorientasi pada kebutuhan pasien, sekaligus memperkuat peran rumah sakit sebagai ruang pemulihan yang tidak hanya merawat tubuh, tetapi juga memberikan ketenangan bagi jiwa,” pungkasnya. (Mor)

About The Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *