Mengenang Visi & Spirit Prof. IGN Bagus: Catatan Pinggir antara Kiprah dan Kaprah Perjuangan

Loading

Denpasar (Independensi.com) – Sosok Prof. IGN. Bagus lahir 12 Juli 1933 menjadi catatan penting dalam perjalanan pemikiran sosial budaya Bali. Di usia 93 tahun, kiprah dan perjuangannya dikenang kembali melalui diskusi kecil bertajuk “93 Tahun Prof. IGN. Bagus: Sebuah Catatan Pinggir Antara Kiprah dan Kaprah Perjuangannya” di Mahalo Cafe, Jalan Raya Puputan, Renon, Denpasar, Minggu, 12 Juli 2026.

Forum tersebut menjadi ruang refleksi terhadap perjalanan intelektual Prof. IGN. Bagus yang dikenal aktif menyuarakan pandangan kritis terhadap berbagai fenomena sosial budaya di Bali.

Pada pertengahan tahun 1990-an, Prof. IGN. Bagus acapkali memberi statement dengan kalimat: “De Koh Ngomong”.

Ungkapan tersebut menjadi ciri khas sikap kritisnya ketika merespons berbagai persoalan yang berkembang ditengah masyarakat. Setiap muncul kronik sosial budaya di Bali, Prof. Bagus selalu memberikan penyikapan yang kritis sekaligus solutif. Pikiran-pikiran kritis dan bernas tersebut kemudian semakin memuai serta menjadi bagian dari dinamika pemikiran Bali hingga saat ini.

Dalam upaya memaknai dedikasi dan perjuangan nindhin budaya Bali yang dijiwai oleh nilai-nilai Hindu, diskusi tersebut menjadi momentum untuk melihat kembali peran Prof. Bagus dalam perjalanan kebudayaan Bali. Menurutnya, menjaga budaya bukan berarti membeku dalam bentuk, melainkan memelihara kemampuan masyarakat untuk memilih, menegosiasikan, dan merawat tradisi dalam kondisi baru.

Diskusi kecil atas pemerakarsa atau inisiator, I Ketut Ngastawa dengan menghadirkan Narasumber Prof. Putu Suasta dan Prof. Dr. I Gede Mudana, M.Si., yang dipandu oleh Nyoman Baskara.

Turut hadir, Prof. Dr. I Gede Sutarya, ST., Par., M.Ag., Prof. Dr. Ir. Nitya Santhiarsa, M.T., (Putra Prof. IGN. Bagus), Drs. Nyoman Sutiawan, Ir. IGA Aryasa Susantya, Drs. Nyoman Wiratmaja, M.Si., Agus Maha Usadha (Ketua NCPI Bali), I Gusti Ngurah Rai Suryawijaya (Ketua PHRI Badung), JM Made Sulasa Jaya dan Dr. IGA Alit Sosiawati, M.Si.

Pemerakarsa atau Inisiator, I Ketut Ngastawa menegaskan 93 tahun Prof. Bagus sebagai upaya memaknai orang-orang penuh makna. Ditengah kegalauan situasi, baik Nasional maupun Domestik, Ketut Ngastawa teringat perjuangan Prof. Bagus sebagai satu-satunya Guru Besar yang bisa diajak kesana kesini. Selebihnya, dengan segala formalitas dan keterikatan sekaligus ketakutan kurang berkenan.

Meski demikian, Ketut Ngastawa mengenal Prof. Bagus lewat Ibu Gedong Bagus Oka, sejak tahun 1983.

“Kami diajak ke FS 2 dan Beliau tinggal di FS 5, jadi berdekatan lokasinya di PB Soedirman, Denpasar,” kata Ketut Ngastawa.

Sementara itu, Nyoman Baskara menyebutkan De Koh Ngomong jejak kritis 93 tahun Prof. Bagus sebagai sebuah tagline yang sangat relevan dalam situasi kekinian.

Dalam pengamatan Nyoman Baskara, hampir sebagian besar masyarakat Bali sudah Koh Ngomong.

Karena demikian banyaknya aksi-aksi brutal dan ugal-ugalan yang dilakukan elit politik tanpa pernah mempertimbangkan “abai” terhadap berbagai isu, ide dan kritik yang demikian konstruktif.

“Tapi, faktanya diabaikan, terlebih-lebih belakangan ini kita dipertontonkan oleh sebuah pesta korupsi yang luar biasa di berbagai lini,” ujarnya.

Untuk itu, Nyoman Baskara mengakui sejujurnya memilih apatis, yang lebih baik berinteraksi dengan para memedi di pohon bambu.

“Itu seperti habis energi, untuk berbuat apa dengan kebebalan yang ada dengan elit kita pada hari ini. Tidak saja di Bali, tapi juga di Indonesia. Nah, berbahagialah hari ini masih ada seorang Ngastawa dan Keluarga Besar Prof. Bagus yang hari ini hadir serta para tokoh yang menghidupkan kembali semangat untuk tidak Koh Ngomong/ Bicara,” kata Nyoman Baskara.

Menurutnya, apapun dalam situasi kritis yang disebabkan oleh kebebalan ini tampaknya memang harus berisik, sebab jika tidak berisik, maka mereka akan menganggap seperti anjing menggonggong kafilah berlalu.

“Sepertinya itu terjadi hari ini. Lu ngomong apa saja, gue tidak peduli. Faktanya itu sudah terjadi. Apalagi kita diam tidak menggonggong kritisi apa nanti yang terjadi dengan Republik ini,” ucapnya.

Untuk itu, De Koh Ngomong diangkat kembali sebagai gerakan Powerfull setidak-tidaknya untuk bisa mengkoreksi dan mengkritisi untuk memberikan suatu ide-ide yang konstruktif bagi masa depan Bali, khususnya dan Indonesia pada umumnya.

Pada kesempatan tersebut, Prof. Putu Suasta dan Prof.Dr. I Gede Mudana, M.Si., sebagai penyampai pemikiran yang mengulas dedikasi Prof. Bagus dalam menjaga budaya Bali yang dijiwai nilai-nilai Hindu.

Prof. Putu Suasta

menyampaikan pandangan mengenai kiprah Prof. Bagus, sekaligus mengajak masyarakat memahami nilai perjuangan yang telah diwariskan dalam menjaga identitas dan kebudayaan Bali.

Prof. Putu Suasta mengakui Prof. Bagus sebagai sesuatu fenomenal, yang awalnya bertemu di Yogyakarta, dalam suasana pergaulan bersama Prof. Suroso, Kuncaraningrat, Soemantri hingga Umar Kayam. Pada saat seminar besar, Prof. Bagus dipercaya sebagai Keynote Speaker bermental aktivis.

Sejak zaman dahulu, Prof. Putu Suasta sudah memiliki posisi tawar dengan Prof. Bagus. Tidak saja dibangun di depan para pejabat, tapi juga dibangun didepan Prof.Bagus.

Dengan posisi tawar sedemikian rupa, Prof. Putu Suasta justru mendorong aktualisasi potensi sesungguhnya dari seorang Prof. Bagus.

“Jadi, itu tidak meagung-agungkan orang semacam Prof. Bagus, tapi bagaimana memberikan suatu pandangan sekaligus suatu tantangan,” jelasnya.

Menariknya, Prof. Putu Suasta juga menulis Baliologi, Kebudayaan dan Ilmu Pengetahuan (Mencari Pola Orientasi dan Pijakan Ilmiah) pada tahun 1984-1985 yang dibuka dan diresmikan oleh Kepala Balitbang Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI, Prof. Dr. Arsa Wardana Bachtiar di Art Center, Denpasar.

Namun, sebelumnya, Prof. Bagus sempat menyampaikan agar acara diskusi berjalan penuh semangat mengundang tokoh muda progresif, Putu Suasta.

“Itu diakui Prof. Bagus, bahwa tanpa kehadiran Putu Suasta nyaris tanpa makna, karena sehebat apapun materi jika tidak ada yang menggedor itu mustahil, termasuk pertemuan di Tanjung Bungkak,”paparnya.

Pada kesempatan yang sama, Prof.Dr.I Gede Mudana, M.Si., selaku Guru Besar Program Doktor Bisnis Pariwisata Politekpar Negeri Bali menegaskan De Koh Ngomong jangan diartikan sebagai takut bicara, dalam pengertian denotatif.

Namun, De Koh Ngomong memiliki dimensi sebagai perjuangan sekaligus perlawanan tidak hanya diluar kampus, tapi juga didalam kampus itu sendiri.

“Jika di Bali ada konsep Tri Kaya Parisudha, yakni Kayika, Wacika dan Manacika. Jadi, bukan Wacika saja, tapi juga Kayika,” kata Prof.Gede Mudana.

Menurutnya, De Koh Ngomong sebenarnya pengertiannya jangan takut melawan, dengan situasi yang ada diluar kehidupan akademiknya.

Prof. Gede Mudana mencontohkan Bali banyak digempur oleh modernisme pariwisata, sejak tahun 1985, saat Orde Baru digaungkan Tri Foulding, yakni Politik, Ekonomi dan Budaya maksudnya Negara, Swasta dan Masyarakat Sipil itu tidak imbang.

Pada saat itu, Negara bersekongkol dengan Swasta untuk mengalahkan Warga Sipil.

“Sipil ini di-kongkalikong antara Penguasa dan Pengusaha yang kita lihat dalam berbagai gejolak tahun 1990-an, seperti Bali Nirwana Resort (BNR), Serangan, Selasih, Bali Pecatu Graha dan sebagainya,” kata Prof. Gede Mudana.

Pada saat itu, Prof. Bagus berpikir bahwa perlawanan dilakukan terhadap De Koh Ngomong, sehingga harus berani melawan tidak sekedar ngomong dalam pengertian bicara, tapi juga betul-betul melawan.Dalam arti mengkritisi dan mengkoreksi jika ada kebijakan-kebijakan yang dianggap nyeleneh.

Bahkan, Prof. Gede Mudana memberikan catatan penting dalam konteks berkesenian menurut kupasan Prof. Bagus cenderung di zaman itu terjadi ISINISASI artinya penstandaran seni versi ISI. Padahal, pihaknya mengetahui seni adalah sesuatu yang universal.

“Nah, warisan hari ini yang kita nikmati dalam pagelaran-pagelaran yang diadakan di Art Center Denpasar cenderung warna ISINISASI ini masih sangat kental. Ada sebuah pemiskinan eksplorasi seni kalau menurut kacamata saya,” terangnya.

Ketika menyimak karya-karya seni yang saat ini lomba ISINISASI demikian kuatnya memang cenderung terjadinya pemiskinan karya seni.

“Ada rasa tidak berani seorang seniman untuk melakukan eksplorasi pada bidang yang sesungguhnya ada keunikan dan kemurnian tersendiri,” tambahnya.

Tak hanya di tingkat lokal, ketokohan Prof. Bagus juga bergaung di tingkat global sebagai Begawan Kebudayaan Bali.

“Itu sumbangan keilmuan Prof. Bagus terhadap Bali, Indonesia dan dunia demikian besar,” ujarnya.

Lebih lanjut, Prof.Gede Mudana melihat perjalanan Prof.Bagus melakukan perlawanan di kampus.

“Terkait konteks Universitas Udayana saat itu, Rektor bangun tembok Beliau sangat marah, sebaiknya mengembangkan pengetahuan daripada tembok fisik,” tegasnya.

Disisi lain, Prof. Bagus berjasa dalam pembangunan pendidikan tinggi di Bali, seperti S3 Kajian Budaya dan S3 Pariwisata.

Selain itu, Prof. Gede Mudana menceritakan perjumpaan dengan Prof. Bagus, saat menjadi mahasiswa S2 di Kajian Budaya Universitas Udayana tahun 1997. Pada saat itu, Prof. Bagus tertarik dengan wacana-wacana pariwisata, saat dirinya sebagai dosen pariwisata.

“Tapi ketika saya menjadi mahasiswa belum begitu intens. Nah, pada tahun 1999, saya anggap Prof. Bagus sebagai Bapak Ideologis Intelektual mungkin salah satu Anak Emas atau Murid Ideologis. Namun, bukan hanya saya saja, tapi masih ada Prof. I Nengah Duwija sebagai sparring partner yang paling sering mendampingi Beliau. Kalau pak Prof. Duwija bergerak dalam bidang agama, seni, budaya dan sebagainya, tapi saya lebih kontemporer modern,” kata Prof. Gede Mudana.

Sejak tahun 1999, Prof. Gede Mudana mengakui intens belajar dengan Prof. Bagus dalam segala bidang. Jika ditelusuri, Prof. Bagus itu sendiri sangat piawai dalam bidang ilmunya sendiri, yaitu budaya dan menguasai sastra, terutama sastra Bali serta hal-hal lainnya terkait pariwisata.

“Kalau kita bicara kebudayaan itu termasuk didalamnya budaya agama, budaya seni, budaya tradisi dan sebagainya,” kata Prof.Gede Mudana.

Lebih lanjut, Prof. Gede Mudana mengakui Prof. Bagus sebagai insan intelektual yang sangat kompleks.

Lanjutnya, Prof. Bagus berjuang dari sisi dua hal, yakni intelektual organik. Disisi lain, Prof. Bagus sebagai intelektual tradisional, karena akademisi dan dosen, yang diluar akademisi tetap berkomitmen komitmen berjuang untuk budaya Bali.

“Dengan demikian pengetahuan bagi Beliau bukan sesuatu yang berada di Menara Gading, tapi Beliau mengkontektual dalam kehidupan nyata sehari-hari. Jadi, apa yang dialami oleh masyarakat, Beliau perjuangkan,” tandasnya.

Melalui refleksi 93 tahun perjalanan hidupnya, Prof. Bagus dikenang sebagai tokoh yang tidak hanya memberikan gagasan, tetapi juga menghadirkan keberanian intelektual dalam menyikapi perubahan zaman.

“Pemikiran dan perjuangannya menjadi bagian dari catatan penting perjalanan Bali, khususnya dalam mempertahankan nilai budaya dan kearifan lokal ditengah perkembangan modernitas,” pungkasnya.(hd)

About The Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *