Yo Sugianto

Kursi “Seksi” Sekjen PSSI

IndependensI.com – Kursi Sekjen PSSI mendadak jadi menarik dan seksi, setelah membuka lowongan terbuka bagi siapapun untuk menjadi Sekjen. Sebanyak 30 orang mendaftar, dan dari jumlah itu 8 orang mengundurkan diri. Sisanya 22 orang mengikuti uji kelayakan (fit and proper test ) yang menyisakan 5 kandidat, lalu mengerucut tinggal 3 orang saja. Siapa yang akan terpilih, saat tulisan ini dibuat belum diumumkan oleh PSSI.

Kekosongan kursi Sekjen itu berawal dari “pengunduran diri” Ade Wellington per 10 April 2017, tepat 5 bulan setelah terpilihnya kepengurusan PSSI dengan Ketua Umum Edy Rahmayadi, didampingi Joko Driyono dan Iwan Budianto sebagai Wakil Ketua Umum. “Pengunduran diri” ‘itu disampaikan sendiri oleh Edy Rahmayadi, yang sambil bercanda mengatakan mungkin jadi Sekjen itu berat.

Tentu saja alasan itu terasa kental diplomatisnya. Apalagi jika dikaitkan dengan pernyataan Edy Rahmayadi dua hari kemudian (12/4/2017) di Makassar, bahwa kriteria pertama Sekjen itu harus bisa komunikasi dengan semua pihak, salah satunya dengan wartawan. “Kalau tidak bisa komunikasi dengan wartawan malah Ketum yang bingung nanti,” ujarnya.

Kriteria dari Ketua Umum PSSI tentang kemampuan berkomunikasi dengan wartawan terbilang baru juga untuk persyaratan Sekjen PSSI. Selama ini yang diketahui masyarakat Sekjen itu profesional yang dipilih oleh Ketua Umum dan diputuskan dalam rapat Komite Eksekutif (Komek) PSSI.

Seperti pernah dijelaskan oleh Plt Sekjen, Joko Driyono bahwa Statuta menyatakan bahwa Sekjen itu dinominasikan oleh ketua umum dan disetujui oleh Exco. Jadi, posisi Exco tidak dalam posisi proaktif untuk mendominasi dalam hal apapun dan itu menjadi kewenangan tunggal ketua umum untuk menominasikan siapa penggantinya Sekjen.

Meski tidak diberitakan secara luas, tapi beberapa media online menyatakan kurang bagusnya komunikasi antara Sekjen PSSI Ade Wellington dengan pers. Bahkan Pengurus Pusat Seksi Persatuan Wartawan Olahraga (SIWO) PWI Pusat melalui Sekretaris Jenderal, Firmansyah Gindo di awal Desember 2016 meminta Ketua Umum PSSI, Edy Rahmaydi untuk segera mengganti Sekjen Ade Wellington.

Pernyataan pengurus SIWO itu muncul setelah menerima keluhan dari beberapa wartawan media nasional yang kesulitan menghubungi Ade Wellington untuk melakukan wawancara via telepon. Padahal, saat ini wartawan olahraga terutama peliput kegiatan sepak bola tengah disibukkan dengan agenda kongres tahunan PSSI yang akan dihelat di Hotel Aryaduta, Bandung, 8 Januari mendatang.

Hal itu menarik, rasanya baru pertama kalinya pers menyatakan ketidakpuasannya terhadap Sekjen akibat sulit dihubungi. Pada sisi lain, hambatan akses mendapatkan informasi oleh pers itu juga menimbulkan pertanyaan tersendiri : dimana Komite Media PSSI?. Bukankah komite itu bertanggungjawab terhadap semua kegiatan yang dilakukan oleh PSSI yang berkaitan dengan Media?.

Jika PSSI memang berbenah, Komite Media pun perlu dipertajam lagi agar lebih menggeliat menangani hubungan organisasi itu dengan pers. Jika hanya terlihat keaktifannya pada edaran press release saja, komite itu tak perlu dipimpin oleh level anggota Exco.

Kita lihat saja misalnya pada peminat jabatan Sekjen yang mencapai 30 orang. Tak banyak yang dikenal dari para pendaftar itu, hanya beberapa saja yang disebut seperti Ratu Tisha yang paling banyak diberitakan. Semestinya profil yang lain pun juga diberikan oleh Komite Media untuk bahan pemberitaan pers. Begitu juga ketika calon Sekjen mengerucut menjadi 3 orang.

Kesungguhan
Terobosan PSSI dalam mencari Sekjen, dengan membuka pendaftaran dari 9-20 Mei 2017, perlu disikapi dengan serius oleh PSSI sendiri, dalam arti mereka benar-benar melakukan seleksi secara adil, tanpa keberpihakan.

Santer terdengar adanya calon kuat dari pelamar yang ada, sehingga sempat mengundang kecurigaan mantan anggota Komek PSSI, Toni Apriliani yang menduga sudah ada calon yang disiapkan sebagai Sekjen. Menurut Toni, juga Edy Sofyan yang turut mendaftar jadi calon Sekjen, adanya calon yang disiapkan itu menjadikan proses seleksi hanya formalitas belaka.

Terlepas dari kecurigaan seperti itu, PSSI sendiri harus belajar juga tentang pentingnya informasi yang lengkap dalam memberikan pengumuman terkait lowongan Sekjen itu. Menurut berita di media, rilis yang diterima pada 8 Mei 2017 hanya menyebut batas waktu pendaftaran 9-20 Mei 2017, peserta mengirimkan curiculum vitae dan mengikuti uji kelayakan pada 21-25 Mei 2017. Persyaratan lain yang menyangkut kemampuan calon Sekjen justeru disampaikan sendiri oleh Ketua Umum PSSI secara terpisah.

Meskipun demikian, langkah PSSI melakukan uji kelayakan bagi calon Sekjen itu merupakan langkah yang perlu diapresiasi. Suatu cara rekruiting baru, terobosan kontekstual dan realistik untuk keluar dari kekosongan posisi yang strategis dalam suatu organisasi.

Saat ini terdapat 3 nama yang akan dipilih sebagai Sekjen PSSI, yakni Ratu Tisha Destria, Alief Syachviar, dan T Alvin Apriantom, yang kepastian siapa yang menggantikan Ade Wellington akan diumumkan setelah Idul Fitri. Ketiganya merupakan orang muda, merupakan darah baru yang dibutuhkan oleh PSSI.
Siapapun yang terpilih harus menunjukkan kelayakannya memiliki kapabilitas sebagai Sekjen. Bertindak profesional sehingga mampu menepis suara miring tentang adanya rekayasa atau kedekatan dengan pengurus PSSI.

Semisal Ratu Tisha terpilih, itu karena dia memiliki visi (dan kemampuan) yang sama dengan kepengurusan PSSI. Tak sekedar menorehkan sejarah sebagai Sekjen PSSI pertama dalam sejarah organisasi itu, seperti halnya Sekjen FIFA saat ini.

Sekjen, sejatinya bukanlah penentu atau pengambil kebijakan, karena peran sentralnya dalam fungsi bisnis, komunikasi, legal dan administrasi. Selain tentunya harus faham terhadap tren pengembangan global sepakbola dan kompeten dalam manajerial antar unit, yang memastikan semua program PSSI bisa berjalan lancar.

Di situlah tantangan yang menghadang seorang Sekjen PSSI. Tantangan yang juga dihadapi oleh PSSI untuk mendapatkan sosok Sekjen yang sesuai dengan harapan pemangku jabatan sepakbola. Jika itu terwujud maka terobosan dari PSSI bukan sekedar meningkatkan pencitraan organisasi semata, tapi benar-benar implementasi dari perubahan diri yang lebih baik. (Yo Sugianto)

Penulis adalah pemerhati sepakbola, saat ini bermukim di Jogjakarta.