Margot Mariani (kanan) bersama Dientje. (Toto Prawoto)

Empati Seorang Margot Mariani

JAKARTA (IndependensI.com) – Ketua Umum Happy Swing Golf ini panggilan akrabnya Margo. Karena setiap kali dia ikut turnamen golf di depan namanya tidak ada sebutan kata seperti “Ibu”, “Nyonya” dan atau “Nona”, maka MC yang memandu acara turnamen, dari charity sampai turnamen resmi yang disanctioned oleh PB PGI – khususnya MC yang baru untuk pertama kalinya memandu acara golf – selalu menyebut: “Pemenang pertama gross dimenangkan oleh Bapak Margo…”

Untuk beberapa saat hadirin yang mengikuti acara pembagian hadiah, terdiam sejenak. Dalam hati mereka takut kalau yang benar menjadi juara pertama gross benar-benar “Bapak Margo”. Tapi, setelah ditunggu-tunggu nama yang dipanggil oleh MC tersebut tidak juga bangkit dari tempat duduknya, bersamaan dengan itu pula audience segera berseru: “Mbak MC bukan Bapak Margo pemenangnya. Tapi ibu… Ibu Margo…!!”

Segera setelah itu, MC memanggil kembali sekaligus meralat ucapannya. “Dipersilakan kepada yang terhormat Ibu Margo untuk naik panggung menerima hadiah sebagai juara pertama gross yang akan diserahkan oleh Ketua Panitia…”

Jangankan MC yang baru pertama kali, MC yang selalu menjadi langganan untuk memandu acara turnamen golf, baik event charity maupun event prestasi, pun harus konfirmasi ulang kepada panitia agar ketika ada nama Margo tertulis di deretan pemain yang akan mendapat piala, MC bersangkutan tidak salah dalam hal menyebut “status” di depan nama Ketua Umum Happy Swing Golf tersebut.

Dan, anehnya, ladies golfer yang menggeluti golf sejak enam belas tahun lalu ini, jangankan komplain ketika orang salah menyebut “status” di depan namanya, marah pun tidak pernah. Dia “cuek bebek” dan memaklumi bahwa ke-”salah”-an tersebut adalah manusiawi…

Di lingkungan komunitas golf di Tanah Air – baik man maupun ladies golfer – dikenal lebih suka bermain gross daripada nett. Tak hanya sebatas charity dan/atau monthly medal yang dia ikuti, event prestasi yang dihelat oleh pengprov, pengkab/pengkot sampai ke event resmi PB PGI pun dia ikuti. Bahkan, pada era PGPI (yang sekarang berganti nama menjadi Indonesian PGA) dipimpin oleh Japto Soerjosoemarno menggelar event seleksi untuk pegolf profesional, Margo pun ikut berpartisipasi. Uniknya, skor yang dia bukukan jauh lebih baik dari skor yang dicetak oleh kompetitornya yang nota bene pegolf putra.

Margot Mariani

Selain itu, dia pun pernah ikut seleksi PON, dengan hasil yang tidak terlalu mengecewakan. Meskipun pada akhirnya dia tidak menjadi pro ladies dan/atau tampil di Pekan Olahraga Nasional (karena menurut dia ada faktor non teknis yang tidak untuk dijadikan sebagai konsumsi publik, dan hanya untuk dirinya sendiri) kehadirannya di arena kompetisi golf di dalam negeri yang merujuk pada prestasi – diakui atau tidak – sangat fenomenal.

Ketua Umum Happy Swing Golf ini sempat berhenti total bermain golf gara-gara sakit yang dideritanya beberapa tahun yang lalu. Namun, setelah sakitnya sembuh, dia kembali menekuni olahraga yang digelutinya sejak 2001 tersebut.

Dalam perbincangan dengan independensi.com beberapa hari lalu setelah dia selesai mengikuti lomba keterampilan chipping dan putting serta memukul bola golf ke dalam keranjang bola basket di driving range yang berlokasi di Halim Perdanakusuma, Ketua Umum Happy Swing Golf ini mengaku bahwa kemampuan permainan golfnya masih belum kembali normal seperti sediakala.

Untuk memulihkan kemampuan permainannya, dia mulai aktif kembali mengikuti turnamen, selain tentu saja dia juga secara berkesinambungan berlatih bersama ladies golfer lainnya yang tercatat sebagai anggota Happy Swing Golf.

Bahkan pada Ladies Amateur Open 2017 yang berlangsung di Gading Serpong Golf Club beberapa bulan lalu, yang merupakan annual event di bawah jurisprudensi PB PGI, dia juga ikut ambil bagian.

Dalam event yang sangat prestisius bagi ladies golfer tersebut, Margo berada dalam satu group dengan pegolf junior.

Bagi dia hal tersebut adalah biasa. Jangankan berada dalam satu group atau satu pairing dengan pegolf junior – kebetulan event yang diikutinya adalah event khusus bagi para ladies golfer – berada dalam grup dengan pegolf putra pun bagi dia bukan sesuatu yang aneh meski mukul bolanya dari tee box yang berbeda.

Bahkan, andaikata start dari tee box yang sama pun, dia senantiasa siap sedia karena dia memang dikenal sebagai long hitter ladies golfer!

Tapi bukan berarti tidak ada masalah.Setidaknya saat dia berkompetisi di ajang Ladies Amateur Open 2017 yang beberapa waktu lalu berlangsung di Gading Serpong Golf Club.

Pesaing dia yang nota bene adalah pegolf junior yang masih berusia belasan tahun, sempat keteter permainannya karena pukulannya kalah jauh dengan Margo.

“Aduhhh… aku lupa siapa namanya pegolf junior itu,” ujarnya sambil mencoba mengingat-ingat dengan beberapa kali mengusap kepalanya.”Pokoknya di sembilan hole pertama… antara lima sampai tujuh hole, aku unggul beberapa stroke.”

Sedangkan pegolf junior tersebut, tertinggal jauh karena pukulannya kalah jauh dengan pukulan Margo.”Udah gitu… Bapaknya selalu memarahi anak itu… Yaaa tambah panik dia.”

“Ujung-ujungnya aku jadi kasihan sama dia… Padahal, dari pengamatanku, dia memiliki bakat yang besar… Bagaimana aku nggak kasihan sama anak itu?! Sudah kena pressure, diomelin terus sama Bapaknya.”

“Akhirnya aku bilang sama anak itu… kamu jangan terpengaruh sama pukulan tante … Kamu belum lahir, tante sudah main golf. Ibaratnya kamu itu makannya kadal, tante makannya buaya ha ha ha,” kenang Margo sambil terbahak.

“Bagaimana reaksi anak itu?” tanya IndependensI.com.

“Anak itu tertawa,” sahut Margo, cepat. “Aku juga bilang sama anak itu… Kamu kalau ikut turnamen jangan terpengaruh permainan rekan sepermainan kamu… Mau jauh kek, deket kek… Kamu cuek aja… Iya tante, iya tante… Jawab anak itu,” tambah Ketua Umum Happy Swing Golf ini dengan nada tak ubahnya seperti seorang pembina golf.

“Kepada Bapaknya aku juga bilang… Kalau anaknya melakukan kesalahan, jangan dimarahin dan dibentak-bentak… Bapak tahu? Anak Bapak itu dari yang saya lihat dia punya bakat sebagai pegolf…”

“Lalu apa yang terjadi setelah itu?” desak IndependensI.com.

“Setelah itu… permainanku hancur lebur… Bayangkan, sebelumnya aku leading tujuh stroke… Begitu sampai di hole 14, anak itu yang leading,” sahutnya sambil tersenyum kecut. “Dan… begitu permainan selesai, Bapaknya anak itu menyalami aku sambil bilang… Terima kasih… terima kasih berkat bimbingan ibu, anak saya semakin tinggi kepercayaan dirinya…”

Margo kemudian mengaku secara terus terang kepada independensi.com bahwa dia memang cepat sekali merasa iba apabila melihat orang lain menderita. “Ini kelemahan gue,” tukasnya dengan logat Betawi yang sangat kental.

Maka dari itu ketika ada seorang pengamat olahraga golf yang menyatakan bahwa Ketua Happy Swing Golf ini lebih cocok menjadi pembina, rasanya tidak terlalu mengada-ada. Faktalah yang berbicara.

Dan, pada kenyataannya memang begitu. Disadari atau tidak, sikap empaty yang sangat diperlukan oleh para atlet golf kita tersebut, kian menipis. Bahkah, diakui atau tidak, banyak oknum pembina yang memanfaatkan keberadaan para atlet golf untuk kepentingan pribadi mereka masing-masing. (Toto Prawoto)