Harry Tjahjono saat menyampaikan sambutan jelang diresmikannya Monumen Gembok Kejujuran di Madiun beberapa waktu lalu. (Dokumentasi)

Membangun Kejujuran Tak Sebatas Mendirikan Monumen

JAKARTA (IndependensI.com) –  Segala sesuatu yang sudah kita bangun tidak akan memberikan makna yang berarti tanpa ada kelanjutannya.

Itulah pernyataan singkat yang disampaikan Harry Tjahjono kepada IndependensI.com terkait akan diselenggarakannya lomba nyanyi bertema “Aku Senang Bisa Jujur”.

Lomba akan digelar di Monumen Gembok Kejujuran yang baru-baru ini diresmikan oleh Wakil Wali Kota Madiun, Sugeng Rismiyanto, 27 Agustus 2017.

Para peserta yang akan mengikuti lomba tersebut adalah anak-anak usia 5-9 tahun. Kenapa anak yang “disasar”, karena anak-anak, sesuai dengan kodratnya, belum “terkontaminasi” atau tercemar oleh “virus korupsi” yang merusak sendi-sendi berbangsa dan bernegara.

Anak-anak memasang gembok di Monumen Gembok Kejujuran di Madiun.

Oleh karena itulah maka komunitas yang tergabung dalam Jaringan Pekerja Budaya Madiun dalam mengajak serta anak-anak untuk mencegah “virus korusi”, yang menumpulkan logika berfikir serta etika tersebut, memilih senandung lagu yang disesuaikan dengan daya nalar anak-anak itu sendiri.

Yang menarik lagu yang akan dinyanyikan oleh para peserta lomba nanti diciptakan oleh Harry Krisna Triastantya (dari komunitas Jaringan Pekerja Budaya Madiun) dan Harry Tjahjono – salah seorang penggagas berdirinya Monumen Gembok Kejujuran tersebut.

Lomba nyanyi tersebut berhadiah sepeda yang berasal dari para donatur. “Saya berencana mempersiapkan 72 buah sepeda. Tapi sampai saat ini baru terkumpul 19 buah,” ujar Harry Tjahjono seraya menyebut nama orang atau tokoh yang telah berkenan menjadi donasi berupa sepeda di antaranya Arswendo Atmowiloto, Andrinof Chaniago dan lain-lain. “Selain mendapat hadiah seluruh peserta juga nantinya akan memporoleh piagam,” tambahnya.

Anak-anak dari sebuah TK di Madiun saat berkunjung ke Monumen Gembok Kejujuran.

Selain hadiah sepeda Jaringan Pekerja Budaya Madiun juga telah mendapat donasi kupon jajan senilai lima ribu rupiah sebanyak duaratus lembar. Pada hari “H”-nya kupon jajan tersebut akan diberikan kepada para penonton.

“Agar para pedagang yang biasa berjualan di lapangan tempat monumen gembok kejujuran berdiri juga mendapat rezeki dari kegiatan lomba nyanyi tersebut,” tukas seniman all round yang oleh rekan-rekannya di Bulungan, Jakarta Selatan, mendapat julukan/panggilan akrab HartjahMediun itu, untuk membedakannya dengan “harry-harry” yang lain.

Lebih jauh HartjahMediun yang satu ini mengungkapkan bahwa pihaknya pun akhir pekan ini akan menuju Purwokerto, Jawa Tengah, untuk memenuhi undangan dari komunitas gerakan anti korupsi di kota “kripik” tersebut yang juga berencana akan mendirikan Monumen Gembok Kejujuran seperti yang ada di Madiun. (Toto Prawoto)

One comment

Comments are closed.