Pemimpin Wajib Memahami Filosofi Pancasila

YOGYAKARTA (IndependensI.com) – Pemimpin harus memahami filosofi Pancasila sebagai ideologi bangsa dan negara sehingga membawa semangat dan perilaku dalam menjalankan pemerintahan. Negara ini dibentuk berdasarkan berbagai perbedaan, sehingga kalau dikelola dengan baik akan menjadi sebuah kekuatan yang dahsyat bagi kemajuan bangsa dan kesejahteraan rakyat.

“Dalam menjalankan pemerintahan, para pemimpin harus berlandaskan ideologi Pancasila. Jiwa Pancasila harus bersemayam di dada para pemimpin,” kata anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia, Idham  Samawi pada diskusi bertema “Kebangsaan Dalam Memperkokoh Toleransi” di Yogyakarta, Selasa (26/9/2017).

Menurut dia, para pemimpin di berbagai tingkatan harus mengetahui bahwa negara ini dibentuk berdasarkan berbagai perbedaan, baik suku, agama, etnis maupun golongan. Dari situ, imajinasi kebhinnekaan menjadi bagian penting dalam persatuan dan kesatuan bangsa.

“Bhinneka Tunggal Ika adalah upaya pendiri bangsa untuk menyepakati dan berkonsensus bersama dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI),” kata anggota DPR RI dari Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) itu.

Meskipun demikian, kata dia, ada pihak tertentu yang tidak rela Indonesia menjadi negara yang besar dan kuat. Upaya yang dilakukan untuk memperlemah bangsa adalah dengan melemahkan ideologinya.

“Jika ingin mencengkeram sebuah bangsa dalam ‘penjajahan’, maka habisi dulu ideologinya. Caranya dengan memutus mata rantai sejarah atas ideologi tersebut,” kata mantan bupati Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) itu.

Hal itu, menurut Idham, yang menjadi fatsun para penjajah. Dengan memutus dulu sejarahnya, maka generasi berikutnya tidak mengetahui lagi mata rantai kesinambungan ideologi.

Ia mengatakan, saat ini fenomena menguatnya gerakan yang akan mendegradasi ideologi bangsa mulai terasa. Oleh karena itu, saatnya bangsa ini kembali ke jati dirinya.

“Ideologi bangsa Indonesia yakni Pancasila hendaknya tetap tertanam di dada para anak bangsa dan melandasi kehidupan berbangsa dan bernegara dalam NKRI,” kata Idham. (antara)