Selamat Datang Gubernur, Damai Itu Indah

IndependensI.com – Selamat datang Gubernur dan Wakil Gubernur KDKI yang baru, Anies Baswedan dan Sandiaga Uno dan selamat jalan Gubernur Darot Saiful Hidayat dan tentunya Joko Widodo dan Basuki Tjahaya Purnama (Ahok), ketiganya menjabat pada periode 2012-2017.

Gubernur dan Wakil Gubernur itu adalah pemimpin bagi semua warga yang sah di suatu propinsi serta bertanggung jawab penuh untuk seluruh warganya, tidak ada yang dikecualikan, lahir bathin. Tanggung jawab, fungsi, tugas dan kewajiban Gubernur dan Wakil Gubernur itu tersirat dan tersurat dalam sumpah jabatannya.

Sehingga sebagai warga yang sadar dan taat hukum serta faham makna demokrasi wajib mendukung suatu pemerintahan yang sah, tidak ada kecuali pemilih atau tidak memilih, selama lima tahun harus diakui bahwa mandat telah diberikan kepada pasangan yang terpilih.

Kegaduhan dengan segala kehiruk-pikukan sejak pencalonan pemilihan putaran kedua telah melelahkan penduduk Jakarta dan sebagai ibukota negara juga berimbas ke daerah-daerah lain.

Tetapi karena kasih Tuhan Yang Maha Esa, bangsa Indonesia dengan mudah merajut persaudaraan dan sedikit-demi sedikit kita kembali hidup dalam damai, dan memang benar-benar Damai Itu Indah.

Dalam kaitan itu ada baiknya para pemimpin bangsa ini dalam menghadapi persoalan, hendaknya masalah besar dengan cepat diperkecil dan masalah kecil ditiadakan. Kalau tidak bisa menenteramkan suasana jangan “mengompori”.

Kepada setiap putra-putri bangsa yang duduk di berbagai posisi di lembaga strategis, lembaga negara, pemerintahan, organisasi keagamaan, kemasyarakatan apalagi di partai politik agar selalu terukur dalam bertindak dan berucap sesuai dengan sumpah, fungsi dan tanggung jawab masing-masing.

Jabatan dan kedudukan terhormat yang dipercayakan kepada Bapak/Ibu adalah berkat sekaligus amanah dari sang Yang Maha Kuasa. Masyarakatpun harus menghormati dan menganggap bahwa perilaku pemangku jabatan/tanggung jawab itu suatu niat baik sehingga tidak mudah mengeritik apalagi menentang.

Menoleh ke belakang penduduk Jakarta pernah tersuguhi perasaan was-was dan sekarang kita kembali tenang dan semoga ketenangan itu tidak hanya sementara dan di permukaan melainkan hendaknya sampai ke hati sanubari setiap warga DKI sehingga benar-benar Damai Itu Indah, sebagai anak bangsa mari kita meningkatkan rasa saling asih, asah, asuh sehingga ketenteraman itu benar-benar meliputi batin.

Mengenai Pidato Gubernur KDKI Prof. Anies Baswedan yang menurut banyak pihak “tidak pada tempatnya” menggunakan istilah “pribumi” di saat kemerdekaan NKRI sudah 72 tahun, telah dijawab yang bersangkutan bahwa pidato itu dalam kaitannya dengan penjajahan Kolonial Belanda dan tidak menunjuk penggunaan kata tersebut di era sekarang. Karena Jakarta adalah kota yang paling merasakan penjajahan Belanda di Indonesia. Sebab penjajahan itu di Ibu kota.

Kita menerima penjelasan itu, seperti pepatah Batak “Jujur do mula ni bada, Bolus mula ni dame”, yang artinya kurang lebih, “mencari-cari kesalahan adalah awal dari pertengkaran, dan memaafkan (melewatkan) yang kurang baik akan terpeliharan kedamaian”.

Harus diyakini bahwa niat baik Sang Gubernur memajukan warga Jakarta terutama yang membutuhkannya, makna dari ungkapan itu akan tercermin dalam kesehariannya memimpin Jakarta.

Perlu disadari masyarakat Jakarta tentang janji-janji kampanye, bahwa keinginan tidak selalu sama dengan kenyataan, penonton apalagi pengamat jauh lebih pintar dari pemain, walaupun kadang-kadang untuk berdiri saja harus ditopang. Karena itu janganlah terlalu ngotot menuntut janji kampanye, mereka baru beberapa hari sementara masa baktinya lima tahun.

Anies harus dimaklumi sebagai gurubesar dan mantan menteri, baru pertama kali berhadapan dengan masalah riel hidup dan kehidupan warga masyarakat, berbeda jauh dengan kehidupan akademik-kampus yang serba terukur dan elit.

Sandiaga Uno bergelut sebagai pengusaha dengan pencarian peluang yang menguntungkan yang tinggal instruksi dan perintah, berbeda dengan membenahi kehidupan warga yang serba kekurangan sandang, pangan dan papan, pendidikan dan kesehatan.

Gurubesar dan pengusaha memang kerjanya mengajari dan memerintah kepada mahasiswa dan karyawan dengan tingkat intelektual yang tinggi, tidak demikian melayani masyarakat dengan segala keterbatasan dan tingkat kebutuhan. Untuk itu keduanya memerlukan waktu untuk menyesuaikan rencana yang ada dengan penerapannya di lapangan.

Harapan masyarakat tentunya, kehidupan di Ibu Kota tidak semakin sulit dan patok-patok yang sudah ada tidak dicabut, sehingga kebanggaan akan Jakarta tidak menurun. (Bch)