Gaganjeet Bullar yang berambisi mencetak hat-trick di Indonesia Open 2017. (Dokumentasi)

Selayang Pandang Indonesia Open

JAKARTA (IndependensI.com) – Dalam setiap kesempatan bersinggungan dengan publik golf yang peduli terhadap pembinaan dan peningkatan prestasi olahraga golf di dalam negeri, IndependensI.com sering menemui “hal yang aneh tapi nyata”.

Pasalnya, ketika di antara mereka ada yang menyebut nama Benny Kasiadi, yang terlintas dalam memori kolektif mereka, itu adalah nama seorang pro yang juga caddy dari Yani Golf Surabaya, Jawa Timur, yang pada 1989 menjadi juara Indonesia Open yang saat itu berlangsung di Jakarta Golf Club (JGC), Rawamangun, Jakarta Timur.

Haruskah asumsi yang keliru tersebut diralat? Tidak usah, kata beberapa pro yang satu angkatan dengan sang juara Indonesia Open 1989 tersebut, ketika diminta opininya oleh IndependensI.com.

Alasannya, karena Benyta Yuniarso Kasiadi, yang akrab dipanggil dengan sebutan Benny Kasiadi adalah salah seorang putra dari Kasiadi Senior – orang Indonesia pertama yang menjuarai turnamen Indonesia Open 1989!

Benny Kasiadi

Fakta dan data yang telah terkonfirmasi oleh Dian Mariyun, mantan Kepala Sekretariat PB PGI era Arifin Panigoro, yang saat ini menjabat Ketua Bidang Pertandingan Pengprov PGI Jawa Barat di bawah Pimpinan H Sirod Zudin, event Indonesia Open pertama kali diselenggarakan pada 1974 dan bertempat di Deli Golf Club, Medan, Sumatera.

Akan tetapi baru lima belas tahun kemudian – tepatnya pada 1989 – seorang caddy dari Yani Golf, Surabaya, Jawa Timur, bernama Kasiadi yang menyandang status sebagai pegolf profesional pada 1984, berhasil keluar sebagai juara Indonesia Open.

Skor yang dibukukan pun mengundang decak kagum para penggemar olahraga golf yang saat itu menyaksikan langsung di JGC Rawamangun, Jakarta Timur.

Selama empat hari, Cak Kas, sapaan akrab Kasiadi, membukukan skor 269 (68-68-67-66). Disusul oleh Frankie Minoza dari Filipina di posisi kedua, dan posisi ketiga diduduki oleh Krik Triplett.

Pada saat itu, skor yang dibukukan oleh Cak Kas, yang nota bene belajar golf secara otodidak, membuat para kompetitor yang datang dari manca negara, selain mereka terkejut mereka juga sangat respek dan mengapresiasi pencapaian yang ditorehkan oleh pro yang sehari-harinya bekerja sebagai caddy tersebut.

Akan tetapi, setelah memasuki dekade 1990 yang diwarnai dengan “booming” pembangunan lapangan golf di hampir penjuru nusantara, dan annual event Indonesia Open lebih sering digelar di lapangan golf yang berada di Jabodetabek dan sekitarnya, tidak ada seorang pun pro tuan rumah yang bisa memanfaatkan momentum tersebut.

Dan, berbicara masalah apresiasi, Cak Kas pun, sebagai juara Indonesia Open 1989, tetap dihargai keberadaannya oleh Asian Tour. Paling tidak, setiap event tersebut diselenggarakan di Indonesia, Cak Kas selalu diundang. Soal yang bersangkutan memenuhi undangan tersebut atau tidak, semuanya terserah kepada Cak Kas.

Yang jelas, sebagai legenda golf Indonesia, Cak Kas, dalam setiap kesempatan bertemu dengan IndependensI.com, mengungkapkan rasa syukurnya karena pihak lain masih mengakui keberadaannya, sementara dia juga bangga karena salah seorang putranya yakni Benyta Yuniarto mengikuti jejaknya sebagai pegolf profesional.

Pertanyaannya, mengapa setiap kali kita menggelar Indonesia Open – selepas tahun 1989 dan tahun-tahun berikutnya – juaranya selalu pegolf dari manca negara? Mengapa kita hanya menjadi penonton di negeri sendiri?

Untuk menjawab pertanyaan tersebut tidak semudah seperti kalau kita membalikkan telapak tangan.

George Gandranata

Yang jelas, salah seorang pro lokal, George Gandranata, saat dicegat usai menyelesaikan permainannya di ajang ADT – Combiphar Players Championship 2017 yang berlangsung di New Kuta Golf & Ocean View, Bali, pada 11-14 Oktober lalu, kepada IndependensI.com menyatakan akan tampil sebaik mungkin di ajang Indonesia Open 2017 yang akan berlangsung di Pondok Indah Golf Club pada 26-29 Oktober mendatang.

Danny Masrin

Dalam Ina Open tahun ini para “Young Gunners” yang aktif mengikuti event Indonesian Golf Tours (IGT) seperti George Gandranata, Danny Masrin, Rorie Hie, Ian Andrew, Benny Kasiadi, Joshua Andrew Wirawan dan lain-lain semuanya akan turun gelanggang persaingan untuk memperebutkan total hadiah sebesar US$300.000 yang disediakan dalam event tersebut.

Mungkinkah di antara para “Young Gunners” tersebut bakal ada yang dapat membendung ambisi pegolf India, Gaganjeet Bullar, mencetak hattrick di Indonesia Open 2017 ini?! Kita tunggu saja hasilnya. (Toto Prawoto)