Sejumlah orang berkumpul di pelataran First Baptist Church di Sutherland Springs, Texas, AS, menyusul serangan terhadap jemaat gereja itu, Minggu (5/11/2017). Mereka menyalakan lilin dan bernyanyi untuk mengenang para korban penembakan. (AFP)

Trump: Jangan Salahkan Senjata

JAKARTA (IndependensI.com) – Amerika berduka setelah seorang laki-laki memberondong sebuah gereja di Sutherland Springs, Texas, Minggu (5/11/2017). Serangan itu menewaskan 26 orang dan melukai 20 orang lainnya.

Peristiwa mengerikan itu terjadi tepat lima pekan setelah pembantaian di Las Vegas. Presiden AS Donald Trump mengatakan yang salah adalah manusia pemilik senjata, bukan senjata itu sendiri.

“Saya pikir kesehatan mental adalah masalahnya,” kata Trump yang tengah berada di Tokyo, Jepang, Senin (6/11/2017).

“Berdasarkan laporan pendahuluan, pelaku adalah orang sinting,” ujarnya.

Trump menyebut “penembakan mengerikan” itu sebagai “perbuatan iblis”. Dia memerintahkan pengibaran bendera setengah tiang di Gedung Putih dan gedung-gedung pemerintah.

“Hati kami terluka tapi dalam masa kelam seperti sekarang, orang Amerika selalu melakukan yang terbaik yaitu mempererat persatuan,” kata Trump.

Dia mengatakan sekarang “masih terlalu cepat” terkait usula perubahan undang-undang pengawasan senjata api. Namun Trump berjanji bahwa pemerintahannya “mendukung penuh” penyelidikan ke arah itu.

Laki-laki Bersenjata Serang Gereja, 26 Tewas

Korban Beragam

Korban berusia mulai dari lima hungga 72 tahun. Mereka tengah beribadah di First Baptist Church ketika pelaku melepas tembakan. Aparat keamanan tidak langsung menyebut identitas pelaku. Media massa setempat kemudian melaporkan bahwa pelaku adalah Devin P Kelley, mantan anggota Angkatan Udara AS yang baru saja dipecat dengan tidak hormat.

Pihak Angkatan Udara mengatakan bahwa Kelley berdinas di pangkalan di New Mexico mulai 2010 hingga diajukkan ke mahkamah militer pada 2012 atas tuduhan menyerang istri dan anaknya.

Kelley dihukum 12 bulan kurungan dan dipecat dari kesatuan. Juru bicara Angkatan Udara AS, Ann Stefanek, mengatakan Kelley dikeluarkan pada 2014.

Direktur regional Departemen Keselamatan Umum Texas, Freeman Martin, mengaatakan Kelley melancarkan serangan mulai dari luar gereja. Kelley kemudian masuk dan terus melepas tembakan ke arah jemaat.

Kelley ditemukan tewas di dalam mobilnya di perbatasan Wilson-Guadalupe setelah melarikan diri dari kejaran warga setempat. Belum jelas apakah dia bunuh diri atau ditembak mati orang-orang yang mengejarnya.

Aparat keamanan menemukan berbagai jenis senjata di mobil Kelley.

“Kami meriksa beberapa tempat kejadian perkara. Ada di gereja, di luar gereja. Kami juga memeriksa lokasi kendaraan pelaku ditemukan,” kata Martin.

“Kami masih menelusuri latar belakang pelaku dan tempat mana saja yang pernah dikunjunginya. Kami menugaskan Texas Rangers di rumah sakit untuk menemui dan menanyai para korban luka,” ujarnya.

“Begitu banyak orang yang kehilangan anggota keluarganya. Ayah, ibu, putra, dan putri,” kata Gubernur Texas Greg Abbott.

“Tragedi ini, tentu saja, semakin terlihat buruk dengan lokasi peristiwa yang terjadi di gereja, tempat beribadah, tempat orang-orang itu ditembaki. Kami ikut berduka bersama mereka yang kehilangan. Kami juga terus memberi dukungan untuk anggota keluarga mereka,” kata Abbott.

Salah satu korban tewas adalah seorang perempuan berusia 14 tahun yang merupakan putri pendeta Frank Pomeroy. Annabelle Renee Pomeroy “adalah anak yang amat cantik dan istimewa,” kata ayahnya.

Frank Pomeroy berada di negara bagian Oklahoma saat petaka itu terjadi. Dia langsung pulang ke Texas begitu mendengar kejadian ini.

Korban lain, bocah laki-laki berusia enam tahun bernama Rylan, masuk ruang operasi setelah kena empat tembakan. Seorang anak berusia dua tahun juga kena tembak dan terluka.

Juru bicara Connally Memorial Medical Center, yang terletak di Floresville, mengatakan rumah sakit itu menerima delapan pasien dengan luka tembak. Sebanyak empat di antaranya kemudian dirujuk ke San Antonio.