Ibu Bercerailah, Sebab Suamimu Bukan Suamimu

PEKANBARU (IndependensI.com) – Tepatnya hari ini Jumat 22 Desember 2017 Independensi.com menerima curahan hati seseorang, nama dan kejadian sengaja di rahasiakan demi privasi narasumber. Cerita ini adalah bukan fiktif, tetapi pengalaman hidup seseorang yang mencurahkan isi hatinya di hari Ibu. Dan semoga pembaca Independensi.com menjadi terinspirasi.

Pembaca yang budiman, maaf kalau saya berkata-kata emosional, dan maafkan saya kalau saya menulis agak relegius lewat iman yang aku percayai yaitu beragama Kristen. Ada pepatah mengatakan “Surga Ditelapak Kaki Ibu” mungkin pepatah ini tak asing kita dengar di santero jagat raya ini. Didalam pepatah itu banyak suatu arti dalam memaknainya. Terkadang kalau saya pikir, ada apa dibalik telapak kaki Ibu? Apakah ada sesuatu ditelapak kaki Ibu?

Aku teringat di dalam Alkitab yaitu Keluaran 20:22 “Hormtilah Ayah dan Ibumu supaya lanjut umurmu di tanah yang diberi Tuhan Allahmu kepadamu”. Kalau saya menyimak ayat itu, yang berarti suatu kepatuhan atau penghormatan kepada kedua orangtua yang tak boleh terbantahkan. Lalu yang menjadi pertanyaannya adalah bagaimana aku menghormati Ibuku yang tak terhormat?

Sejak aku diusia 3 tahun Ibuku bercerai dengan Ayahku. Adapun desas-desus percerain mereka karna Ibuku dituduh ayahku berselingkuh dengan pria yang jauh lebih tua dari Ayahku. Ayahku tidak terima ibuku berselingkuh hingga Ayahku membawanya kerumah Kakek ku, supaya Ibuku berubah.

Pembaca, Ibuku bukannya berubah, tetapi ibuku pergi meninggalkan aku seorang diri dikamar ketika aku masih berusia 3 tahun. Ibuku pergi entah kemana, aku akhirnya diasuh oleh Kakekku dan Nenekku. Panjangnya waktu berlalu, aku sudah remaja dan tahu membedakan apa yang baik dan mana yang buruk. Aku mulai bertanya-tanya Ayahku dimana dan Ibuku dimana. Kakek pun selalu berbohong kepadaku, katanya Ayahku sudah mati.

Suatu ketika aku mendengar kabar dari bisik-bisik Kakek dan Nenek ketika aku menguping, bahwa Ibuku ada di kota Medan tetapi lagi hamil alias suaminya tak jelas.

Aku menangis dan masuk ke dalam kamar, Tuhan ampunilah Ibuku kataku. Aku malu kepada temanku, aku malu pada diriku sendiri. Ketika tiba hari persalinannya, Ibuku melahirkan anak perempuan dirumah kakaknya Kakek ku, sebab tidak mungkin lagi dirumah Kakek ku, bisa menjadi malu pada sekampung.

Waktu berlalu, Ibuku saya dengar menikah lagi dengan pria kenalan barunya. Ironisnya, pendeta berani memberkati Ibuku dengan pacar barunya padahal Ibuku sudah pernah menikah. Jujur walau aku masih remaja aku sedikit mengerti Firman Allah yaitu tertulis dalam Alkitab.

Aku menyayangkan sakramen pemberkatan Ibuku yang seharusnya itu tidak boleh diberkati pendeta, sebab aku tahu dalam isi Alkitab dalam Roma 7: 2-3 “Sebab seorang istri terikat oleh hukum kepada suaminya selagi suaminya itu hidup. Akan tetapi apabila suaminya itu mati, bebaslah ia dari hukum yang mengikatnya kepada suaminya itu. Jadi selama suaminya hidup ia dianggap berzinah, kalau ia menjadi istri laki-laki lain; tetapi jika suaminya telah mati, ia bebas dari hukum, sehingga ia bukanlah berzinah, kalau ia menjadi istri laki-laki lain”.

Ayat itu telah menjerat Ibu dalam petaka, sebab Ayahku masih hidup dalam kesendiriannya. Aku tak terima Ibuku mempunyai anak yang tak jelas siapa Ayahnya dan aku tak terima Ibuku menikah.

Di hari Ibu ini aku berdoa kepada Ibuku, supaya Ibuku bercerai dengan suaminya sekarang dan harus kembali kepada ayah kandungku yaitu suaminya yang sah. Aku menolak suaminya sekarang dia bukan ayahku. Aku tidak mau Ibuku melahirkan anak-anak zinah seperti apa yang dikatakan kitab suci, sebab aku ingin ibuku melahirkan keturunan dari Allah dan bukan secara daging.

Aku tahu ini adalah sesuatu yang berat yang aku pergumulkan, namun aku meletakkan beban itu di salib Kristus yaitu Tuhanku. Oleh Dia, Ia mampu menolong Ibuku dari jeratan dosa, dan memisahkan suaminya yang bukan suaminya. Aku menanti suatu keajaiban aku bersatu dengan Ibuku dan Ayahku yaitu suami sah Ibuku. Sebab aku ingin disebut berbahagia dalam keluarga Kristen yang kudus. (Mangasa Situmorang)