Pembeli memeriksa tuna sirip biru sebelum mengajukan penawaran pada pelelangan di pasar ikan Tsukiji, Tokyo, Jepang, Jumat (5/1/2018). (AFP)

Pasar Ikan Terbesar Dunia Tutup setelah 80 Tahun

JAKARTA (IndependensI.com) – Pasar ikan Tsukiji di Tokyo menggelar pelelangan ikan terakhirnya pada Jumat (5/1/2018) sebelum ditutup. Tuna raksasa yang laku terjual seharga US$320.000 menandai penutupan pasar ikan terbesar di dunia itu.

Lebih dari 80 tahun berdiri, Tsukiji bukan hanya menjadi tempat jual beli ikan. Pasar itu tumbuh menjadi salah satu tempat tujuan wisata populer dengan banyaknya restoran dan toko. Pemerintah Tokyo memindahkannya ke Toyosu, kawasan bekas pabrik pengolahan gas, pada 11 Oktober 2018.

Pasar ikan Tsukiji, yang berdiri sejak 1935, terkenal dengan pelelangan ikan harian yang dilakukan setiap dini hari. Ikan-ikan yang dilelang di pasar itu merupakan hasil tangkapan dari berbagai penjuru lautan. Pelanggannya mulai dari toko biasa hingga restoran kelas bintang Michelin.

Jelang fajar, para pembeli membanjiri pasar itu. Mereka berkeliling untuk memeriksa kualitas tuna yang dilelang.

Lelang dimulai setiap pukul 05.30. Pelelang membunyikan lonceng untuk menandai lelang dan pembeli mulai mengajukan penawaran dengan isyarat tangan.

Penawar tertinggi, yang namanya tidak disebutkan, membayar 36,5 juta yen untuk tuna seberat lebih dari 400 kilogram. Berdasarkan keterangan pengelola pasar, tuna raksasa itu ditangkap di perairan sebelah utara prefektur Aomori.

“Kami harus terus melanjutkan merek Tsukiji sambil merintis merek baru” di lokasi baru, kata perwakilan pembeli, Shigeo Yokota.

“Saya bangga bisa berdiri di sini di saat yang bersejarah ini,” ujarnya.

Pelelangan ikan terakhir di pasar ikan Tsukiji pada Jumat (5/1/2018).

 

Mulai Usang

Pasar ikan Tsukiji menyediakan sekitar 480 jenis boga laut bernilai lebih dari US$14 juta setiap harinya. Pasar itu juga menyediakan 270 jenis buah-buahan dan sayuran. Sejak pertama kali dibuka, Tsukiji menjadi sumber utama boga laut segar untuk orang Jepang.

Tapi Tsukiji tidak bisa melawan waktu. Fasilitas yang ada sudah mulai usang. Banyak pedagang dan pembeli mulai mencemaskan ketahanan bangunan terhadap ancaman gempa. Mereka juga mulai mengeluhkan buruknya sanitasi dan keamanan bangunan terhadap kebakaran. Para pelaku pasar juga menuntut perbaikan teknologi, terutama sistem pendinginan.

Pemerintah Tokyo sebenarnya sudah berencana memindahkan pasar tersebut sejak akhir 2016. Namun rencana itu ditentang pengusaha yang berada di sekitar pasar. Dengan lokasi yang hanya sejauh berjalan kaki dari pusat belanja Ginza, Tsukiji menjadi salah satu tempat tujuan wisata yang ramai. Tidak sedikit pengusaha yang punya secara emosional punya hubungan erat dengan Tsukiji.

Gubernur Tokyo Yuriko Koike menunda rencana relokasi tidak lama setelah terpilih sebagai gubernur perempuan pertama kota itu pada 2016.

Koike kemudian menemukan sejumlah masalah di lokasi baru di Toyosu, antara lain kontaminasi tanah dan air tanah. Mantan penyiar televisi itu juga baru tahu bahwa kontraktornya gagal mengisi ruang bawah tanah di lokasi baru dengan tanah yang bersih.

Pemerintah setempat harus mengeluarkan dana tambahan untuk membersihkan fasilitas baru. Baru pada Desember 2017, Koike memutuskan relokasi pasar.

Pedagang besar di Tsukiji sempat frustrasi dengan penundaan. Mereka mengatakan penundaan relokasi membuat mereka rugi hingga jutaan dolar per bulan.

Pada 2013, Kiyoshi Kimura, pemilik jaringan restoran sushi yang menyebut dirinya sebagai “Raja Tuna”, membeli seekor tuna sirip biru seharga US$1,8 juta. Kimura berhasil mendapatkan spesies terancam punah itu untuk dijual di restorannya setelah mengalahkan penawar dari Hong Kong.

Pada 2017, dia membayar lebih dari US$600.000 untuk mendapatkan seekor tuna sirip biru seberat 212 kilogram pada pelelangan pertama tahun baru.