Dari Balai Budaya Jakarta, 30 Seniman Bicara Bangsa

Oleh: Sihar Ramses Simatupang

IndependensI.com – Sebanyak 30 seniman berkarya dengan berbagai medium dan gaya mengusung tema keadilan dan perdamaian di gedung Balai Budaya Jakarta yang bersejarah.

Kegelisahan tentang keadilan dan perdamaian diperlihatkan oleh seorang perupa Idris Brandy dengan obyek timbangan berukuran besar dan manusia mini meliuk menyerupai zigot. Orang-orang seakan hilir mudik di antara ukuran yang kerap dipakai oleh Dewi Themis sebagai simbol hukum yang adil dalam alam mitologi Yunani itu.

Judul karya Idris terasa menyindir, Timbang Menimbang tak Berimbang. “Kebetulan obyeknya sama dengan tema yang disepakati. Aku sedang menangkap kondisi bangsa yang terjadi sekarang ini,” ujar perupa yang merintis Studio Bongkar Otak di Tangerang itu.

Selain Idris, 29 perupa lainnya ikut mengisi awal tahun ini dengan semangat perdamaian dan lantang menyuarakan keadilan.

Sihar Ramses Simatupang

Mereka menggelar rangkaian pameran bertajuk Solidarity Peace and Justice di Balai Budaya, sejak 4 hingga 11 Januari 2018. “Ini merupakan silaturahmi kami di awal tahun,” ujar RB Ali kepada Litera di pembukaan pameran, Kamis (4/1/2018).

Ali menampilkan karya bertajuk Keseimbangan dengan karya menyerupai nuansa kubisme. Sebagaimana pendapatnya, inilah ikatan para seniman membaca gejolak lokal, nasional dan global belakangan ini.

Karya pameran 30 perupa menghasilkan beragam obyek. Aisul Yanto menyertakan karya berjudul Energi Perdamaian menampilkan abstraksi hitam-putih, Syahnagra Ismail mengusung karya bertajuk Doa dari Pinggir Sawah yang memperlihatkan nuansa pointilisme – titik di antara lukisan menjadi bidang warna. Syahnagra, kini nampak lebih tenang dalam menuangkan abstraksi lanskap. Tak begitu riuh, baik dalam pilihan warna dan guratan.

Para seniman menampilkan karya yang beragam. Permaknaan yang universal ini tak hanya di karya yang verbal tapi juga yang bernuansa abstrak sebagaimana pada karya Cak Kandar bertajuk Forever Happy, FX Jeffrey sumampouw lukisan Percakapan Kemaren dan Sri Warso Wahono bertajuk Optimisme.

Perupa Edy Bonetski membuat karya media campuran dengan panel terpisah yang menarik perhatian pengunjung dengan karya bertajuk Bonetski Kode. Tak hanya dengan kanvas, dia menjadikan kaos sebagai medium.

Seniman lain yang ikut serta di pameran ini adalah Ahmad Musoni, Anfield Wibowo, Ireng Halimun, Anthony Sutanto, Koko Rajasa, AR Sudarto, Maria Tiwi, Bambang Win, Remy Silado, Chrisnanda Dwilaksana, Ridwan Manantik, Daniel Rudi Haryanto, Robby Lukita, Satya B Pranaya, Egi Sae, Emmy Go, Sohieb Toyaroja, Greg Susanto, Yahya TS, Ika Umy Hay dan Yayat Lesmana.

Energi Positif
Bagi Aisul Yanto, perupa yang menjabat sebagai Sekretaris Jenderal di Balai Budaya Jakarta ini, ke semua rekannya telah memancarkan greget dan fibrasi dalam karyanya, dari taksu masing-masing ke penjuru ruang dan kehidupan dengan energi positif.

Kondisi sosial saat ini, antara mayoritas dan minoritas belakangan cenderung ingin menguasai atau memanipulasi situasi yang ada. Keduanya berhadapan untuk saling menguasai, saling menegaskan keberadaan masing-masing. Bagi Aisul, seharusnya hal itu tidak terjadi, bila masing-masing mengedepankan rasa kebersamaan, perdamaian dan keadilan. Tegasnya, di sinilah posisi seniman, untuk menyikapi situasi tadi.

Ika Ismurdiyahwati yang lulusan S-2 dan S-3 di Departemen Seni Rupa Institut Teknologi Bandung mengatakan pameran seniman di Balai Budaya Jakarta sekalugus juga untuk menghidupkan kembali tempat yang pernah memegang peranan penting dalam sejarah Indonesia.

Menurutnya, menjadikan keberadaan Balai Budaya semakin membumi bagi kita adalah bermakna juga mempelajari masa lalu untuk kepentingan masa depan. Agar menjadi bangsa yang lebih maju dan bermartabat sebagai bangsa yang besar: Indonesia. Sebagaimana awal keberangkatannya, lembaga ini tak hanya membawa visi itu menjadi masa lalu tapi juga masa depan. ***

Penulis adalah wartawan yang juga budayawan, tinggal di Citayem, Depok