Menteri Luar Negeri Ekuador Maria Fernanda Espinosa berbicara dalam jumpa pers di Quito, Kamis (11/1/2018). Dia mengatakan bahwa pendiri WikiLeaks, Julian Assange, sudah menjadi warga negara Ekuador sejak 12 Desember 2017. (AFP)

Ekuador Adopsi Pendiri WikiLeaks

JAKARTA (IndependensI.com) – Pemerintah Ekuador akhirnya memutuskan “mengadopsi” Julian Assange. Pendiri WikiLeaks itu mendapatkan status warga negara dari negara Amerika Latin itu setelah lima tahun berlindung di Kedutaan Besar Ekuador di London.

Menteri Luar Negeri Ekuador Maria Fernanda Espinosa mengatakan Assange sudah menjadi warga negara Ekuador sejak 12 Desember 2017.

Dalam jumpa pers di Quito, Kamis (11/1/2018), Espinosa mengatakan bahwa Ekuador meminta Inggris menerima Assange sebagai seorang diplomat. Status itu akan memberikan Assange kekebalan diplomatik agar bisa keluar dari kantor kedutaan tanpa takut ditangkap. Namun permintaan tersebut ditolak Inggris.

“Pemerintah Ekuador berwenang memberikan status kewarganegaraan untuk orang yang dilindungi dan mem-fasilitasinya di negara tuan rumah,” kata Espinosa.

Foto bertanggal 5 Februari 2016 ini memperlihatkan pendiri WikiLeaks, Julian Assange, membuka pintu balkon Kedutaan Besar Ekuador di London, Inggris, sebelum memberikan pernyataan kepada media.

Dia mengatakan permintaan ke Inggris agar menerima status diplomatik Assange sudah diajukan pada 20 Desember 2017, dan ditolak keesokan harinya.

Espinosa mengatakan Quito tidak akan memaksakan hal itu demi menjaga “hubungan baik yang kami miliki dengan Inggris”.

Kementerian Luar Negeri Inggris dalam pernyataannya menyebutkan bahwa Ekuador “baru-baru ini mengajukan status diplomatik untuk Assange di Inggris. Inggris tidak mengabulkan permintaan tersebut, juga tidak membahas masalah ini dengan Ekuador”.

“Ekuador tahu bahwa cara menyelesaikan masalah ini adalah melepas Julian Assange dari kedutaan agar dia bisa diadili,” kata pemerintah Inggris.

 

Kurang Serius

Upaya Ekuador untuk memberikan status diplomatik buat Assange adalah langkah terbaru negara itu untuk menyelesaikan masalah yang sudah berkepanjangan ini. Assange mencari suaka di Kedutaan Besar Ekuador pada 2012 untuk menghindari penangkapan terkait tuduhan pemerkosaan di Swedia.

Tahun lalu, Swedia menghentikan penyelidikan atas tuduhan yang dilayangkan pada 2010 itu. Tapi kepolisian Inggris mengatakan bahwa mereka ingin menangkap Assange karena tidak datang ke pengadilan dan melanggar persyaratan pembebasan bersyarat.

Mantan menteri luar negeri Ekuador, Jose Ayala Lasso, mengatakan kepada kantor berita AFP bahwa Inggris “langsung menolak” langkah itu karena “dianggap sebagai akal-akalan untuk mencari celah di hukum internasional”.

Lasso menganggap pemerintah di Quito “kurang serius” menangangai masalah Assange. Dia mengatakan keputusan memberikan suaka pada 2012 telah “memicu banyak masalah” buat Ekuador dan hanya mencoreng citra negara itu, terutama di hadapan Amerika Serikat.

Assange menolak keluar dari kedutaan karena mengaku takut diekstradisi ke AS. Washington mengejar Assange setelah mempublikasikan dokumen rahasia militer dan komunikasi diplomatik AS di WikiLieaks pada 2010.

Dia bisa menghindari penangkapan setelah menerima suaka dari presiden Ekuador waktu itu, Rafael Correa, pada 2012. Namun sejak itu, Assange seperti terpenjara karena tidak bisa keluar.

Assange kembali membuat Washington panas setelah secara terbuka mengaku campur tangan dalam pemilihan presiden AS 2016, dengan meretas surat elektronik tim kampanye Hillary Clinton dan mempublikasikan isinya di internet.

Baru-baru ini, dia membuat gusar penerus Correa, Presiden Lenin Moreno, dengan menggunakan Twitter untuk menyuarakan dukungan untuk kemerdekaan Catalunya. Akibatnya, Moreno diprotes oleh pemerintah Spanyol.

“Kami sudah mengingatkan Assange bahwa dia tidak boleh campur tangan dalam politik Ekuador karena statusnya tidak memungkinkan hal itu. Dia juga tidak boleh mengganggu negara sahabat kami. Dia tidak punya hak untuk melakukannya,” kata Moreno dalam wawancara dengan surat kabar Spanyol.

Espinosa mengatakan bahwa Quito akan terus “menjajaki cara lain untuk mengakhiri” situasi Assange. Alternatifnya antara lain “mediasi dengan bantuan lembaga, negara lain, atau organisasi internasional yang bisa memfasillitasi solusi yang adil, tuntas, dan bermartabat untuk semua pihak terkait”.

Dia mengatakan pemerintahnya mencari kemungkinan adanya “negara ketiga atau orang ketiga” untuk membantu menyelesaikan masalah ini.

“Tidak ada solusi yang bisa dicapai tanpa kerja sama internasional dan keterlibatan Inggris, yang juga ingin mencari jalan keluar,” kata Espinosa.

One comment

Comments are closed.