Nelayan Desa Bendot Minta Ridwan Kamil ‘Pecahkan’ Masalah Nelayan

CIREBON (Independensi.com) – Kandidat Gubernur Jabar Ridwan kamil berkunjung ke desa nelayan, di Desa Bondet Karangreja, Kecamatan Suranenggala, Kabupaten Cirebon, Rabu (7/3/2018). Kedatangan Kang Emil sapaan Ridwan Kamil disambut berbagai keluhan tentang nasih nelayan.

Para nelayan mengadukan berbagai persoalan, mulai dari akses jalan ke desa mereka yang rusak dan minta diperbaiki. Rombongan Ridwan Kamil juga merasakan jalan rusak saat menuju desa itu.

Jalan sepanjang kurang lebih 1,5 km berlubang-lubang dengan ukuran cukup besar, sehingga jalannya kendaraan seperti melompat-lompat yang membuat perut terasa mual.

Tak hanya itu, lebar jalan hanya cukup untuk satu mobil. Sehingga kalau ada kendaraan motor di depannya harus saling bergantian untuk lewat jalan itu.

Persoalan lain adalah muara dangkal yang menyebabkan banyak perahu rusak karena tersandung lumpur atau batu. Nelayan minta muara yang dangkal itu dikeruk. “Soal lainnya tentang ngurus izin kapal yang sulit,” kata Rustadi, 44 tahun, juru tawar, di lokasi pelelangan ikan di desa itu.

Kolega Rustadi, Edi, 48 tahun, pengurus koperasi Bina Waluya menambahkan, pengurusan izin kapal besar diatas 10 GT harus ke provinsi, sedangkan dibawah 10 GT urus izinnya di Kabupaten. Karena pengurusan izin yanh susah, nelayan jadi nggak urus izin, tapi dampaknya kapal nelayan dikejar petugas.

“Sebenarnya nelayan tidak rewel. Masalah urus izin diarahkan dan dipermudah saja, kita mau kok, asal jelas berapa harganya, jangan dipersulit. Mohon Kang Emil perhatikan masalah izin ini,” ucap Edi.

Dalam acara itu, Kang Emil juga melakukan dialog dan memberikan kuis kepada para nelayan. Dalam dialog itu ada yang curhat soal anaknya yang hilang di laut dan sudah berusaha mengurus asuransi ke dinas sosial Kabupaten Cirebon tapi nihil.

“Kalau ada takdirnya, Insya Allah, soal izin dipermudah. Termasuk masalah permintaan asuransi nelayan,” katanya.

Menurut dia, masalah sungai yang dangkal, tanggul yang mau jebol, tambatan yang dangkal, pekerjaan buruh yang susah dan murah, adalah masalah yang kompleka di kampung nelayan.

“Upah hanya 1,5 per bulan, kan tidak cukup, kekurangannya dari mana? mereka dapatkan dari rentenir,” ucap Kang Emil.

Kang Emil menjelaskan, menjadi pemimpin harus memberikan solusi besar melindungi masyarakat yang tidak mampu. “Ketika pendapatan rendah, maka urusan pendidikan, sembako, kesehatan bisa disubsidi oleh negara sehingga dengan uang terbatas mereka tetap bisa hidup layak,” kata dia. (Putra Fernando)