Persatuan Indonesia Dibangun Dalam Kerangka Ketuhanan Yang Maha Esa

JAKARTA (IndependensI.com) – Presiden Joko Widodo saat bertemu sejumlah penyuluh agama mengatakan bahwa persatuan di Indonesia dibangun dalam kerangka Ketuhanan Yang Maha Esa. “Bahwa kemanusiaan, persatuan, kerakyatan dan keadilan semuanya dibangun dalam kerangka Ketuhanan. Harus kita pahami dan sadari bersama,” kata Jokowi Silaturahmi Penyuluh Agama se-Jawa Tengah di Lapangan Pancasila, Simpang Lima, Kota Semarang, Provinsi Jawa Tengah, Sabtu (14/4/2018).

Menurut Presiden, peran agama dalam kehidupan masyarakat Indonesia sangat sentral, demikian pernyataan dari Deputi Bidang Protokol, Pers dan Media Sekretariat Presiden, Bey Machmudin.

Hal itu, kata Presiden, dibuktikan dengan sila pertama Ketuhanan Yang Maha Esa menjiwai keempat sila lain dalam ideologi dasar negara, Pancasila.

Kepala Negara menjelaskan sebuah hasil penelitian juga menunjukkan mayoritas masyarakat Indonesia, di atas 80 persen, menganggap agama merupakan hal yang sangat penting.

“Namun, di saat yang sama juga terpotret bahwa konflik sosial dengan akar agama harus tetap terus diwaspadai, terus diantisipasi. Hal ini lah yang harus menjadi perhatian kita bersama,” kata Jokowi.

Dalam acara yang dihadiri oleh 5.711 penyuluh agama baik dari perwakilan agama Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha maupun Konghucu tersebut, Presiden mengajak masyarakat tidak menghabiskan energi untuk mempertajam perbedaan.

Terutama, kata Presiden, perbedaan yang terkait dengan pilihan dalam pemilihan bupati/wali kota, pemilihan gubernur, maupun pemilihan presiden.

“Nah ini urusan perbedaan, sekarang di Jawa Tengah ada pilgub dan ada pilihan bupati walikota ada tujuh. Nanti 2019 ada pilpres, sampaikan kepada masyarakat bahwa pilihan berbeda dalam demokrasi itu biasa. Pilih pemimpin yang paling baik. Setelah coblos rukun kembali sebagai saudara sebangsa dan setanah air, bersama-sama membangun negara ini,” kata Jokowi.

Kuis Ketika memberikan kuis berhadiah sepeda, salah satu pertanyaan Presiden adalah menyebutkan 17 ribu pulau yang dimiliki Indonesia.

Seorang penyuluh non PNS Kota Surakarta bernama Mujiarti mendapatkan kesempatan untuk menjawabnya.

“Indonesia. Karena saya tidak bisa menyebutkan 17 ribu, Pak. Semua pulau itu tergabung menjadi satu, namanya Negara Kepulauan Republik Indonesia. Tidak bisa dipisah-pisahkan, Pak,” tegas Mujiarti.

Mendengar jawaban itu, Presiden mengapresiasi Mujiarti dan mengatakan bahwa jawaban tersebut merupakan jawaban yang pintar. Namun demikian, Presiden tetap meminta Mujiarti menyebutkan tujuh nama pulau.

“Pulau Jawa, Sumatra, Kalimantan, Papua, Sulawesi, Pulau Bali, Pulau Madura,” kata Mujiarti yang disambut tepuk tangan seluruh hadirin.

Sejumlah pejabat dan tokoh masyarakat yang mendampingi Presiden dalam acara tersebut adalah Menteri Sekretaris Negara Pratikno, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, Ketua Majelis Ulama Indonesia KH Ma’ruf Amin dan Plt Gubernur Jawa Tengah Heru Sudjatmoko serta Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Romahurmuziy.