Ganjar Pranowo Berfalsafah “Menang Tanpa Ngasorake”

IndependensI.com – Pilkada serentak akan berlangsung pada Rabu (27/06/2018). Pilkada Jawa Tengah menjadi persaingan keras karena merefleksikan persaingan yang akan terjadi dalam Pemilu 2019. Kubu petahana yakni pasangan Ganjar Pranowo-Taj Yasin yang terutama didukung oleh PDIP dan pasangan Sudirman Said-Ida Fauziyah yang terutama didukung Gerindra.

Hawa persaingannya begitu panas sejak awal karena kompetisi hanya diikuti oleh dua pasangan calon (paslon) yang head to head. Hal ini menyebabkan kompetisi berlangsung secara keras dan diselingi kampanye hitam yang ingin menjegal satu sama lain. Meskipun terjadi persaingan yang ketat ada aspek positif dari persaingan memperebutkan posisi nomor 1 di Jawa Tengah ini, dimana persaingan yang ketat tidak melupakan bahwa persaudaraan tetap diutamakan.

Ganjar Pranowo selaku kubu petahana yang lebih diunggulkan dalam sejumlah lembaga survey tampak elegan dalam berkompetisi. Ia menjunjung tinggi falsafah orang Jawa “nglurug tanpa bala, menang tanpa ngasorake” atau mendatangi musuh tanpa kekuatan pasukan dan siap menang tanpa mempermalukan. Hal ini yang dilakukan saat mengunjungi keluarga Sudirman Said di Brebes.

Calon Gubernur Jateng petahana Ganjar Pranowo mengunjungi desa kelahiran rivalnya, Sudirman Said, di Desa Slatri, Kecamatan Larangan, Kabupaten Brebes, Sabtu (23/06/2018). Ganjar bahkan bersilaturahmi ke rumah saudara kandung Sudirman Said.

Ganjar sengaja datang ke rumah Nuruddin, adik kandung Sudirman Said untuk melakukan silaturahmi. Namun yang bersangkutan tidak berada di tempat. Namun Ganjar ditemui adik Sudirman yang lain, Sartono. “Kalau saya malah adiknya pas Pak Dirman, kalau Nuruddin adik saya,” kata Sartono.

Kunjungan ini tanpa pemberitahuan sehingga Sartono mengaku tak menyangka Ganjar datang. Rumah Sartono berada di depan rumah Nuruddin awalnya hanya penasaran ada mobil Toyota Innova hitam masuk halaman rumah adiknya. Setelah itu Sartono pun menghampiri mobil yang datang dan ternyata Ganjar Pranowo.

Ganjar kemudian turun dari mobil dan menyalami Satono. Ia mengatakan, tujuan kedatangannya sekadar silaturahmi, sekaligus menunjukkan bahwa Pilgub Jateng adem ayem dan penuh kerukunan pada kampanye terakhir. “Mumpung kampanye terakhir saya di Brebes, tiada salahnya saya mampir ke rumah beliau,” katanya.

Ganjar dan Sartono bersalaman hangat dan terjadi pembicaraan yang akrab. Tak tampak ada kesan persaingan apalagi permusuhan. Keduanya berbincang-bincang di halaman rumah.

Cagub Jateng nomor 1 itu mohon restu ke Sartono, menjelang hari pencoblosan.”Saya mohon doa agar pilkadanya tetap aman dan kondusif, salam saya untuk seluruh keluarga besar pak Sudirman,” kata Ganjar.

Sartono mengapresiasi inisiatif Ganjar dalam menjalin silaturahmi. Ia setuju, meski bersaing secara politik namun persaudaraan tetap terjalin.

Keduanya lalu sepakat berfoto bersama dengan jari menunjuk angka pilihan masing-masing. “Saya tetep nunjuk angka satu, pak Sartono dua ya pak, kira tunjukkan Jateng damai,” kata Ganjar.

Langkah Ganjar Pranowo ini patut dipuji, di tengah persaingan ketat dalam memperebutkan jabatan Gubernur Jawa Tengah, namun semangat persaudaraan tetap dikedepankan. Berbeda dalam pilihan politik tidak harus membuat permusuhan dan gontok-gontokan. Pilkada Jawa Tengah tentu jauh lebih baik dibandingkan dengan Pilkada DKI Jakarta dimana penggunaan isu SARA yang memecah belah anak bangsa sengaja dilakukan hanya demi memenangkan jabatan politik sebagai gubernur dan wakil gubernur. (berbagai sumber)