Suasana Coordination Commission Meeting (CorCom) antara INAPGOC dengan Asian Paralympic Committee (APC) di Jakarta akhir pekan lalu. (Istimewa)

APG 2018 Menjadi Event Penting

Loading

JAKARTA (IndependensI.com) – Panitia Pelaksana Indonesia Asian Para Games 2018, INAPGOC, menggelar Coordination Commission Meeting (CorCom) terakhir dengan Asian Paralympic Committee (APC), pada 3-4 Agustus, di Jakarta, yang sekaligus menandai dimulainya fase krusial persiapan penyelenggaraan Asian Para Games 2018. CEO APC, Tarek Souei mengatakan, Asian Para Games (APG) 2018 akan menjadi event penting untuk semua pihak yang terlibat dalam pengelolaan olahraga penyandang disabilitas.

“Ini memang pertemuan resmi terakhir antara APC dan INAPGOC. Tapi, kami akan memastikan komunikasi dan koordinasi di antara kedua institusi tidak akan berhenti untuk memastikan pesta olahraga penyandang disabilitas terbesar kedua di dunia ini akan berjalan dengan standar tertinggi. Asian Para Games 2018 akan menjadi event pertama untuk kualifikasi menuju Tokyo 2020. Selain itu, sejumlah panitia penyelenggara event lain, seperti Tokyo 2020 dan Hangzhou 2022, akan mengirim delegasi untuk mengamati dan belajar dari INAPGOC,” ujar Tarek melalui riisnya, Minggu (5/8/2018).

Tarek melanjutkan, Asian Para Games 2018 akan mencatat banyak rekor. Hingga saat ini sudah tercatat lebih dari 3.000 atlet dan sekitar 1.800 ofisial akan terlibat dalam Asian Para Games 2018, yang merupakan jumlah tertinggi yang pernah ada dalam sejarah Asian Para Games. Dengan jumlah atlet dan juga sebagai ajang kualifikasi Tokyo 2020, Tarek memprediksi akan terjadi banyak pemecahan rekor selama Asian Para Games 2018. Selain itu, APC juga berharap 43 negara anggota bisa ambil bagian dalam gelaran ini.

Dengan banyaknya atlet yang ambil bagian, klasifikasi akan menjadi tantangan untuk INAPGOC dan juga APC. Klasifikasi menjadi bagian penting dalam olahraga penyandang disabilitas karena seluruh atlet harus menjalani klasifikasi sebelum berkompetisi. “Di Jakarta akan ada 1.265 atlet yang harus menjalani klasifikasi sebelum kompetisi. Jumlah itu belum pernah terjadi sebelumnya. Dan akan ada 88 international classifier. Ini tidak mudah karena semua harus dilakukan sebelum pembukaan. Saat ini, kami sedang berdiskusi untuk menambah hari klasifikasi. Kami berusaha mencari solusi dan bersikap fleksibel untuk mencari hasil terbaik,” ujar Tarek.

Sementara itu, Ketua INAPGOC, Raja Sapta Oktohari mengatakan, Asian Para Games 2018 akan meninggalkan warisan untuk pengelolaan olahraga penyandang disabilitas dengan menghasilkan banyak tenaga ahli yang bidangnya. “Kami berdiskusi dengan APC agar mereka bisa membantu classifier dari Indonesia bisa terlibat sebagai pengamat. Tarek akan membantu berkomunikasi dengan federasi internasional. Selain itu, kami juga mengadakan pelatihan NTO (National Technical Officer) dan ITO (International Technical Officer) agar semakin banyak tenaga ahli dari Indonesia yang nantinya bisa mengembangkan olahraga penyandang disabilitas di Indonesia,” ujar Okto.