Elki Kow (kiri) menerima cheque sebesar Rp.34.000.000 dari perwakilan OB Golf.

Final Belum Dimulai, Tiga Pegolf Sudah Raih Bonus

JAKARTA (IndependensI.com) – Keberhasilan Elki Kow menjadi juara Indonesian Golf Tour (IGT) Seri 7 dengan skor-6, membuktikan bahwa kompetisi golf professional  di dalam negeri – lambat atau cepat – akan semankin menjanjikan di tahun yang akan dating.

Apalagi  kalau tradisi alih status dari amatir ke professional terus berlanjut seperti pada waktu-waktu sebelumnya,sehingga dapat dibayangkan bagaimana ketat dan serunya persaingan yang akan terjadi. Sebab, seperti kita ketahui, para pegolf amatir yang telah selesai memperkuat daerah asal mereka masing-masing di ajang PON dan/atau pegolf pelatnas yang tampil di SEA Games, mereka akan segera beralih status dari amatir ke professional tanpa harus melalui playing ability test.

Tempaan yang cukup lama dan berjenjang di ajang kompetisi amatir – selain mereka tidak diwajibkan mengikuti playing ability test – saat mereka telah status dan tampil di ajang kompetisi golf professional pun hasilnya tidak terlalu mengecewakan.

Sekjen PGA Tour of Indonesia, Agus Triyono menyerahkan piala kepada Elki Kow sang juara.

Betul bahwa memang belum semua pegolf amatir eks PON dan SEA Games, setelah mereka beralih status dan berkompetisi di ajang golf professional, dapat merasakan nikmatnya menjadi champion dengan hadiah utama uang sebesar Rp34.000.000,-. Kerena, selain mereka harus bersaing dengan sesame rekan yang pernah mereka hadapi saat mereka masih berkiprah di amatir, mereka juga harus bersaing dengan para senior – seperti Maan Nasim dan yang lainnya – yang setiap saat bisa menjadi batu sandungan.

Akan tetapi, terlepas dari masalah tersebut, yang jelas kehadiran para pro muda yang memiliki bekal tempaan  yang cukup lama dan berjenjang saat mereka masih berstatus  amatir, membuat scoring board senantiasa dihiasi angka berwarna merah.

Hal tersebut terlihat saat Indonesian Golf Tour (IGT) Seri 7, yang berlangsung di Modern Golf and Country Club pada 25-27 September memasuki hari kedua. Terdapat tujuh orang pemain yang mencetak skor under. Mereka adalah Rudi Anto (-1), George Gandranata (-1), Elki Kow (-2), I Ketut Sugiarta (-3), Rinaldi Adiyandono (-4), Fahmi Reza (-4), dan Fajar Win Nuryanto (-4).

Walaupun permainan belum berakhir, namun Rinaldi, Fahmi dan Fajar masing-masing mendapat bonus sebesar Rp2.000.000,- dari seorang pro bernama Sujarwo yang sangat mengapresiasi keberhasilan ketiga pemain tersebut, karena mereka berhasil lolos cut off dengan skor -4. Lucunya, pro anggota PGA TOUR of Indonesia yang akrab disapa dengan panggilan Mas Jarwo, itu justru tidak lolos cut off!

Tapi, sayang sekali bonus yang diberikan oleh anggota PGA TOUR of Indonesia yang sangat peduli tersebut,  tidak diimbangi dengan imbalan permainan yang konsisten dari Fahmi Reza, yang namanya “terhapus” dari scoring board pada final Indonesian Golf Tour (IGT) Seri 7.

Tak hanya Fahmi. Rinaldi pun posisinya di ronde terakhir nyaris melorot. Beruntung pada final Indonesian Golf Tour (IGT) Seri 7 Rinaldi segera bisa me-recovery permainan, sehingga skor -4 yang dibukukukannya di ronde kedua tetap bisa dipertahankan hingga ronde ketiga (final) dalam event yang memperebutkan total hadiah sebesar Rp 200.000.000,- tersebut.

Hal yang sama pun hampir saja dialami oleh Fajar Win Nuryanto. Meskipun nasib yang dialaminya tidak se-“tragis” Fahmi, namun dengan susah payah Fajar tetap bisa menjaga irama permainannya; Sehingga, dengan skor -2 nama Fajar Win Nuryanto masih terbaca di scoring board pada hari terakhir di IGT Seri 7.

Berbicara golf pro adalah berbicara masalah hadiah uang. Jadi, kalau tidak pandai mengatur irama permainan, hasil akhirnya memang tidak seperti yang diharapkan. “Hari ini (final) permainan saya memang tidak sebagus permainan saya di hari pertama dan kedua … Dan, itu sama sekali tidak ada hubungannya dengan bonus yang saya terima dari Om  Sujarwo ..,” ujar Fahmi Reza, menegaskan.

Jangankan Fahmi, I Ketut Sugiarta – yang nota bene adalah pro yang ber-home base di Modern Golf and Country Club – pun mengalami kesulitan untuk “menaklukkan” golf course yang telah dikenalnya sejak puluhan tahun lalu itu. Ketut mengakhiri permainannya di IGT Seri 7 dengan skor -2.

Lalu, bagaimana dengan Elki Kow? Juara IGT kali ini – sebagaimana yang diungkapkan oleh Avie K Utomo selaku Tournament Director IGT Seri 7 sekaligus merangkap sebagai MC di acara pembagian hadiah kepada para juara  – memang tampil penuh percaya diri. Sehingga, dengan demikian, dia tetap bisa menjaga irama permainannya dan tidak terpengaruh sama sekali dengan hasil atau perorehan angka yang dibukukan oleh rekan sepermainannya yang berada dalam pairing group bersama dirinya.

Pada IGT Seri tahun ini, Elki Kow telah dua kali menjadi juara. Posisi order of merit yang dimilikinya pun menjadi lebih baik. November mendatang final seri IGT menurut rencana akan digelar di Damai Indah PIK Course, Jakarta Utara. Final tersebut akan diikuti oleh tiga puluh professional golfer (plus ties) terbaik di Indonesia.

“Target saya bermain sebaik mungkin di final IGT bulan depan,” kata sang juara IGT Seri 7 saat ditanya tentang targetnya di final IGT Seri.

Sebelum tampil di final seri IGT pada November mendatang, para professional golfer yang bernaung di bawah payung hukum  PGA TOUR of Indonesia,  masih menyisakan dua turnamen yang akan mereka ikuti. Kedua turnamen tersebut adalah Credit Suisse dan Asian Development Tour. (Toto Prawoto)