Shingo Kunieda. (INAPGOC)

Duel Sesama Jepang yang Biasa Saja

JAKARTA (IndependensI.com) – Petenis papan atas dunia asal Jepang, Shingo Kunieda melaju ke babak final Wheelchair Tennis Asian Para Games 2018 yang berlangsung di lapangan tenis Kelapa Gading Sport Club, Jakarta, Jumat (12/10/2018). Pemilik rangking satu dunia ini akan berhadapan dengan rekan senegaranya, Takashi Sanada. Sebuah duel “all Japanese final” yang sudah bisa ditebak sejak babak awal.

Betapa tidak, Kunieda mulus tanpa menemui hambatan berarti setelah mendapat bye di babak pertama karena menjadi unggulan teratas. Petenis kelahiran Tokyo, 21 Februari 1984, saat menghadapi saingan yang juga rekan senegaranya, Kouhei Suzuki. Dia sempat kewalahan untuk mengantisipasi permainan cepat lawan yang menguras stamina. Suzuki sendiri kerap melancarkan pukulan-pukulan keras yang akurat ke daerah pertahanan Kunieda. Namun berkat kesiapan fisik dan mental serta pengalaman bertanding, Kunieda mengakhir tekanan dan perlawanan rekannya itu dengan dua set.

Dari catatan yang ada, Kunieda ini merupakan petenis yang tak terkalahkan di Jepang. Semua petenis rekan senegaranya yang kini bertengger di kisaran 50 besar dunia, sudah dikalahkannya. Bahkan, untuk melawan Sanada di babak final besok, tercatat 11 kali menuai kemenangan tanpa balas. Baginya, melawan Sanada yang juga rekan bermain ganda putra itu adalah sesuatu yang biasa. Diakuinya, pukulan Sanada cukup bervariatif dan bertenaga. Selain itu, cara twist kursi roda yang kerap ditunjukkannya, cukup agresif dan membantu dalam mengejar bola sulit di setiap sudut lapangan. “Melawan Sanada sudah biasa. Kami seri bertanding dan berlatih. Tapi saya hanya ingin menang dan berusaha maksimal,” kata Kunieda, Kamis (11/10/2018).

                                           Takashi Sanada 

Sanada sendiri tidak mau ambil pusing untuk melawan Kunieda. Dia mencoba untuk bermain lebih santai dan menganggap sedang latihan saja. Kendati demikian, dia juga tidak akan memberikan kesempatan Kunieda untuk bisa menekannya. “Apapun saya akan lakukan. Saya ingin menang kali ini,” kata Sanada. Soal menjadi rekan bermain di nomor ganda tidak membuat mental dan persaingan menjadi terkoreksi. “Tidak ada persiapan khusus. Hanya rasa bangga bisa juara di Asian Para Games,” ujar Kunieda. Hal senada dikatakan Sanada yang lebih berupaya untuk bisa tampil maksimal dan mencoba untuk mengalahkan Kunieda untuk kali pertama.

Kelelahan mungkin akan mendera mereka usai bermain di babak final nomor ganda putra, Kamis (11/10/2018). Tinggal bagaimana rekondisi keduanya saja agar maksimal untuk tampil besok. Terakhir Sanada bertemu Kunieda di babak perempat final US Open 2018 bulan Agustus lalu. Tercatat, Kunieda kerap “mengawinkan” gelar juara Asian Para Games sejak dari Guangzhou 2010. Selain itu, Kunieda pernah sukses meraih medali emas di Paralympic Games Athena 2004, medali emas di nomor tunggal dan perunggu di nomor ganda Beijing 2008, dan meraih medali emas di London 2012. Saat di Paralympic Rio 2016, Kunieda hanya meraih perunggu di nomor ganda.