Kadek Adi Aksama Putra

Kadek Adi Aksama Putra

JAKARTA (IndependensI.com) – PRO kelahiran 5 Desember 1999 ini mulai mengenal golf sejak berusia 11 tahun. Kadek, sapaan akrabnya, diperkenalkan dengan olahraga tersebut oleh ayahnya, I Ketut Sugiarta, professional golfer asal Bali yang kini menetap di Cipondoh, Kota Tangerang.

Di kancah persaingan golf amatir nasional, prestasi Kadek tidak terlalu menonjol. Namun, dalam setiap event amatir yang diikutinya, anak tunggal ini tidak pernah terlempar dari urutan tiga atau lima besar nasional.

Dibandingkan anak lain yang lahir dan dibesarkan di lingkungan yang sangat akrab dengan olahraga golf, Kadek agak berbeda. Sebab, sepanjang yang diketahui oleh banyak orang terutama dari kalangan komunitas golf di negeri ini, I Ketut Sugiarta, sebagai orangtuanya terkesan tidak memiliki ambisi bahwa di kemudian hari putra tunggalnya harus mengikuti jejaknya sebagai professional golfer.

Meskipun begitu, ketika pada akhir 2017 lalu Kadek beralih status dari amatir ke professional, sebagai orangtuanya, I Ketut Sugiarta, tetap mendukung. “Target saya kalau dalam lima tahun ke depan keterlibatan saya di olahraga ini stagnan, saya akan memutuskan untuk menekuni profesi di luar golf,” kata Kadek saat ditemui IndependensI.com di Modern Golf and Country Club, Cipondoh – Kota Tangerang, beberapa waktu lalu.

Kadek Adi Aksama Putra

Kadek sadar bahwa apa yang saat ini dia lakukan adalah sebuah proses. “Karena itulah maka saya harus siap menanggung segala risiko,” ujarnya. Dan, sebagai new comer di ajang kompetisi pro lokal, Kadek pernah finis di posisi kesembilan dan mendapat prize money  yang nilai nominalnya lumayan untuk ukuran anak muda yang masih sangat bergantung dengan “kebijaksanaan” dari orangtuanya khususnya dalam hal yang berhubungan dengan uang saku. “Itulah yang membuat saya penasaran,” katanya sambil tersenyum penuh arti.

Kadek merasa dirinya diberi keleluasaan oleh orangtuanya. Namun demikian tidak berarti bahwa dia memiliki kebebasan untuk berbuat apa saja – sesuai dengan apa yang dikehendakinya. Justru anak tunggal ini harus lebih berhati-hati dalam melakoni kehidupan sehari-harinya terutama di bidang pendidikan.

Boleh jadi kenapa I Ketut Sugiarta tidak pernah marah (dalam arti yang sebenarnya!) ketika putra tunggalnya ini finis di urutan ketigapuluhsembilan dalam turnamen golf pro yang diikutinya, karena prestasi akademik Kadek di bidang pendidikan memang patut diacungi jempol.

Sungguh pun dalam kehidupannya – sejak masih duduk di bangku SD hingga duduk di Perguruan Tunggi, tepatnya di Universitas Budi Dharma yang beralamat di Jalan Imam Bonjol nomor 41, Cipondoh – Kota Tangerang – nyaris tiada hari tanpa olahraga golf, namun Kadek tidak pernah tinggal kelas.

Setelah lulus SD, Kadek melanjutkan ke SMP Budi Dharma. Dan, ketika melanjutkan ke SMK pun Kadek sekolah di tempat yang sama. Setelah lulus SMK pun Kadek mendapat bea siswa dan melanjutkan studinya di Universitas Budi Dharma. “Waktu saya sekolah di SMP dan SMK dan sekarang kuliah di Universitas Budi Dharma, lokasinya memang berada di tempat yang sama cuma beda gedungnya saja,” kata Kadek.

Mahasiswa semester I jurusan Bisnis & Management Universitas Budi Dharma ini adalah satu-satunya mahasiswa di perguruan tinggi swasta tersebut yang menekuni olahraga golf sebagai profesinya.

Kadek mengaku bahwa olahraga golf yang ditekuninya secara profesional sama sekali tidak mengganggu kegiatan akademisnya. “Hanya bedanya, dulu, waktu saya masih duduk di bangku SMK Budi Dharma, saya selalu mendapat dispensasi untuk tidak mengikuti pelajaran selama empat hari, kalau saya akan mengikuti turnamen … Sekarang setelah saya kuliah, saya belum pernah mendapat dispensasi seperti yang pernah saya peroleh sewaktu saya masih duduk di bangku SMK Budi Dharma,” katanya.

Kadek tidak mempermasalahkan  ada atau tidak dispensasi tersebut setelah dia menjadi mahasiswa di Universitas Budi Dharma. “Karena, bagaimanapun juga, keputusan terakhir tetap berada di tangan saya. Kalau situasi dan kondisi saya memang tidak memungkinkan saya untuk mengikuti turnamen, waktunya lebih baik saya manfaatkan untuk mengikuti perkuliahan di kampus. Daripada waktu saya terbuang percuma dan sia-sia lebih baik saya pergunakan untuk hal-hal yang lebih bermanfaat…”

Menjawab pertanyaan, apabila ternyata dalam jangka waktu lima tahun ke depan prestasinya di golf professional membuahkan hasil positif, apakah Kadek akan melanjutkan karirnya sebagai professional golfer, anak tunggal I Ketut Sugiarta – yang lahir dan besar di Cipondoh – Kota Tangerang, dan sangat tertib dalam berbahasa Indonesia – ini, sambil tersenyum menjawab: “Kita lihat saja, Om.”

Dan, bincang-bincang santai bersama Kadek Adi Aksama Putra pun berakhir sampai di sini. (Toto Prawoto)