Kepedulian Seorang Subur Sukirman

JAKARTA (IndependensI.com) – Belum genap sebulan berkumpul kembali bersama komunitas seni Bulungan, Subur Sukirman, akrab disapa Um Subur yang baru kembali dari Palu, Donggala dan Sigi, sudah pergi lagi setelah bencana Tsunami melanda pesisir pantai Banten dan Lampung.

Si Um yang satu ini seolah tidak mengenal kata lelah untuk membantu memberi penghiburan kepada para korban bencana.

Sebelum ke Serang dan Pandegelang, Um Subur bersama relawan dari Keuskupan Surabaya, Jawa Timur, terjun langsung membantu korban bencana yang sama di Palu, Donggala dan Sigi.

Bahkan, beberapa waktu sebelumnya, pun Um Subur dan rekan-rekannya dari Jakarta (saat itu masih berstatus relawan independen), bolak-balik Jakarta Lombok – sampai akhirnya “setengah” menetap di daerah bencana di Lombok tersebut, karena kehadiran Um Subur dan kawan-kawannya memang sangat dibutuhkan.

Baca juga:

Subur Mengubah Suasana Muram Menjadi Cerah-Ceria

Terlepas dari segala kekurangan yang ada pada diri Um Subur, yang jelas si Um yang satu ini memang cepat sekali beradaptasi dengan lingkungan yang sama sekali baru terutama dan khususnya dengan anak-anak.

Sehingga, anak-anak korban bencana di Lombok pun “menahan” Um Subur ketika berniat hendak kembali ke Jakarta.

Tak hanya anak-anak, para orangtua mereka pun memohon agar Um Subur jangan kembali ke Jakarta, karena mereka sangat tertolong khususnya dalam hal yang berhubungan dengan Therapy Healing terhadap putra-putri mereka.

Betul bahwa si Um yang satu ini memang tidak bercerita banyak kepada independensi.com tentang aktivitasnya saat berada di Palu, Donggala dan Sigi. Akan tetapi dapat diduga si Um kita ini, selain memberi penghiburan juga ikut membantu mendistribusikan bantuan dari pemerintah dan lembaga donor lainnya kepada masyarakat yang daerah mereka sulit dijangkau kendaraan terutama kendaraan roda empat.

Dengan pengalaman yang diperoleh secara otodidak tentang segala hal yang berhubungan dengan masalah ke-bencana-an, sebelum terjun ke lapangan Um Subur melakukan survey atau memaping titik-titik mana yang harus dituju, sehingga ketika si Um yang satu ini dilibatkan dalam pendistribusikan bantuan tidak mengalami hambatan yang berarti.

Dan, bukti bahwa si Um kita ini all out, bisa dilihat ketika suatu hari pada beberapa bulan lalu – saat si Um masih berada di daerah bencana – dia mengirimkan sebuah foto kepada independensi.com saat dia bergaya seperti “Ali Topan Anak Jalanan” beraksi di atas motor trail yang roda dan body motor tersebut belepotan penuh lumpur.

Di bawah foto tersebut Um Subur menuliskan caption yang berbunyi: “Kalau di Jakarta nggak mungkin aku naik trail membawa costumer yang memanfaatkan jasaku, Mas, ha ha ha …”

Ya, Um Subur, kalau di Jakarta, selain dikenal sebagai pemain teater dan dinetron, juga dikenal sebagai pengemudi ojek online yang mangkal di depan SMA Negeri 6 Bulungan, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

Profesi yang dilakoninya itu segera akan untuk sementara bila ada job bermain teater dan sinetron. Akan tetapi, belum genap sebulan dia kembali menekuni profesinya sebagai pengemudi OjOL, terjadi Tsunami yang melanda Banten dan Lampung.

Saat in Um Subur bersama salah seorang rekannya berada di Kampung Sumur, Pandegelang –sebuah wilayah yang belum “tersentuh” bantuan…