Prof Dr KH Ma'ruf Amin menghadiri peringatan hari lahir ke-93 NU di Kendal, Senin (4/2/2019).

Ma’ruf Amin Menyapa Ribuan Nahdliyin Kendal

JAKARTA (IndependensI.com) – Calon Wakil Presiden nomor urut 01, Prof. Dr. KH. Ma’ruf Amin menyapa warga Nahdlatul Ulama (NU) Kabupaten Kendal di Alun-alun Kendal, Senin (4/2/2019) siang. Silahturahim dengan warga NU Kendal dalam rangka memperingati Hari Lahir (Harlah) NU ke-93, diisi dengan berbagai rangkaian acara yang melibatkan seluruh warga NU tersebut.

Rangkaian cara tersebut dimulai dengan Kendal NUraga Fest yakni pentas seni Pengurus Cabang (PC) Lembaga Pendidikan Ma’arif NU dan PC Lesbumi Kabupaten Kendal. Acara karnaval budaya ditambah dengan peletakan batu pertama RSNU Kendal di Jalan Tentara Pelajar Kebondalem Kabupaten Kendal.

Sebelum ke alun-alun Kendal, KH. Ma’ruf Amin melakukan silahturahim terlebih dahulu dengan struktural PCNU Kendal. Dalam acara tersebut dihadiri Bupati Kendal Mirna Annisa, Wakil Bupati Kendal Masrur Masykur, Ketua PCNU Kabupaten Kendal KH. Muhammad Danial Royyan,
Rais Syuriah PBNU KH. Said Asrori, Katib Syuriah PBNU KH. Taufiqurrahman dan para ulama lainnya. Warga Nahdliyin begitu antusias dengan kedatngan KH. Maruf Amin, walaupun hujan turun tidak menyurutkan semangatnya.

Ma’ruf Amin mengatakan, NU sebagai organisasi terbesar di seluruh dunia, sampai saat ini tetap utuh dan tidak ada konflik. NU yang senantiasa menjaga masyarakat dengan aqidah ahlussunah wal jamaah (Aswaja), akan terus eksis sampai akhir kiamat.

“NU organisasi terbesar di dunia, dengan memiliki jamaah yang begitu besar,” katanya.

Ma’ruf Amin menuturkan, dalam rangka peringatan harlah NU menjelang 100 tahun kedua, maka harus ada pihak yang melakukan pembaharuan. Pembaharuan yang dimaksud dalam segi gerakan (red-harokah), serta melakukan pembaharuan organisasi dengan mengikuti perkembangan jaman.

“NU harus melakukan pembaharuan menjelang 100 tahun yang kedua, dan secara organisasi harus lebih baik lagi,” tuturnya.

Ma’ruf Amin melanjutkan, akhir pada 100 tahun pertama ini harus dijadikan sebagai saat menyiapkan landasan organisasi, supaya 100 tahun kedua NU langsung tinggal landas. Dalam bentuk khidmat kepada organisasi dan masyarakat seperti pembangunan rumah sakit NU, serta melakukan pemberdayaan umat.

“Semua lini jalan, jangan sampai ada organisasi di lingkungan NU yang tidak jalan dan bergerak,” lanjutnya.

Tambah Ma’ruf Amin, NU harus melakukan gerakan perlindungan terhadap pemahaman agama, daripada pemahaman yang menyimpang tidak sesuai dengan aqidah aswaja. Tantangan NU pada saat ini sudah menggunakan gerakan politik sebagai kendaraan, untuk memenangkan pilpres mengambil peran dalam kekuasaan.

“Dalam beberapa negar, tadinya Aswaja dominan bisa hilang karena kelompok anti Aswaja berkolaborasi dengan kekuasaan,” tambahnya.

Ma’ruf Amin mengkhawatirkan, pilpres yang ditunggangi kelompok anti Aswaja ini, kalau berhasil maka NU dikhawatirkan akan hilang dari peradaban. Sesuai dengan itu, pilpres ini menjadi perang ideologi, antara kelompok moderat dan radikal. Pada tokoh-tokoh struktural maupun kultural, sehingga dua-duanya bekerjasama untuk mengawal aswaja dan negara.

“Inilah salah satu alasan saya siap tampil di kontestasi Pilpres. Kita harus menjaga NKRI. Kita harus memenangkan ini dalam pilpres, dan minta doa dan dukungan pada 17 April supaya menjadi presiden dan wakil presiden,” pungkasnya.