M Al Fakih (kanan) foto bersama costumer di Malaysia

Perjuangan Tak Kenal Lelah Menjadi “Make Up Artist” Seorang M Al Fakih

JAKARTA (Independensi.com) – Perjalanan karir dalam dunia kerja maupun dunia usaha kadang sulit ditebak, terutama bagi mereka yang bersikap atau berperilaku dinamis. Selalu berpikir dalam konteks peluang, kemampuan, kemungkinan dan menjauhi pikiran-pikiran tentang keterbatasan atau ketidak-mampuan. Dinamisme merupakan kemampuan melihat sisi terang kehidupan dan memelihara sikap positif, sekalipun berada dalam kesulitan.

Sikap atau perilaku itu sangat cocok dengan apa yang dialami oleh Muhamad Al Fakih (M Al Fakih). Pria kelahiran Bogor, 28 Mei 1993 ini memulai karir sebagai SPB Momento “Watch World” Grand Indonesia 2014 lalu. Di sana M Al Fakih bekerja mendisplay barang sebelum buka toko, membersihkan area toko, menjaga toko selama jam kerja, menawarkan da menjelaskan produk kepada costumer, membuat laporan penjualan harian dan mengecek stok barang.

Ingin mendapatkan pengalaman baru di bidang lain, M Al Fakih yang lulusan SMK Arrahman Depok tahun 2012 ini mencoba menjadi sales consultant Clarks PT Anglo Distrindo Antara. Pekerjaan harian di sini mirip juga dengan yang di SPB Momento sebelumnya yakni membersihkan area toko sebelum buka, menawarkan dan menjelaskan tentang produk kepada costumer, menjaga dan merapikan butik dan membuat laporan saat closing toko.

 

Profesi tersebut dilakoni M Al Fakih hingga jelang pertengahan tahun 2017. Merasa sudah tidak memiliki tantangan lagi di perusahaan tersebut, sekitar awal Mei 2017, M Al Fakih mencoba putar haluan dengan profesi baru yang sangat jauh dari dunia sales. Kali ini profesi yang digeluti M Al Fakih tergolong banyak tantangan dan membutuhkan profesionalisme yakni sebagai Make Up Artist (MUA).

“Memasuki profesi sebagai MUA bukan pekerjaan mudah, banyak tantangan yang dihadapi,” kata M Al Fakih yang dilahirkan pasangan orang tua dari  keluarga sederhana yang memiliki sembilan anak. Keeluarga sederhana tapi keluarga besar yang harmonis.

M Al Fakih yang merupakan anak bungsu dari sembilan bersaudara dan kini tinggal bertujuh karena dua saudaranya yang laki-laki telah meninggal. “Aku perlu mengungkap perihal keluarga saya ini karena sedikit banyak memang memotivasi aku untuk terus menjadi orang yang berhasil dalam pekerjaan yang kulakukan,” kata M Al Fakih ketika ditemui Independensi.com dalam acara pameran Gebyar Perkawinan Indonesia beberapa waktu lalu.

Dia pun menguraikan bahwa Mei 2017 adalah bulan dan tahun penting secara khusus bagi dirinya karena ini awal memulai karir sebagai MUA. “Kebetuln bulan Mei juga merupakan bulan yang sama dengan bulan kelahiranku. Dan itu tampaknya bukan sesuatu yang kebetulan, melainkan atas kehendak Allah,”katanya.

M Al Fakih pun melanjutkan ceritanya bahwa karirnya sebagai MUA adalah sebuah karir yang sebelumnya tidak pernah terfikirkan oleh dirinya. Namun karir ini sekarang menjadi sebuah pekerjaan yang sangat aku cintai. Aku bangga sekali sebagai MUA. Anda tahu kenapa? Karena di sini aku menemukan begitu banyak pelajaran. “Pelajaran yang membuat pribadi ku menjadi lebih baik lagi,”katanya.

Di profesi ini pula, lanjutnya, dirinya menjadi Lebih mengerti lagi apa arti dari sebuah tanggung jawab. Lebih mengerti lagi arti dari sebuah kerja keras. Dan masih banyak lagi pelajaran hidup yang aku dapatkan karena menjalani pekerjaan ini. Intinya, tidak ada perkerjaan mudah, tidak ada keberhasilan yang dicapai tanpa kerja keras. Harus tekun dan disiplin,”tuturnya penuh semangat.

Bahkan, katanya lagi, tidak hanya itu ketika aku menjalani pekerjaan ini proses suka dan dukanya pun sangat banyak. Mulai dari keterbatasan biaya untuk membeli produk yang aku butuhkan. Lalu harus bangun pagi jam 03:00 wib, terutama ketika dapat job pagi. “Ini jelas sebuah kondisi yang tidak biasa aku lakukan. Itu terasa sangat berat, karena ketika orang sedang nyenyak tidur aku sudah harus bangun dan mulai melakukan pekerjaanku, bahkan kadang sampai tengah malam baru sampai rumah,”tuturnya.

Tantangan berat lainnya adalah soal kemampuan di mana ada aja orang yang meragukan potensi atau kemampuanku sebagai MUA. Mereka mencibir karena aku melakukan pekerjaan yang identik dilakukan oleh seorang perempuan. Dan masih banyak lagi pandangan miring lainnya…

Suka dukanya banyak sekali. Karena begitu banyak dukanya kadang membuat aku merasa lelah, putus asa dan tidak sanggup untuk menjalaninya kembali. Tapi karena aku tinggal seorang diri di Jakarta, dan aku sudah janji pada diri ku sendiri menjalani pekerjaan ini bertujuan ingin membahagiakan kedua orang tuaku, terutama ibuku, aku kembali bersemangat, bersyukur dan berjuang.

Fakih pun selalu menyemangati dirinya lewat berbagai hal:
Ku patahkan rasa lelah ku… Ku buang rasa putus asa ku…

Karena impian ibuku adalah tanggung jawabku sebagai anak bungsu yang belum menikah. Dan sekarang sudah 2 tahun aku bekerja sebagai MUA di Ibu Kota Jakarta. Profesi ini bagiku sangat membanggakan, katanya.

Meski begitu banyak duka yang aku alami saat awal memulai pekerjaan ini, tapi ketika sudah jalan 2 tahun, saat ini sukanya aku sudah mulai dirasakan. Mulai dari job berdatangan satu per satu. Kemudian, juga mulai banyak yang menyukai hasil karya ku, bahkan sampai memujinya, yang menurut aku kadang berlebihan. Namun tentu saja hal itu menyenangkan hati ku.

Berkat kerja keras dan kepuasan para costumer, maka sekarang penghasilanku sudah lumayan. Sekarang bahkan bisa menyisihkan sebagian pendapatanku buat ibuku. Itu rasanya luar biasa, bahagia dan bangga dengan diri ku. Aku sangat bersyukur sama ALLAH, karena aku dilahirkan kembali di bidang ini .. Walaupun sebelumnya bidang pekerjaan ini tidak pernah ada didalam fikiran aku sedikitpun..

Aku pun sangat bersyukur dan berterimakasih begitu banyak dipertemukan dengan banyak orang baik, hebat dan tulus dalam perjalanan karir ku di bidang ini. Mungkin tanpa Allah dan orang orang baik disekelilingku, aku nggak akan bisa sampai sekuat sekarang,..

Kedepannya aku akan tetap jadi diri aku sendiri, terus berusaha memberikan yang terbaik untuk siapapun, dan tidak bosan untuk terus belajar,.. Buat ku seorang “makeupartist” harus memiliki pribadi yang humble, murah senyum, good attitude dan selalu mengutamakan kualitas agar hasilnya rapih, bersih dan indah dilihat. Tujuannya, agar orang yang sudah memberikan kepercayaan kepada kita untuk melibatkan kita dalam acara spesialnya merasa puas dan bahagia … (Endang Nourmayanti)