Sebanyak 4.000 ekor benih ikan bandeng (nener) dan 2.000 ekor benih rajungan direstocking di perairan Natuna. Humas Budidaya KKP

Ribuan Ekor Benih Ikan Bandeng dan Rajungan Direstocking di Perairan Natuna Keppri

Loading

NATUNA (Independensi.com) – Sebanyak 4.000 ekor benih ikan bandeng (nener) dan 2.000 ekor benih rajungan direstocking di perairan Natuna. Sebagaimana diketahui rajungan merupakan jenis komoditas laut yang terus mendapat tekanan eksploitasi cukup kuat akibat penangkapan di alam. Sedangkan bandeng banyak ditangkap dari alam untuk kebutuhan indukan maupun benih.

Restocking nener bandeng berlokasi di Pantai Sahi dan dilakukan langsung oleh Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti saat kunjungan kerja ke Kabupaten Natuna Provinsi Kepulauan Riau, Minggu (4/5). Restocking nener bandeng diharapkan akan meningkatkan jumlah stocknya di alam. Mengingat ikan bandeng merupakan komoditas yang digandrungi masyarakat sehingga perlu dijaga kelestariannya agar tidak over eksploitasi.

Pada kesempatan itu, Menteri Susi mengajak semua pihak untuk peduli terhadap kelestarian dan keberlanjutan sumber daya alam laut Indonesia, termasuk berbagai komoditas ikan laut yang makin menurun stocknya di alam.

“Saya mengajak kepada aparat penegak hukum terkait untuk terus bekerja keras melindungi dan menyelamatkan sumber daya alam laut kita dari oknum-oknum masyarakat yang tidak bertanggung jawab, lebih khusus perdagangan ilegal spesies dilindungi,” pungkasnya.

Sementara itu di hari kedua juga dilakukan restocking sebanyak 2.000 ekor benih rajungan yang dilakukan oleh Kepala Balai Perikanan Budidaya Laut (BPBL) Batam, Toha Tusihadi.

Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Slamet Soebjakto saat dimintai keterangannya di Jakarta. Senin (6/5), menyatakan bahwa Kepulauan Natuna merupakan kawasan yang strategis, sehingga kelestarian sumber daya ikan yang ada di sana harus dipertahankan. Oleh karenanya, sebagai unsur teknis, Ditjen Perikanan Budidaya memiliki tanggungjawab untuk menjamin agar jenis-jenis ikan asli, dan terancam tetap terjaga keseimbangan stoknya yakni dengan mendorong inovasi teknologi pembenihan yang fokusnya untuk restocking di berbagai perairan di Indonesia.

“Perikanan budidaya ini fungsinya sebagai buffer stock. Artinya keseimbangan stok SDI di alam akan banyak bergantung pada peran perekayasaan di bidang perikanan budidaya. Jadi intinya, perikanan budidaya punya peran ganda yakni sebagai buffer stock di alam dan untuk pemenuhan kepentingan ekonomi dan pangan. Saya intruksikan ke semua UPT, agar restocking ini jadi bagian program prioritas”, tutur Slamet.

Khusus restocking rajungan, Slamet mengatakan bahwa komoditas ini hingga kini menjadi salah satu jenis yang terus mendapatkan tekanan kuat akibat eksploitasi yang berlebih. Menurutnya permintaan pasar yang besar dan harga yang menggiurkan memicu tingginya penangkapan di alam. Namun demikian dirinya menyampaikan bahwa upaya perekayasaan yang dilakukan oleh UPT Ditjen Perikanan Budidaya KKP telah berhasil membenihkan rajungan secara massal, hal ini diharapkan akan mampu mempercepat pemulihan stok di alam.

“Rajungan ini komoditas yang nilai ekonominya tinggi. Disatu sisi permintaan hampir semuanya tergantung dari alam. Nah, ini yang perlu kita selamatkan agar tidak terjadi depleting stock di alam. Oleh karenanya, KKP konsisten melakukan restocking sebagai agenda rutin. Saat ini melalui BBPBAP Jepara, kita telah bisa benihkan secara massal. Nantinya sebagian besar kita arahkan untuk restocking, sisanya untuk kepentingan budidaya. Sehingga kelak permintaan pasar kita upayakan terpenuhi dari hasil budidaya”, tambah Slamet.

Slamet berharap kedepannya restocking atau penebaran benih ke alam bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah saja, tetapi perlu kesadaran dan partisipasi masyarakat untuk melakukan restocking secara mandiri.

“Saya akan mengeluarkan surat edaran berisi ajakan agar para pembudidaya khususnya pelaku pembenihan bersedia menyisihkan minimal 2 persen dari benih yang dihasilkannya untuk dirilis ke alam atau perairan umum agar bisa memperkaya kembali plasma nutfah di Indonesia, khususnya untuk ikan-ikan yang tidak berbahaya atau in