Wakil Wali Kota Bekasi Tri Adhianto saat melihat kerajinan tangan berbahan sampah. (ist)

Atasi Persoalan Sampah: Pemkot Bekasi Luncurkan Program

BEKASI (IndependensI.com)- Keberadaan sampah di Kota Bekasi, hingga kini masih merupakan persoalan pelik. Setiap hari sampah yang masuk ke kota ini dari DKI Jakarta rata-raya 7.500 ton per hari, ditambah sampah warga setempat sekitar 1.700 ton tiap hari.

Semuanya sampah-sampah tersebut dibuang di tempat pembuangan akhir (TPA) sampah di Kecamatan Bantargebang.

Terkait hal itu, Pemkot Bekasoi, kini melaksanakan program ‘Sedekah Sampah’. Ini   dilatari kepedulian pemerintah daerah terhadap produksi sampah yang terus bertambah di kota penyangga Jakarta tersebut.

Program “Sedekah Sampah” itu diwajibkan bagi seluruh apatur sipil negera (ASN) di lingkungan Pemkot Bekasi. Dengan program ini, diharapkan pegawai Pemkot Bekasi dapat memberikan keteladan terkait pengelolaan sampah, khususnya sampah anorganik.

“Hari ini, kami meluncurkan program Sedekah Sampah. Kita memberikan contoh keteladanan kepada masyarakat lain. Jika konsisten, diharapkan dapat mengurangi sampah hingga 30 persen  di Kota Bekasi,” ujar Wakil Wali Kota Bekasi, Tri Adhianto, kemarin.

Disebutkan, Kota Bekasi berpenduduk mencapai 2,7 juta jiwa menghasilkan sampah sekitar 1.500 ton per hari. Dengan program Sedekah Sampah ini diharapkan dapat menurunkan produksi sampah hingga 30 persen atau sekitar 500 ton per hari sebelum dibuang ke TPA Sumurbatu, Kecamatan Bantargebang.

Program Sedekah Sampah ini diinisiasi Dinas Lingkungan Hidup Kota Bekasi‎, untuk mengumpulkan sampah-sampah yang dihasilkan dinas (organiasai perangkat daerah/OPD), RSUD Kota Bekasi, serta badan dan lingkungan kecamatan se-Kota Bekasi untuk dikumpulkan, ditimbang dan dibawa ke sekretariat Bank Sampah Induk Patriot (BSIP)  di Mustikajaya. Pengumpulan dilakukan di Kantor Wali Kota Bekasi setiap Senin mulai pukul 06.00-09.00 WIB.

Hari perdana pengumpulan sampah anorganik, Senin (22/7/2919) seberat 1.372 kilogram yang terdiri dari kertas koran, kardus, botol mineral. Selain itu, program Sedekah Sampah juga menerima minyak goreng bekas (jelantah) untuk diolah menjadi biogas dilakukan oleh pihak lain. Saat itu terkumpul sebanyak 17 liter jelantah. ‎

Tri menyebutkan, Pemkot Bekasi juga telah membentuk bank sampah di tingkat Rukun Warga (RW). Saat ini  ada sekitar 1.000 bank sampah terdata. Namun yang aktif sekitar 300 bank sampah.

“Bank sampah yang sudah eksis mencapai 280. Ini menunjukkan animo yang cukup baik. Makanya kita dorong lagi dengan meluncurkan program Sedekah Sampah yang dikumpulkan ke BSIP,” ujar Tri.

Bank sampah di Kota Bekasi termasuk bank sampah terbaik karena sudah bisa bertahan di tengah biaya operasional yang minim dan sudah bisa melakukan pameran di Bekasi Fashion Week, Bekasi Festival, yang memamerkan busana dari daur ulang sampah.

“Pemerintah daerah berharap, sampah yang ada dikelola dan menghasilkan sesuatu yang berguna. Saat ini, kita upayakan mesin pencacah agar nilai jual sampah yang dihasilkan memiliki nilai yang lebih baik lagi,” katanya.

Diakui, produksi sampah per harinya, sesuatu yang luar biasa dan emergency. Sementara kemampuan ekosistem di TPA Bantargebang, tidak mampu lagi menampung beban sampah yang ada. Maka, harus ada upaya untuk mengatasi ini, untuk mengurangi pembuangan sampah ke Bantargebang, melalui Sedekah Sampah. (jonder sihotang)