Kepala Staf Kepresidenan Jenderal Purn Moeldoko

Eli Cohen (Mossad) di Suriah, Moeldoko di Istana Jokowi

JAKARTA (Independensi.com) – Antara Eliahu ben Shaoul Cohen atau Eli Cohen (26 Desember 1924 – 18 Mei 1965), agen spionase Ha-Mossad le-Modiin ule-Tafkidim Meyuhadim (disingkat Mossad), Dinas Intelijen Israel, dengan Jenderal Purnawirawan Moeldoko (62 tahun) selaku Kepala Staf Presiden (KSP) di Istana Negara, Jakarta, Republik Indonesia, memang tidak ada hubungan sama sekali.

Eli Cohen, merupakan agen spionase paling sukses dan hampir sempurna pasca Perang Dunia II, 1941 – 1945, di dalam melakukan tugas operasi intelijen, demi kepentingan Israel dalam perang perebutan Dataran Tinggi Golan dengan Suriah tahun 1965, sehingga dihukum gantung di Damascus, Suriah (Syria), 18 Mei 1965, dalam usia 40 tahun.

Dalam melakukan tugas spionase bagi Mossad, Eli Cohen berhasil masuk ke lingkaran utama Kementerian Pertahanan Suriah. Tapi pada Januari 1965, Komitet Gosudarstvennoy Bezopasnosti (KGB) atau Komite Keamanan Negara The Union of Soviet Socialist Republics (USSR) atau Federasi Rusia yang disewa Dinas Intelijen Suriah, berhasil menyadap pesan yang sedang dan sudah dikirimkan Eli Cohen dari Damascus ke Israel.

Akibatnya, Eli Cohen kelahiran Alexandria, Mesir, 26 Desember 1924, dihukum gantung di lapangan terbuka di Damascus, disaksikan ribuan orang, 18 Mei 1965. Tapi wilayah Dataran Tinggi Golan, sampai sekarang di Timur Tengah, masih di dalam penguasaan Israel.

Jenderal Moeldoko

Sedangkan Jenderal (Purn) Moeldoko, Kepala KSP, bercokol di Istana Negara Jakarta, di era Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo (Jokowi) sejak 18 Januari 2018.

Jokowi adalah Presiden Republik Indonesia, dua periode 20 Oktober 2014 dan 20 Oktober 2024, karena dalam Pemilihan Umum (Pemilu) Presiden Indonesia, Rabu, 17 April 2019, terpilih kembali untuk periode kedua sampai 20 Oktober 2024.

Jenderal (Purn) Moeldoko, kelahiran Kediri, Provinsi Jawa Timur, 8 Juli 1957, mantan Panglima Tentara Nasional Indonesia (TNI) periode 30 Agustus 2013 – 8 Juli 2015 dan menjadi Kepala Staf Presiden (KSP) sejak 18 Januari 2018 sampai sekarang

Kendati demikian, ada pihak yang mempersoalkan eksistensi Moeldoko sebagai Kepala KSP, karena dinilai memiki agenda sendiri, sehingga keberadaannya dikhawatirkan mirip agen spinoase Mossad, Israel, dalam menyadap informasi dari lingkaran dalam Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo.

Kritikan keras sangat menohok, terungkap dalam akun facebook Aznil Tan, pukul 21.00 WIB, Senin, 10 Februari 2020, berjudul: “Kuda Troya SBY sedang “membantai Jokowi dalam Istana”

Aku facebook Aznil Tan, Direktur Eksekutif Indonesian Future Development Study (INFUDS), pada pukul 21.00 WIB, Senin, 10 Februari 2020, mengatakan, “Bukan sosok yang hebat diri SBY kalau bukan sosok yang bisa jadi Presiden Republik Indonesia selama 2 periode.”

“Masih banyak yang meremehkan kepiawaian mantan Kepala Staf Teritorial (Kaster) TNI ini dengan menganggap dia bisa menjadi orang nomor satu di republik ini karena faktor keberuntungan.”

SBY dimaksud adalah Susilo Bambang Yudhoyono, Presiden Republik Indonesia, periode 20 Oktober 2004 – 20 Oktober 2024 yang pernah menjadi Kepala Staf Territotorial (Kaster) Tentara Nasional Indonesia (TNI), 1998-1999.

Presiden SBY lahir di Tremes, Arjosari, Pacitan, Jawa Timur, 9 September 1949 (70 tahun), sementara Presiden Jokowi lahir di Surakarta, Jawa Tengah, 21 Juni 1961 (58 tahun).

“Para filosof sering mengatakan di dalam politik itu tidak ada yang kebetulan, semuanya by design.”

Sosok SBY

Begitu juga ketika kehadiran sosok SBY. SBY, menurut Aznil Tan, bukan hadir secara kebetulan.

Dalam kondisi sulit pada Pemilu Presiden 2004, menurut Aznil Tan, dalam akun facebooknya, Senin, 10 Februari 2020, dia (SBY) mampu menjadi presiden RI mengalahkan Presiden Megawati Soekarnoputri, melawan incumbent dan sosok yang sangat berpengaruh.

Sementara kala itu dia (SBY) cuma seorang Menteri (Koordinator Politik dan Keamanan) bawahan Presiden Megawati, yaitu sebagai Menkopolhukam dan baru memiliki partai yang pertama kali mengikuti pemilihan umum pada tahun 2004 yang hanya meraih suara sebanyak 7,45%.

“Sekarang ketika paska presiden RI, apakah SBY duduk manis menikmati masa pensiunannya? Jawabnya : Tentu, tidak!”

“Syahwat untuk kembali berkuasa masih tinggi. Pria kelahiran 9 September 1949 ini di Pemilu 2024 nanti masih berumur 75 tahun. Sebuah umur tidak tua-tua amat kembali jadi presiden dibandingkan Mahathir Mohamad yang bisa kembali menjadi Perdana Menteri Malaysia diusia 92 tahun.”

“Sebagai mantan Kaster TNI dan seorang bergelar Doktor, dia memahami strategi dan karakter masyarakat Indonesia. Dia adalah seorang pengagung perfeksionis. Sosok yang tenang tapi menghanyutkan. SBY menyusun barisannya dengan rapi dan tertib.”

“Analisa saya, SBY sedang menjalankan sebuah operasi senyap yang mematikan. ‘Yaitu muslihat Kuda Troya’. Sebuah muslihat memasukkan orang-orangnya ke dalam Istana untuk “membantai” Jokowi dari dalam.”

“Bagi SBY legenda Kuda Troya, zaman Yunani bukan sekedar dongeng. Mitologi itu menginspirasi dirinya dalam kancah dunia persilatan politik.”

Alkisah pada abad 13 SM, tulis Aznil Tan di dalam akun facebook-nya, sebuah kota Troya selama 10 tahun dikepung oleh Yunani tetapi selalu gagal. Timbullah ide oleh panglima perang Yunani bernama ‘Odysseus’ membuat sebuah tipu muslihat untuk menaklukkan benteng kota Troya yang kokoh dan sulit ditembus.

Analogi Yunani

Odysseus lalu membangun patung kuda kayu raksasa yang di dalamnya berongga dan bisa diisi sepasukan tentara Yunani. Pada pagi hari, orang-orang Troya tidak lagi melihat pasukan Yunani, mereka lantas mengira Yunani telah menyerah. Mereka hanya melihat patung kuda raksasa tergeletak tidak jauh dari benteng Troya.

“Dibuatlah skenario, Sinon ditugaskan untuk mengelabui tentara Troya untuk keluar. Dia mengatakan bahwa dirinya adalah calon korban bagi Athena yang marah karena Palladium dicuri. Lalu dia kemudian melarikan diri pada malam hari dan tidak mau lagi menjadi orang Yunani.”

“Dengan tipu licik”, tulis Aznil Tan dalam akun facebooknya, “Sinon berkisah bahwa kuda kayu raksasa tersebut adalah persembahan kepada dewa Athena yang hendak dibakar oleh Yunani. Apabila dihancurkan oleh pihak Troya maka kemarahan dewa Athena akan berbalik kepada Troya.”

“Mendengar itu, orang-orang Troya tidak menghancurkan atau membakarnya melainkan mengangkut kuda raksasa beroda tersebut ke dalam kota.”

“Ketika semua penduduk sudah terlelap pada malam hari, pasukan Yunani keluar dari dalam patung, membuka pintu gerbang kota, dan balatentara Yunani yang ternyata hanya bersembunyi di sebuah pulau, mengalir masuk ke dalam kota. Malam itu kota dibakar, penduduknya dibantai, dan Troya dihapus dari muka bumi.”

“Kisah Kuda Troya hampir persis sedang terjadi pada diri Jokowi saat sekarang. Masuknya orang-orang SBY ke istana kuat diduga untuk ‘membantai’ Jokowi dari dalam seperti legenda Kuda Troya.”

“Kisah ini dimulai dengan memasukkan Moeldoko ke dalam Istana yang diduga berperan sebagai Odysseus. Mantan panglima TNI yang kaya raya di era SBY ini berpura-pura berkhianat kepada SBY.”

“Lalu ada berapa orang ‘pembisik Jokowi’ yang tamak dan rakus berperan sebagai Sinon sang pembohong bahwa Moeldoko seorang prajurit bisa dipercaya dan siap pasang badan untuk Jokowi menghadapi oposisi dan menangkis isu radikalisme yang sedang lagi marak. Tak lupa Pembisik bayaran tersebut membisikkan bumbu strategi Sun Tzu, yaitu menyandera lawan dari dalam.”

Tipu daya Moeldoko

“Lalu diaturlah timingnya pada waktu pernikahan Kahiyang Ayu dengan Bobby di Graha Saba Buana pada tanggal 8 November 2017. Moeldoko secara misterius diplot sebagai perwakilan keluarga Jokowi memberi kata sambutan dengan pidatonya ‘Istana Hati’ di tengah para dedengkot Jokower hadir pada saat itu.”

“Jokowi pun terpesona dengan tipu daya tersebut. Pada tanggal 17 Januari 2018, Moeldoko yang pernah menjadi Panglima TNI semasa pemerintahan SBY tiba-tiba secara mengejutkan ditunjuk oleh Jokowi sebagai Kepala Kantor Staf Presiden (KSP) mengantikan Teten Masduki.”

KSP seharusnya diisi oleh All President Man sebagai mata telingga Jokowi mengawal program-program prioritas nasional tetapi Jokowi begitu ceroboh mempercayakan kepada musuh.

“Para Jokower yang setia dari awal dan berperan besar dalam kemenangan Jokowi terpaksa mengurut dada atas masuknya Moedoko menempati posisi tersebut. Sejak itu hubungan batin relawan dengan Jokowi mulai terhambat secara pelan-pelan, kecuali relawan yang dimanfaatkan oleh Moeldoko untuk ‘didagangkan’”

“Moeldoko yang sudah berhasil masuk ke dalam istana lalu membuka pintu gerbang istana untuk memasukkan bala tentara SBY yang sedang tidak sabaran menunggu di seberang istana. Meski waktu masih senja hari, hal itu tidak membuat kecurigaan para penjaga istana.”

“Para relawan pun menganggap hal tersebut wajar-wajar saja sebagai hak prerogatif presiden. Apalagi beberapa relawan berhalusinasi sedang diproses sebagai daftar komisaris dan berbagai posisi jabatan lainnya yang dihembuskan oleh para pasukan Moedoko.”

Dalam akun facebooknya, Aznil Tan, menulis, ada 3 misi Kuda Troya masuk Istana yang kuat diduga sedang dioperasikan.

Pertama, menggagalkan program-program prioritas nasional Jokowi agar menjadi mangkrak dan kacau. Bahwa pencitraan Jokowi sebagai sang presiden eksekutor yang gila kerja menjadi terbalik.

Opini publik menilai bahwa Jokowi adalah pembohong dan lebih buruk dari pemerintahan sebelumnya serta tidak produktif dan hanya menambah hutang negara.

Targetnya SBY adalah dia dikenang rakyat sebagai presiden terbaik dimiliki oleh Indonesia yang bisa membangun pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 6,5% dibandingkan Jokowi yang hanya 5%.

Kasus korupsi

Kedua, menyelamatkan SBY dan kroni-kroninya dari kasus skandal korupsi yang marak terjadi di semua lini semasa pemerintahan SBY selama 10 tahun.

Targetnya agar kasus korupsi tidak terungkap dan Jokowi dituding sebagai pelakunya.

Ketiga, membuat kejahatan dari dalam sehingga publik menyalahkan Jokowi sebagai sosok presiden yang tidak baik dan lebih busuk.

“Targetnya adalah publik membenci Jokowi dan pemerintahan Jokowi goyang serta mengalami krisis kepercayaan rakyat,” tulis Aznil Tan.

Menurut Aznil Tan, untuk melaksanakan misi pertama, Moeldoko sebagai Kepala KSP bertugas melakukan pelemahan pada program Nawa Cita (sekarang Program Indonesia Maju) yang sedang diharapkan rakyat terjadi perubahan pada nasibnya.

Tugas KSP sebagai tangan kanan Jokowi dalam pengendalian Program-program Priotas Nasional dibawah kepemimpinan Moeldoko tidak berfungsi dan malah dijadikan alat bermain kebusukan ditengah kebusukan. Terbukti Jokowi sering mengalami kelabakan dan kekecewaan berat tidak terlaksananya program-program yang ia perintahkan.

Penyelesaian konflik agraria yang ditangani oleh KSP, menurut Aznil Tand, nyaris tidak ada titik penyelesaiannya. Ganti lahan tanah masyarakat yang dipakai untuk pembangunan proyek infrastruktur terjadi permasalahan dimana-mana. Pembangunan kilang minyak mangkrak.

Penetapan harga gas yang standar bebas mafia belum juga terkendali. Begitu juga berbagai program-program lainnya yang membuat Jokowi mulai marah.

Untuk melaksanakan misi kedua, Moeldoko memasukan Harry Prasetyo, mantan direktur keuangan Jiwasraya ke dalam patung kuda Troya yang ikut masuk ke dalam istana. Dia sebenarnya dipersiapkan sebagai martir dalam melaksanakan misi SBY yang dia sendiri tidak sadar atas raja teganya menumbalkan dirinya.

Tahun bencana

SBY sadar bahwa pada tahun 2019 akan menjadi tahun bencana bagi dirinya beserta kroninya jika tidak diantisipasi dari dini. Beberapa perusahaan asuransi plat merah yang sudah mereka rampok keuangannya akan mengalami kebangkrutan dahsyat.

Tahun 2019 adalah tahun jatuh tempo pembayaran para pemegang polis asuransi Jiwasraya yang nilainya mencapai hingga Rp13,74 triliun. Begitu juga asuransi ASABRI yang nilainya mencapai hingga Rp16 triliun.

Selama ini kebusukan perampokan uang Jiwasraya dan Asabri dengan menyulap laporan keuangannya agar terlihat sehat. Sedangkan perampokan tersebut sudah lama berlangsung sejak 2006.

Dari revaluasi asset diketahui bahwa PT Jiwasraya tidak ada lagi punya cash flow karena duitnya sudah habis dirampok yang kuat diduga digarong para gerombolan SBY bersama koruptor lainnya berpesta-pora pamer kemewahan dan menumpuk harta kekayaan.

Untuk mengantisipasi ledakan bom waktu Jiwasraya dan Asabri tersebut maka dimasukkan lah Harry Prasetyo kedalam istana dengan status sebagai Tenaga Ahli Utama KSP.

“Ketika terbongkarnya kasus Jiwasraya dan Asabri yang membuat rakyat goncang lalu publik ramai-ramai menuding Jokowi pelakunya,” tulis Aznil Tan.

Jokowi dianggap, tulis Aznil Tan, mengunakan Harry Prasetyo sebagai orang istana untuk merampok uang Jiwasraya untuk biaya Pemilu.

Harry Prasetyo

Agar operasi terlihat alami, Moeldoko melakukan klarifikasi bahwa dia kecolongan merekrut Harry Prasetyo dan tidak melindunginya. Sedangkan Harry Prasetyo itu adalah bagian dari by design yang dipersiapkan sebagai tumbal dalam operasi Kuda Troya SBY.

SBY pun tak kalah gesit lalu menyambar kasus ini dengan membuat rilis bahwa ada dana Jiwasraya mengalir ke Istana Negara pada Pemilu 2019.

Seperti biasa, SBY berlagak orang bijak dan komprehensif melihat permasalahan. SBY menulis pesan di akun facebooknya, “Tidak perlu ada gerakan atau teriakan turunkan Jokowi.”

Sekarang Partai Demokrat bersama Partai Keadilan Sejahtra (PKS) meminta diadakan Pansus di DPR.

Operasi Kuda Troya tidak sampai di situ saja. Untuk melaksanakan misi ketiga, tulis Aznil Tan di dalam akun facebooknya, sekarang Moeldoko sedang membuka gembok pintu Istana selebar-lebarnya buat orang-orang SBY untuk masuk kedalam istana.

Tanpa ada nomenklatur diatur dalam Peraturan Presiden Nomor 83 Tahun 2019, Moeldoko membentuk 13 Penasihat KSP untuk memasukan orang-orang tangan kanan SBY, seperti Kuntoro, Purnomo dan beberapa orang lainnya.

Bersih-bersih

Ini, menurut Aznil Tan, adalah sebuah muslihat yang sangat licik dan sangat mematikan. Jokowi pun seperti tersandera.

Cita-cita Indonesia Maju yang ditunggu oleh rakyat terancam sedang dijegal. Relawan pun sudah mulai terpecah. Partai politik pengusung Jokowi seperti saling jegal-jegalan .

Menurut Aznil Tan, secara hukum kasus Kuda Troya ini sulit dijadikan sebuah konspirasi kejahatan untuk diseret ke ranah hukum sebagai tindakan upaya kudeta. Ini harus dilawan dengan cara politik.

Pertama-tama, usul Aznil Tan kepada Jokowi harus dulu sadar dengan sesadar-sadarnya bahwa dia sedang ‘dibantai’ oleh para penyelusup SBY masuk ke istana. Jokowi tidak boleh lurus-lurus saja memandang permainan politik di Indonesia.

Menganggap orang sekitarnya adalah orang-oran yang mempunyai itikad baik untuk memajukan Indonesia.

Para relawan Jokowi, ungkap Aznil Tan, harus solid dan jangan terlena dengan sosok Moeldoko sebagai kepala KSP. Relawan harus kembali pada jati dirinya bahwa relawan itu adalah pendukung Jokowi bukan pendukung sosok lain.

Aznil Tan, mengingatkan tim Relawan Jokowi, harus mengingatkan Jokowi bahwa KSP itu harus diisi oleh Jokower sejati seperti West Wing di United State of America (USA) yang dikuasai sepenuhnya oleh All President Man bukan para penyelusup dan penumpang gelap. Relawan lah yang sesungguhnya memiliki passion dan idealis untuk mengawal Indonesia Maju, bukanlah orang lain.

Para partai politik pengusung Jokowi pun jangan berlagak seperti tidak mengerti muslihat Kuda Troya dimainkan oleh SBY tersebut. Para partai politik tidak boleh membiarkan upaya ‘pembantaian’ Jokowi dari dalam.

Partai politik pengusung Jokowi-Ma’ruf Amin di dalam Pemiliu Presiden 20109, tulis Aznil Tan, harus segera bergerak menyelamatkan Visi Indonesia Maju yang sedang terancam digembosi.

“Parpol dan Relawan bersama Jokowi untuk segera melakukan aksi bersih-bersih istana dari para penyelusup sebelum menjadi prahara melanda Indonesia.”

Bantahan Moeldoko

Terkait isu nepotisme di tubuh Kepala Kantor Staf Presiden (KSP) Jenderal (Purn) Dr H Moeldoko, S.I.P (62 tahun), mengakui anaknya bernama Joanina Rachma, magang di Kantor KSP, menanggapi laporan ke Ombudsman mengenai kabar anaknya magang di KSP.

Jenderal (Purn) Moeldoko, menilai, tak ada peraturan perundang-undangan yang dilanggar ketika anaknya magang di KSP. Menurut Moeldoko, anaknya tidak mendapat fasilitas negara ketika magang di KSP sehingga tak ada yang dilanggar.

“Orang di KSP itu kan ada magang. Kalau magang siapa saja boleh. Cek saja. Magang itu makan siang aja enggak dapat. Enggak ada fasilitas, gaji juga enggak ada,” kata Moeldoko di Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu, 26 Februari 2020.

Moeldoko dilaporkan ke Ombudsman oleh Aznil Tan pada Selasa, 25 Februari 2020, lanataran diduga melanggar Peraturan Presiden Republik Indonesia, Nomor 83 Tahun 2019, tentang Kantor Staf Presiden karena telah mengangkat 13 orang Tim Penasihat.

Bela Moeldoko

Salah satu Anggota Tim Relawan Joko Widodo, Mulyadi, menganggap celotehan Aznil Tan, merupakan serangan terhadap Kepala Staf Presiden Moeldoko. Penyebabnya karena Aznil Tan, gagal menjadi Staf Ahli Utama Kantor Kepala Staf Presiden (KSP). Menurut Mulyadi, tindakan Aznil Tan, sangat memalukan, naif, dan provokatif.

Menurut Mulyadi ocehan Aznil Tan menyerang Moeldoko, sarat aroma sakit hati dan dendam. Dia menambahkan pernyataan Aznil seperti ini pernah digunakan saat Pilpres 2019. Pernyataan Aznil Tan, kata Mulyadi, berisi hoax, serapah, ujaran kebencian, fitnah, hujatan, dan hasutan.

“Dia mau beralasan dan berkilah apapun, faktanya Azril Tan batal jadi Tenaga Ahli Utama KSP, sebab itu tidak perlu berceloteh dan menyerang Moeldoko. Semua pernyataannya hoax mirip seperti dalam Kampanye Pemilihan Umum 2019,” ujar Mulyadi, di Jakarta, Selasa, 3 Februari 2020.

Di Jakarta, Selasa, 11 Februari 2020, Mulyadi, mengakui, “Setelah memfitnah keterlibatan KSP Moeldoko dalam kasus Jiwasraya, Aznil Tan menyebarkan fitnah bahwa Moeldoko adalah kaki tangan (kuda troya) Susilo Bambang Yudhoyono untuk membantai Jokowi dari dalam Istana, karenanya, Moeldoko memasukkan para loyalis SBY sebagai Tenaga Ahli dan Penasehat KSP.”

Mulyadi kemudian mempertanyakan kewarasan logika Aznil Tan tentang 2 tuduhan fitnah tersebut.

Sebab, apa yang dituduhkan Aznil itu sangat tidak mendasar dan cenderung fitnah sehingga membuat kegaduhan.

“Adapun di dalam politik itu tidak ada kawan dan lawan yang abadi, yang ada adalah kepentingan abadi. Jika dulu banyak orang menyukai dan berteman dengan Susilo Bambang Yudhoyono, Presiden Republik Indonesia, 2004 – 2014, lantas muncullah pemimpin baru Jokowi dan diapun menyukai bahkan turut berjuang untuk suksesnya Jokowi menjadi Presiden di periode pertama dan kedua apakah itu salah,” tutur Mulyadi.

Karena itu, Mulyadi, menyarankan Aznil Tan segera meminta maaf atas tuduhan yang dialamatkan kepada Moeldoko.

Bahkan di Jakarta, Selasa, 11 Februari 2020, Mulyadi mengancam melaporkan Aznil Tan kepada pihak berwajib bila mana, tidak mengindahkan somasi Tim Relawan Jokowi. (Aju)