Presiden Jokowi dan Presiden Xi Jinping

Covid-19 Ujian Terberat Diplomasi China

Oleh Aju

Kalangan dunia internasional dari Negara Barat, menjadikan momentum membangun persepsi politik anti-China, sebagai dampak wabah penyakit menular corona, Corona Virus Disease-19 (Covid-19).

Covid-19 menjadi ujian terberat dan terbesar di dalam diplomasi China. Covid-19 berpotensi menjadi gelombang kebencian meluas karena Wuhan, China, tempat awal mula penyebaran virus pada Desember 2019, dan sekarang melanda hampir semua negara di dunia.

Para pesaing China, terutama kelompok Amerika Serikat dan sekutunya, akan menjadikan momen Covid-19, untuk mempengaruhi persepsi politik international.

China mesti segera melakukan diplomasi relevan di dalam mengelimir kebencian global yang bisa meluas, dampak penyebaran Covid-19. Demikian benang merah analisis Kantor Berita Nasional Inggris berbasis di London, Reuters, Selasa pagi, 5 Mei 2020.

Negara Barat, memanfaatkan momen Covid-19, serta pelanggaran hak azasi manusia klasifikasi berat dalam peristiwa penembakan brutal ribuan demonstrans di lapangan Tiananmen, 1989, paling tidak untuk membuyarkan konsentrasi China, di dalam melakukan okupasi terstruktur dan masif di Perairan Laut China Selatan.

Apabila China berhasil keluar dari tekanan persepsi politik negatif international, bentukan Amerika Serikat dan sekutunya, akibat Covid-19, maka, negara ini, otomatis menjadi kekuatan tangguh di bidang ekonomi dan militer di tingkat dunia yang tidak akan bisa dibendung, minimal di dalam beberapa dekade.

China kekuatan baru

China, sekarang, sebuah negara dengan komunis sebagai partai penguasa, menjadi kekuatan ekonomi, politik dan pertahanan baru di Dunia. China menjadi negara maju, karena konsisten, terukur, inovatif, utamakan kepentingan nasional di dalam membangun stabilitas politik dan keamanan.

China membuktikan kepada dunia internasional, bahwa kemampuan sebuah negara di dalam menyesuaikan diri di dalam perkembangan regional, nasional dan internasional, menjadi salah satu kunci utama di dalam keberhasilan pembangunan nasional.

Kepiawaian dan inovatif China, melalui penerapan ideologi sosialis – komunis dikolaborasi dengan ideologi liberalis – kapitalis, serta disinergikan dengan kebudayaan masyarakat lokal, dengan trilogi peradaban kebudayaan Asia, yaitu hormat dan patuh kepada leluhur, hormat dan patuh kepada orangtua, serta hormat dan patuh kepada negara, menjadi kunci kemajuan negara itu.

China sukses meramu program pembangunan, koloborasi ideologi sosialis – sosialis dan liberalis – kapitalis, tapi di dalam implementasinya disesuaikan dengan trilogi peradaban Kebudayaan masyarakat di Benua Asia, yaitu hormat dan patuh kepada leluhur, hormat dan patuh kepada orangtua, serta hormat dan patuh kepad negara (Aju: 2020).

Kunci kemajuan sebuah bangsa, adalah kesiapan masyarakatnya di dalam mengisi pembangunan. Profil China, membuktikan kepada dunia international, tentang pentingnya konsistensi negara di dalam menyusun panduan pembentukan karakter dan jatidiri/identitas masyarakat yang bersumber dari kebudayaan setempat melalui sistem religinya (A.M. Hendropriyono: 2013; Aju: 2020).

China sangat terbuka terhadap transfer teknologi dan inovasi dalam berbagai aspek dari negara lain, tapi aplikasinya di dalam negeri, harus disesuaikan dengan alam dan kebudayaan masyarakat di China (A.M. Hendropriyono: 2013).

Banyak negara sekarang tergantung dengan China di bidang ekonomi. Malah utang Amerika Serikat (AS) ke China menduduki peringkat pertama, lebih besar dari utang negara mana pun ke China. Per Juni 2017, China memegang surat utang Pemerintah Amerika Serikat senilai US$1,15 triliun atau Rp15.295 triliun, naik US$44 miliar dalam sebulan (Detik.com, Rabu, 30 Agustus 2017).

Sementara dua tahun kemudian, per Maret 2019, naik lagi. Data US Treasury menunjukkan investor asal China, baik pemerintah maupun swasta, memegang Treasury senilai US$12 triliun atau sekitar Rp16.231 triliun. China sebagai pemegang asing terbesar atas obligasi negara Amerika Serikat. Di posisi kedua adalah Jepang dengan kepemilikan US$1,08 triliun disusul Inggris Raya dengan “hanya” US$317 miliar.

Namun, dalam periode 12 bulan yang berakhir Maret, kepemilikan US Treasury oleh China turun US$67,2 miliar atau sekitar 5,6%. Langkah China melepas obligasi Ameria Serikat diperkirakan sebagai salah satu upayanya untuk mempertahankan nilai mata uang yuan.

Keputusan China melepas obligasi Amerika Serikat dengan lebih agresif diperkirakan oleh beberapa ekonom akan menjadi opsi “senjata nuklir” atau pamungkas bagi negara Asia Timur itu yang dapat memperburuk negosiasi dagang yang tengah berlanjut.

Dampak penjualan kepemilikan obligasi oleh China itu memang masih samar. Beberapa ahli memperkirakan jika Beijing benar-benar melepas kepemilikannya, hal itu akan memicu lonjakan suku bunga dan dapat membuat ekonomi Amerika Serikat kacau-balau (CNBC Indonesia, 17 Mei 2019).

Dalam posisi itu, Amerika Serikat harus bersiap menghadapi kemungkinan konflik militer dengan China. Pejabat Senior Administrasi Presiden Amerika Serikat, Donald John Trump, Kamis, 21 Februari 2020, hal ini dapat dilakukan dengan mengembangkan senjata baru, memperkuat hubungan dengan sekutu dan meningkatkan efisiensi Pentagon.

“Pertaruhan atas tantangan konflik dengan China, dengan kata lain, sangat hebat,” kata Chad Sbragia, Wakil Asisten Menteri Pertahanan Amerika Serikat untuk China. “Ini adalah proses jangka panjang. Kita harus gesit, pintar.”

Mengutip South China Morning Post, Chad Sbragia, mantan Atase Pertahanan Amerika Serikat di Beijing, China, mengatakan kepada Komisi Tinjauan Ekonomi dan Keamanan Amerika Serikat – China bahwa Tentara Pembebasan Rakyat, The People’s Liberation Army (PLA) China adalah musuh yang semakin tangguh yang menggabungkan ambisi lama dengan sumber daya baru yang belum pernah terjadi sebelumnya (Kontan.co.id, Jumat, 21 Februari 2020).

Tahun 2019 China mengumumkan anggaran pertahanan 1,19 triliun yuan (US$177,61 miliar), sedikit meningkat dibandingkan 2018 mencapai 1,107 triliun yuan. Kekuatan militer China telah berkembang secara dramatis dalam beberapa tahun terakhir.

International Institute of Strategic Studies (IISS) mencatat, sejak 2014, China telah meluncurkan lebih banyak kapal selam, kapal perang, kapal amfibi utama.

Alat Utama Sistem Senjata (Alutsista) China, ternyata sudah mensuplai kebutuhan militer Jerman, India, Spanyol, Taiwan, dan Inggris. Presiden China, Xi Jinping, telah menjabarkan tujuan-tujuan penting, untuk menjadi negara maju pada tahun 2049 (Rajeswari Pillai Rajagopalan: 2019).

Kekuatan militer China membuat Pakta Pertahanan Atlantik Utara, North Atlantic Treaty Organization (NATO) ketar-ketir. Sekretaris Jenderal NATO, Jenderal Stoltenberg, bahkan menyatakan hal itu bakal berdampak terhadap keamanan kawasan Asia terkait sengketa di Laut China Selatan.

“Kami sudah memantau kekuatan China dan dampaknya terhadap seluruh sekutu. China adalah negara dengan anggaran pertahanan kedua terbesar di dunia. Mereka saat ini memperlihatkan kekuatannya dan membangun persenjataan seperti rudal jarak jauh yang bisa mencapai Eropa dan Amerika Serikat,” kata Jenderal Stoltenberg, di sela-sela Konferensi Tingkat Tinggi NATO di London, Inggris, Rabu, 4 Desember 2019.

Menurut Stoltenberg, NATO harus menanggapi dengan serius. KTT NATO seharusnya hanya membahas masalah berkaitan dengan Eropa dan Amerika. Namun, China dimasukkan ke dalam pembahasan karena NATO menganggap pengaruh negara itu semakin kuat.

“Ini bukan dimaksudkan memindahkan NATO ke Laut China Selatan tetapi untuk mengingatkan bahwa pengaruh China semakin mendekat ke Arktik, Afrika bahkan mereka menanamkan modal dalam infrastruktur di Eropa, terutama dalam bidang siber,” ujar Stoltenberg.

NATO sangat cemas dengan penggerakan militer China semakin tidak terkendali di Laut China Selatan, dalam perebutan sejumlah pulau-pulau kecil yang kaya akan minyak lepas pantai di sekitar Kepulauan Spratly dan Paracel.

China diklaim sudah membangun pangkalan militer, diperkuat penempatan Peluru Kendali (Rudal) anti-kapal dan Rudal surface-to-air pos terdepan Rudal di Spratly – Api Cross Reef, Subi Reef dan Mischief Reef—yang terletak antara Vietnam dan Filipina (CNN Indonesia, Rabu, 4 Desember 2019; Bitzinger: 2003, 2011; Dreyer J.T, 2007; Indoprogress.com, Senin, 25 Nopember 2019).

Global Firepower tahun 2019, merilis peta kekuatan militer dunia, dimana China menempati urutan ketiga terkuat di dunia. Urutan sebagai berikut, Amerika Serikat, Federasi Rusia, China, India, dan Perancis.

Pertama, Amerikat Sekiat, Power Index Rating: 0.0615 (0.0000 menjadi sempurna), Total populasi Amerika Serikat: 329,256,465 jiwa. Total personel militer: estimasi 2,141,900 personel. Total Aset Angkatan Laut: 415. Total kekuatan pesawat: 13,398 (peringkat 1 dari 137 negara). Pesawat Tempur: 2,362 (peringkat 1 dari 137 negara). Tank Tempur: 6,287 (peringkat 3 dari 137 negara). Anggaran Pertahanan: US$716 miliar atau Rp10,075 triliun

Kedua, Federasi Rusia. Power Index Rating: 0.0639. Total populasi Federasi Rusia: 142,122,776 jiwa. Total personel militer: estimasi 3,586,128 personel. Total Aset Angkatan Laut: 352. Total kekuatan pesawat: 4,078 (peringkat 2 dari 137 negara). Pesawat Tempur: 869 (peringkat 3 dari 137 negara). Tank Tempur: 21,932 (peringkat 1 dari 137 negara). Anggaran Pertahanan: US$44 miliar atau Rp619 triliun.

Ketiga, China. Power Index Rating: 0.0673. Total populasi China: 1,384,688,986 jiwa. Total personel militer: estimasi 2,693,000 personel. Total Aset Angkatan Laut: 714. Total kekuatan pesawat: 3,187 (peringkat 3 dari 137 negara). Pesawat Tempur: 1,222 (peringkat 2 dari 137 negara). Tank Tempur: 13,050 (peringkat 2 dari 137 negara). Anggaran Pertahanan: US$224 miliar atau Rp3,152 triliun.

Keempat, India. Power Index Rating: 0.1065. Total populasi India: 1,296,834,042 jiwa. Total personel militer: estimasi 3,462,500 personel. Total Aset Angkatan Laut: 295. Total kekuatan pesawat: 2,082 (peringkat 4 dari 137 negara). Pesawat Tempur: 520 (peringkat 4 dari 137 negara). Tank Tempur: 4,184 (peringkat 6 dari 137 negara). Anggaran Pertahanan: US$55,2 miliar atau Rp776 triliun

Kelima, Perancis. Power Index Rating: 0.1584. Total populasi Perancis: 67,364,357 jiwa. Total personel militer: estimasi 388,635 personel. Total Aset Angkatan Laut: 118. Total kekuatan pesawat: 1,248 (peringkat 8 dari 137 negara). Pesawat Tempur: 273 (peringkat 10 dari 137 negara). Tank Tempur: 406 (peringkat 44 dari 137 negara). Anggaran Pertahanan: US$40,5 miliar atau Rp569 triliun (Merdeka.com, Jumat, 15 Nopember 2019).

Titik tertinggi

Awal April 2020, Kementerian Keamanan Negara kepada para pemimpin Beijing termasuk Presiden Xi Jinping, menyimpulkan bahwa sentimen global anti-Cina berada pada titik tertinggi sejak penumpasan Lapangan Tiananmen 1989.

Akibatnya, Beijing menghadapi gelombang sentimen anti-China yang dipimpin oleh Amerika Serikat setelah Covid-19, perlu dipersiapkan dalam skenario terburuk untuk konfrontasi bersenjata antara kedua kekuatan global, menurut orang yang akrab dengan konten laporan, yang menolak untuk diidentifikasi karena sensitivitas masalah ini.

Laporan tersebut disusun Institut Hubungan Internasional Kontemporer China, China Institutes of Contemporary International Relations (CICIR), sebuah lembaga think tank yang berafiliasi dengan Kementerian Keamanan Negara, badan intelijen top China.

Reuters belum melihat makalah pengarahan, tetapi itu dijelaskan oleh orang-orang yang memiliki pengetahuan langsung tentang temuannya.

“Saya tidak memiliki informasi yang relevan,” kata kantor juru bicara kementerian luar negeri China dalam sebuah pernyataan menanggapi pertanyaan dari Reuters pada laporan tersebut.

Kementerian Keamanan Negara China tidak memiliki rincian kontak publik dan tidak dapat dihubungi untuk memberikan komentar.

CICIR, sebuah lembaga pemikir berpengaruh yang sampai tahun 1980 berada di dalam Kementerian Keamanan Negara dan memberi saran kepada Pemerintah China tentang kebijakan luar negeri dan keamanan, tidak menjawab permintaan komentar.

Reuters tidak dapat menentukan sampai sejauh mana penilaian gamblang yang dijelaskan dalam makalah ini mencerminkan posisi yang dipegang oleh para pemimpin negara China, dan sejauh mana, jika sama sekali, itu akan mempengaruhi kebijakan.

Tetapi penyajian laporan itu menunjukkan betapa seriusnya Beijing menghadapi ancaman serangan balik bangunan yang dapat mengancam apa yang dilihat Cina sebagai investasi strategisnya di luar negeri dan pandangannya terhadap keamanannya.

Hubungan antara Cina dan Amerika Serikat secara luas dipandang berada pada titik terburuk dalam beberapa dekade, dengan memperdalam ketidakpercayaan dan poin gesekan dari tuduhan AS tentang praktik perdagangan dan teknologi yang tidak adil terhadap perselisihan tentang Hong Kong, Taiwan dan wilayah yang diperebutkan di Laut Cina Selatan.

Dalam beberapa hari terakhir, Presiden Amerika Serikat, Donald John Trump, menghadapi kampanye pemilihan ulang yang lebih sulit karena virus korona telah merenggut puluhan ribu nyawa Amerika dan menghancurkan ekonomi AS, telah meningkatkan kritiknya terhadap Beijing dan mengancam tarif baru di Cina.

Sementara itu, pemerintahannya sedang mempertimbangkan tindakan pembalasan terhadap Cina atas wabah itu, kata para pejabat.

Dipercaya secara luas di Beijing bahwa Amerika Serikat ingin menahan China yang sedang bangkit, yang telah menjadi lebih asertif secara global seiring dengan pertumbuhan ekonominya.

Makalah itu menyimpulkan bahwa Washington memandang Cina sebagai ancaman ekonomi dan keamanan nasional dan tantangan bagi demokrasi Barat, kata orang-orang. Laporan itu juga mengatakan Amerika Serikat bermaksud melemahkan Partai Komunis yang berkuasa dengan merusak kepercayaan publik.

Para pejabat Tiongkok memiliki “tanggung jawab khusus” untuk memberi tahu orang-orang mereka dan dunia tentang ancaman yang ditimbulkan oleh virus korona “karena mereka adalah orang pertama yang mengetahuinya,” kata juru bicara Departemen Luar Negeri AS Morgan Ortagus dalam menanggapi pertanyaan dari Reuters.

Bungkam ilmuwan

Tanpa secara langsung menyikapi penilaian yang dibuat dalam laporan China, Ortagus menambahkan: “Upaya Beijing untuk membungkam para ilmuwan, jurnalis, dan warga negara dan menyebarkan disinformasi memperburuk bahaya krisis kesehatan ini.”

Seorang juru bicara Dewan Keamanan Nasional Amerika Serikat, menolak berkomentar.

Laporan yang dilukiskan kepada Reuters memperingatkan bahwa sentimen anti-Cina yang dipicu oleh coronavirus dapat memicu resistensi terhadap proyek-proyek investasi infrastruktur Belt and Road China, dan bahwa Washington dapat meningkatkan dukungan keuangan dan militer untuk sekutu regional, membuat situasi keamanan di Asia lebih tidak stabil.

Tiga dekade lalu, setelah Tiananmen, Amerika Serikat dan banyak pemerintah Barat memberlakukan sanksi terhadap China termasuk melarang atau membatasi penjualan senjata dan transfer teknologi.

Cina jauh lebih kuat.

Xi telah memperbaiki strategi militer China untuk menciptakan pasukan tempur yang diperlengkapi untuk memenangkan perang modern. Dia memperluas jangkauan udara dan laut Tiongkok dalam tantangan lebih dari 70 tahun dominasi militer A.S di Asia.

Dalam pernyataannya, kementerian luar negeri China menyerukan kerja sama, dengan mengatakan, “perkembangan China-AS yang sehat dan mantap. hubungan ”melayani kepentingan kedua negara dan komunitas internasional.

Xi menambahkan: “setiap kata atau tindakan yang terlibat dalam manipulasi politik atau stigmatisasi dengan dalih pandemi, termasuk mengambil kesempatan untuk menabur perselisihan antar negara, tidak kondusif untuk kerja sama internasional melawan pandemi.”

Strategi jangka panjang

Salah satu dari mereka yang memiliki pengetahuan tentang laporan itu mengatakan itu dianggap oleh beberapa orang di komunitas intelijen China sebagai versi Cina dari “Novikov Telegram”, sebuah pengiriman tahun 1946 oleh duta besar Soviet untuk Washington, Nikolai Novikov, yang menekankan bahaya ekonomi dan ekonomi AS. ambisi militer setelah Perang Dunia Kedua.

Surat pernyataan Novikov adalah tanggapan terhadap diplomat A. Ken Telegram dari Amerika Serikat George Kennan dari Moskow yang mengatakan bahwa Uni Soviet tidak melihat kemungkinan untuk hidup berdampingan secara damai dengan Barat, dan bahwa penahanan adalah strategi jangka panjang terbaik.

Kedua dokumen membantu mengatur panggung untuk pemikiran strategis yang mendefinisikan kedua sisi Perang Dingin.

China dituduh Amerika Serikat menekan informasi awal mengenai virus itu, yang pertama kali terdeteksi di pusat kota Wuhan, dan mengecilkan risikonya.

Beijing telah berulang kali membantah bahwa mereka menutupi tingkat atau keparahan wabah virus.

Cina telah berhasil menahan penyebaran virus domestik dan telah berusaha untuk menegaskan peran utama dalam pertempuran global melawan Covid-19. Itu termasuk dorongan propaganda seputar donasi dan penjualan pasokan medis ke Amerika Serikat dan negara-negara lain serta berbagi keahlian.

Namun Cina menghadapi serangan balasan dari para kritikus yang menyerukan agar Beijing bertanggung jawab atas perannya dalam Covid-19.

Presiden Amerika Serikat, Donald John Trump mengatakan ia akan memotong dana untuk Organisasi Kesehatan Dunia, World Health Organization (WHO), yang ia sebut “sangat Cina-sentris,” sesuatu yang telah dibantah para pejabat WHO.

Pemerintah Australia telah menyerukan penyelidikan internasional tentang asal-usul dan penyebaran virus.

Bulan April 2020, menurut Reuters, Prancis memanggil Dta Besar China untuk memprotes publikasi di situs Kedutaan Besar China di Paris yang mengkritik penanganan Barat terhadap Covid-19.

Covid-19 sejauh ini telah menginfeksi lebih dari 3 juta orang di seluruh dunia dan menyebabkan lebih dari 200.000 kematian, menurut penghitungan Reuters.**

Aju, Wartawan, Divisi Pelayanan Publik, Data dan Informasi Dayak International Organization (DIO) dan Majelis Hakim Adat Dayak Nasional (MHADN) di Pontianak.