Kepala Kejaksaan Tinggi Kalimantan Barat Masyhudi bersama Rektor IAIN Pontianak DR H Syarif, (ist)

Kajati: Upaya Pencegahan Sama Pentingnya dengan Penindakan Dalam Berantas Korupsi

JAKARTA (Independensi.com) – Dalam memberantas korupsi langkah yang dilakukan jajaran kejaksaan kini tidak hanya dengan melakukan penindakan, tapi juga dengan upaya pencegahan.

“Karena upaya pencegahan sama penting dengan penindakan dalam memberantas korupsi, ” kata Kepala Kejaksaan Tinggi Kalimantan Barat Masyhudi, Sabtu (10/4).

Masyhudi menyampaikan upaya kejaksaan dalam memberantas korupsi tersebut saat menjadi nara sumber dalam program “Jaksa Masuk Kampus” di IAIN Pontianak, Kalimantan Barat.

Dikatakannya masalah korupsi di Indonesia memang sangat krusial. “Apalagi penilaian transparasi internasional tentang penanganan korupsi di Indonesia kok jeblok.”

Oleh karena itu dia  menyampaikan kiat-kiat dari kejaksaan dalam melakukan pemberantasan korupsi, termasuk melalui upaya pencegahan dan tidak hanya penindakan.

Sementara menanggapi kejadian isu dan aksi terorisme belakangan ini, Masyhudi meminta pihak kampus untuk melakukan antisipasi agar para mahasiswanya tidak terpapar faham radikalisme.

“Kejadian terorisme akhir-akhir ini menunjukan faham-faham radikalisme ada di tengah-tengah masyarakat kita,” kata mantan Kajari Jakarta Selatan ini.

Dia pun menegaskan tindakan tersebut sebenarnya dilakukan oleh orang yang tidak beragama. “Karena Islam sendiri tidak mengajarkan itu. Bahkan agama lainpun tidak.”

Masyhudi mengatakan untuk IAIN Pontianak tidak ada yang seperti itu. “Bahkan Pak Rektor IAIN tegas kalau ada yang tidak mempelajari atau menjalankan syariat dengan tidak benar silahkan keluar dari IAIN.”

Sementara saat tatap muka dengan Praja IPDN Kalbar dalam program yang sama, Masyhudi meminta para calon pamong dan pemimpin negara tersebut untuk merubah mindsetnyad dalam pelayanan kepada masyarakat

“Bukan untuk dilayani tapi melayani masyarakat, dan itu harus dimulai dari sekarang dan tidak menunggu besok,” ujarnya.

Dia pun mengharapkan Praja IPDN untuk menghindari narkoba. “Apalagi Indonesia dalam keadaan darurat narkoba. Dimana setiap hari ada 35 sampai 40 orang meninggal karena narkoba,” ungkapnya.(muj)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *