Terapkan Teknologi Hijau Pertanian di IKN, Plaga Farm Jadi Platform Ekosistem Food Security

Loading

Badung (Independensi.com) Plaga Farm dibawah naungan PT Agrito Roman Bali, selama ini sangat dikenal sebagai penyuplai produk segar berkualitas tinggi, dan menjadi pemimpin terdepan dalam sektor pertanian di Bali. Plaga Farm saat ini fokus dalam mengembangkan sistem pertanian dengan mengedepankan aspek keberlanjutan di berbagai bidang. Seperti teknologi rumah kaca, pengelolaan limbah, manajemen produksi berlebih, penelitian dan pengembangan, Kerjasama dan kolaborasi lintas disiplin, serta pemberdayaan Masyarakat lokal.

Dalam waktu dekat, Plaga Farm, akan mengembangkan teknologi pertanian di Ibu Kota Nusantara (IKN) di Kalimantan Timur. Hadirnya Plaga Farm di pusat pemerintahan Indonesia ini, diharapkan bisa menjadi penggerak ekosistem untuk food security (Ketahanan pangan) Indonesia.

Dalam pengembangan teknologi pertanian di IKN, PT Agrito Roman Bali, akan berkolaborasi dengan PT. Bina Karya (Persero). Kerjasama tersebut telah diresmikan melalui penandatanganan MoU, Jumat 19 April 2024, di Natys Resto Siligita, Nusa Dua Bali.

Penyerahan dan penandatanganan piagam kerjasama (MoU), dilakukan oleh Direktur Utama PT. Bina Karya (Persero), Boyke Prasetyanto dan I Gede Bingin Mustika selaku owner Plaga Farm. Turut hadir menyaksikan dari PT. Bina Karya (Persero) yaitu, Bondan Pristiwandana Selaku Direktur Pengembangan Usaha & Investasi, Irfan Ahadi Selaku Direktur Human Capital, Trisnadi Yulrisman selaku Direktur Keuangan & Risk Management dan Wendy Syofyan Selaku Corporate Secretary.

Pemilik Plaga Farm, I Gede Bingin Mustika, yang ditemui usai penandatanganan mengatakan, dengan pengalaman lebih dari 25 tahun, pihaknya yakin dan optimis dengan kemampuan untuk melanjutkan dan memberikan kontribusi positif yang mengarah pada peningkatan sosial, lingkungan, dan ekonomi di IKN. Ia yakin mampu membawa perkembangan yang positif dan siap berkolaborasi dengan otoritas setempat untuk bersama-sama mengembangkan sektor pertanian di IKN.

“Harapan kami, dengan adanya pengembangan Produk Pertanian, Buah dan Sayuran Segar di Ibu Kota Negara, kami bisa menjadi pionir yang mewakili Bali menjadi pengembang pertanian hidroponik yang berkelanjutan. Semoga dengan hadirnya kerjasama ini juga bisa membuka peluang yang lebih luas lagi bagi teman-teman pelaku usaha pertanian khususnya di Bali, dalam mengembangkan pertanian indonesia yang semakin maju,” harapnya.

Untuk tahap awal, Plaga Farm akan mengembangkan teknologi yang dimiliki. Terkait berapa luas yang ideal, untuk tahap pertama minimal akan dikembangkan seluas 5 hektar. Namun untuk potensi pengembangan ke depan, idealnya sampai seluas 30, 50, hingga 100 hektar.

Namun demikian, diakuinya untuk lahan sebenarnya memang tidak perlu sangat luas, Karen dalam pengembangan, pihaknya sudah menggunakan teknologi yang tentu dalam hal produktivitas, akan lebih tinggi dibandingkan dengan produk konvensional.

Untuk produk yang di kembangkan di IKN, berbagai jenis seperti buah melon, pepaya, nanas, kemudian untuk sayur, yang akan dikembangkan, mulai dari sayur lokal sampai yang internasional. “Produk yang dikembangkan memang semua yang akan dibutuhkan di IKN. Dalam pengembangan. nanti, ada metode organik, hydro, dan green house,” bebernya.

Dikatakan, ke depan tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan di IKN, namun tidak menutup kemungkinan bisa saja dipasarkan keluar wilayah, tergantung dengan produksi yang dihasilkan. “Kita mesti ukur skala produksinya dulu seperti apa sesuai yang dibutuhkan,” terangnya.

Direktur Utama PT. Bina Karya (Persero), Boyke Prasetyanto, mengatakan, kehadiran Plaga Farm di IKN, diharapkan menjadi salah satu penggerak ekosistem untuk food security (ketahanan pangan). Karena kata dia, food security itu penting untuk keberlanjutan. Apalagi dengan pertumbuhan pasca dibangunnya IKN, tenti kebutuhan untuk makanan akan terus meningkat. “Itu perlu disiapkan bahan baku makanan dan ekosistem yang baik. Bukan hanya barang jadi, namun mulai dari menanam sampai end product,” ucapnya.

Plaga Farm, diketahui telah memulai sistem pertanian terbuka konvensional sejak 1997, dan hingga kini terus berkembang menjadi penanam hidroponik terkemuka di Bali. Plaga Farm saat ini fokus dalam mengembangkan sistem pertanian dengan mengedepankan aspek keberlanjutan di berbagai bidang, diantaranya adalah teknologi rumah kaca, pengelolaan limbah, manajemen produksi berlebih, penelitian dan pengembangan, Kerjasama dan kolaborasi lintas disiplin, serta pemberdayaan Masyarakat lokal.

Sejak mulai beralih dari pertanian konvensional ke teknologi yang lebih modern (Green house) pada pada tahun 2005, Plaga Farm telah berkomitmen untuk melestarikan sumber daya vital melalui teknologi berkelanjutan. Teknologi canggih hidroponik dan rumah kaca organic yang diterapkan Plaga Farm, memungkinkan untuk menanam sayuran dan buah-buahan dengan efisiensi penggunaan air yang jauh lebih rendah dibandingkan dengan pertanian terbuka konvensional, namun memiliki produktivitas yang lebih tinggi. (hd)