![]()
JAKARTA (Independensi.com) – Di tengah derasnya arus modernisasi dan gaya hidup instan, sosok Masita Riany tampil sebagai teladan yang menginspirasi. Ia bukan hanya cerdas dan berprestasi, tetapi juga rendah hati serta teguh menjaga warisan budaya leluhur. Kehadirannya seperti jembatan yang menghubungkan masa lalu dengan masa kini, sekaligus membuka jalan menuju masa depan yang lebih berkelanjutan.

Sebagai pegiat lingkungan, Masita konsisten menjalani hidup yang selaras dengan alam. Ia mengutamakan pertanian alami tanpa pupuk kimia maupun pestisida. Baginya, menjaga bumi bukan sekadar tren, melainkan kewajiban moral. “Merawat alam sama artinya dengan merawat diri. Itu warisan filosofi leluhur yang harus terus dijaga,” ujar Masita beberapa waktu lalu.
Cara pandang ini selaras dengan kearifan lokal Jawa yang dikenalkan ayahnya sejak kecil, yaitu Ilmu Titen—seni peka membaca tanda alam dan kehidupan—serta Pranata Mangsa, sistem penanggalan kuno untuk bercocok tanam sesuai siklus alam. Nilai-nilai ini membentuk karakter Masita yang penuh ketelitian, kesabaran, dan kepedulian pada harmoni hidup.
Selain peduli lingkungan, jiwa seni begitu kental dalam diri Masita. Ia menulis artikel, puisi, hingga monolog, lalu membacakannya dengan penuh penghayatan. Koleksi pribadinya berupa batik tulis lawas, kebaya bercorak klasik, dan kain tradisional menjadi bukti nyata kecintaannya pada budaya. “Bagi saya, batik dan kebaya bukan sekadar kain, melainkan narasi visual yang menyimpan kisah sejarah bangsa,” kata Masita.
Kecintaannya pada seni juga merupakan warisan dari garis keturunan ibunya. Dari sang kakek, Jacobus Quiko, seorang budayawan legendaris dan pendiri Orkes Poesaka Krontjong Moresco Toegoe pada 1925, Masita mewarisi darah seni keroncong yang kental. Jacobus mendapat penghargaan dari Gubernur Ali Sadikin pada 1975, bahkan karyanya direkam oleh UNESCO pada 1971.
Warisan itu berpadu dengan nilai-nilai luhur dari neneknya, Melsy Rikin, asal Kampung Sawah, Jakarta, sebuah daerah yang sarat dengan tradisi rukun dan damai. Perpaduan budaya Jawa dari sang ayah dan Betawi-Jakarta dari garis ibu membentuk pribadi Masita yang unik yaitu cerdas, penuh prestasi, namun tetap sederhana. Ia tidak sekadar menjadi pewaris budaya, tetapi juga penjaga dan pengembangnya. “Prestasi sejati bukan diukur dari popularitas, melainkan seberapa dalam kita menanamkan nilai kearifan hidup dalam keseharian,” tegas Masita.
Masita Riany menjadi bukti nyata bahwa modernisasi tidak harus menjauhkan manusia dari akar budayanya. Ia menunjukkan bagaimana nilai tradisi dapat berjalan berdampingan dengan semangat keberlanjutan. Di tengah dunia yang serba cepat, jejak Mastita menjadi inspirasi bahwa kecerdasan sejati tidak hanya lahir dari ilmu pengetahuan, tetapi juga dari kebijaksanaan menjaga warisan dan kearifan lokal.


tetap rendah hati..