![]()
JAKARTA (Independensi.com) – Perjalanan impresif Alwi Farhan di Daihatsu Indonesia Masters 2026 berlanjut hingga babak final. Tunggal putra andalan Indonesia itu memastikan tiket partai puncak setelah menaklukkan wakil Taipei, Chi Yu Jen, pada semifinal yang digelar Sabtu (24/1/2026).

Alwi menang meyakinkan dua gim langsung 21-11, 21-12 hanya dalam waktu 30 menit. Hasil ini menandai debut Alwi di final turnamen level Super 500, sekaligus menjadi pencapaian terbaiknya sejauh ini di ajang tersebut.
“Saya membuktikan kepada diri saya kalau sebenarnya saya masih mampu. Mungkin kondisi saya nggak seratus persen tapi tekad saya, kemauan saya, ambisi saya masih lebih dari seratus persen. Ya, saya masih punya satu tugas lagi untuk besok,” ujar Alwi, dikutip dari rilis Humas PBSI.

Di luar dugaan, laga semifinal berjalan singkat. Alwi tampil dominan sejak awal, sementara Chi Yu Jen, yang sebelumnya menyingkirkan unggulan kedua asal Denmark Anders Antonsen, gagal mengembangkan permainan. Menurut Alwi, tekanan penonton Istora turut memengaruhi performa lawannya.
“Mungkin bisa dibilang saya mainnya lumayan lah. Enggak yang bagus banget, tapi saya rasa lawan juga kena pressure dari penonton. Saya rasa dia juga nervous, jadi tidak bisa mengembangkan pola permainannya,” kata Alwi.

Pada partai final, Alwi akan menghadapi wakil Thailand, Panitchaphon Teeraratchakul. Rekor pertemuan sementara imbang 1-1. Alwi menyadari laga puncak bakal menjadi ujian berat, terutama dari sisi fisik dan mental. “Yang pasti badan saya, mental saya, pikiran saya harus saya kondisikan lagi. Karena besok akan menjadi partai yang berat. Saya akan berusaha semaksimal mungkin,” ucapnya.
Dari sektor ganda putra, Indonesia juga menempatkan wakil di final lewat pasangan Raymond Indra/Nikolaus Joaquin. Keduanya melangkah ke partai puncak setelah mengalahkan rekan senegara, Sabar Karyaman Gutama/Mohammad Reza Pahlevi Isfahani, dengan skor 21-19, 21-14.
Raymond mengaku bersyukur dapat bermain lepas di hadapan publik Istora dan berharap bisa menutup turnamen dengan gelar juara. “Puji Tuhan hari ini bisa bermain dengan lancar dan tanpa cedera. Rasanya tentu sangat senang, apalagi bisa bermain di Indonesia, terlebih di Istora. Dari dulu hanya melihat senior-senior bertanding di sini, sekarang bisa merasakannya langsung. Harapannya tentu bisa menjadi juara di Indonesia,” ujar Raymond.
Sementara itu, Joaquin menilai permainan mereka berjalan sesuai rencana meski sempat mendapat tekanan di awal laga. Setelah mampu keluar dari situasi sulit, performa mereka menjadi lebih stabil hingga akhir pertandingan.
Di sisi lain, Mohammad Reza Pahlevi mengakui momentum berbalik setelah ia dan Sabar gagal menjaga keunggulan di gim pertama. “Mungkin di pertandingan ini kami sempat unggul jauh di awal. Tapi di pertengahan hingga akhir gim pertama kami agak goyang, dan mereka jadi semakin percaya diri. Di gim kedua, mereka sudah lebih pede, sementara kami cukup kesulitan untuk mengembalikan keadaan,” kata Reza.
Senada, Sabar Karyaman menilai Raymond/Joaquin tampil jauh lebih percaya diri dibanding pertemuan sebelumnya di Malaysia Open 2026, di mana Sabar/Reza sempat menang dua gim langsung. Menurut Sabar, pasangan muda tersebut menunjukkan perkembangan signifikan.
Pada partai final, Raymond/Joaquin akan menghadapi ganda Malaysia, Goh Sze Fei/Nur Izzuddin, yang melaju ke final usai menundukkan wakil Denmark Daniel Lundgaard/Mads Vestergaard dengan skor 21-9, 21-15.
Terhenti
Sementara itu dari sektor ganda putri, langkah Apriyani Rahayu/Lanny Tria Mayasari harus terhenti di semifinal setelah kalah dari pasangan Malaysia Pearly Tan/Thinaah Muralitharan 15-21, 9-21. Lanny mengakui tekanan lawan membuat mereka kesulitan tampil lepas.

“Kalau dari saya, di gim pertama sudah lumayan bisa dan enak mainnya. Tapi di gim kedua, dari servis pembukaan saja saya sudah tertekan. Dari situ saya belum bisa keluar dari tekanan,” ujar Lanny.
Apriyani menyebut kekalahan ini menjadi bahan evaluasi penting bagi mereka yang masih berstatus pasangan baru. “Saya baru pertama kali bertemu Pearly/Thinaah bersama Lanny. Saya juga baru kembali dari cedera, dan ini pertemuan pertama dengan mereka bersama partner yang berbeda,” kata Apriyani.
Hasil serupa juga dialami pasangan muda Indonesia, Rachel Allessya Rose/Febi Setianingrum, yang tersingkir di semifinal usai kalah dari ganda Jepang Arisa Igarashi/Miyu Takahashi dengan skor 12-21, 21-19, 13-21. Meski sempat unggul di gim penentuan, Rachel/Febi gagal menjaga konsistensi.
“Pelajaran yang kami ambil dari turnamen ini, enggak boleh terburu-buru, apalagi main ganda putri, enggak bisa langsung mati. Harus lebih sabar, lebih tenang,” ujar Rachel.
Di sektor ganda campuran, Jafar Hidayatullah/Felisha Alberta Nathaniel Pasaribu harus mengubur harapan ke final setelah kalah dari pasangan Denmark Mathias Christiansen/Alexandra Boje lewat laga tiga gim 22-20, 19-21, 17-21. Felisha mengungkapkan kesulitan keluar dari tekanan akibat perubahan kondisi lapangan.
“Kesempatannya ada, tetapi kami gagal memanfaatkannya. Di gim kedua juga kami banyak tertekan. Kondisi lapangan membuat kami tidak nyaman dan memang kami tidak bisa keluar dari tekanan. Selain itu, ada beberapa kendala teknis,” ujar Felisha.
Jafar pun menilai tekanan bermain di lapangan utama turut memengaruhi performa mereka. “Permainan sebenarnya cukup bagus dan tidak jelek. Hanya saja, di gim ketiga saya sudah menduga mereka akan bermain lebih cepat. Saya juga sudah bilang ke Felisha, tetapi tekanan itu membuat kami jadi ragu-ragu,” kata Jafar.

