Komisaris Utama Pertamina Hulu Energi, Denny JA bersama Presiden RI Prabowo Subianto dalam Acara Idul Adha di Paris, (27/5/2026)

Denny JA: Macron dan Prabowo Tunjukkan Kepemimpinan Geopolitik Baru di Tengah Dunia Multipolar

Loading

PARIS (Independensi.com) – Hubungan bilateral Indonesia dan Prancis dinilai bukan sekadar penguatan kerja sama antarnegara, melainkan mencerminkan munculnya model baru diplomasi negara-negara menengah yang berupaya menjaga kedaulatan di tengah rivalitas kekuatan besar dunia.

Komisaris Utama Pertamina Hulu Energi, Denny JA, menilai semakin eratnya hubungan antara Indonesia dan Prancis menunjukkan arah baru geopolitik global, ketika negara-negara menengah mulai mengambil peran strategis tanpa harus berpihak secara penuh kepada blok kekuatan tertentu.

“Dunia sedang memasuki era baru. Banyak negara tidak ingin menjadi perpanjangan tangan Washington ataupun Beijing. Mereka ingin berdiri dengan kaki sendiri dan bekerja sama dengan siapa pun demi kepentingan rakyatnya. Indonesia dan Prancis sedang menunjukkan jalan itu,” kata Denny JA di Paris, Jumat.

Denny JA menyampaikan hal tersebut usai menghadiri jamuan kenegaraan di Istana Élysée, Paris, Kamis (28/5), dalam rangkaian kunjungan kenegaraan yang memperkuat hubungan bilateral Indonesia-Prancis.

Dalam kesempatan tersebut, Denny hadir dalam kapasitasnya sebagai Komisaris Utama Pertamina Hulu Energi, mengingat sektor energi menjadi salah satu fokus utama kerja sama kedua negara. Ia juga sempat melakukan perbincangan singkat dengan Presiden Prancis Emmanuel Macron.

Menurut Denny, hubungan Indonesia dan Prancis saat ini melampaui sekadar kontrak ekonomi dan diplomasi formal, melainkan menjadi simbol lahirnya jejaring baru negara-negara menengah yang mengedepankan multilateralisme, kemandirian, dan kemampuan menentukan arah pembangunan sendiri.

Ia menilai Presiden Prancis Emmanuel Macron merupakan salah satu pemimpin Barat yang menonjol karena keberaniannya mendorong konsep “otonomi strategis Eropa”, yakni upaya agar Eropa memiliki kemandirian lebih besar dalam bidang keamanan, teknologi, dan ekonomi.

“Macron adalah pemain geopolitik besar karena berani memikirkan posisi negaranya dalam sejarah, bukan sekadar dalam siklus politik jangka pendek,” ujar Denny.

Di bawah kepemimpinan Macron, Prancis dinilai aktif memperkuat posisinya dalam berbagai isu global, mulai dari diplomasi Ukraina, transisi energi, hingga penguatan strategi Indo-Pasifik.
Sementara itu, Denny juga menilai kepemimpinan Presiden RI Prabowo Subianto menunjukkan kualitas geopolitik yang semakin menonjol di kawasan Asia.

Menurut dia, dalam waktu kurang dari dua tahun masa pemerintahannya, Prabowo telah membangun komunikasi intensif dengan sejumlah pusat kekuatan dunia, termasuk Amerika Serikat, China, Rusia, Inggris, dan Prancis.

Ia menilai pendekatan tersebut menunjukkan kemampuan diplomasi yang seimbang di tengah meningkatnya polarisasi global.

“Prabowo berbicara dengan Washington tanpa memusuhi Beijing, menjalin hubungan erat dengan Beijing tanpa memutus relasi dengan Barat, serta membuka komunikasi dengan Moskow tanpa kehilangan kepercayaan Eropa. Ini kemampuan diplomatik yang sangat strategis,” katanya.

Denny menambahkan media Prancis mulai memandang Indonesia sebagai kekuatan baru Asia yang tengah bangkit, didorong oleh kombinasi besarnya ekonomi nasional, bonus demografi, posisi strategis, dan ambisi pembangunan jangka panjang.

Menurut dia, diplomasi yang dibangun Prabowo bukan sekadar diplomasi seremonial, melainkan diplomasi pembangunan yang bertujuan memperkuat investasi, teknologi, ketahanan pangan, energi, dan pertahanan nasional.

Meski demikian, Denny mengingatkan bahwa kedua pemimpin masih menghadapi tantangan domestik. Macron menghadapi dinamika politik internal Prancis, sementara Prabowo masih dituntut membuktikan efektivitas berbagai program unggulannya.

Namun demikian, pertemuan kedua pemimpin tersebut dinilai membawa pesan penting bahwa negara-negara menengah kini mulai tampil sebagai aktor penentu dalam arsitektur global.

“Kita sedang memasuki zaman ketika negara-negara menengah tidak lagi sekadar menjadi penonton pertarungan para raksasa, tetapi mulai menentukan arah permainan,” ujar Denny.

Ia menegaskan, di tengah dunia yang semakin terbelah, keberhasilan diplomasi akan ditentukan oleh kemampuan membangun jembatan antarberbagai kekuatan global.

“Yang akan bertahan bukan mereka yang paling keras suaranya, melainkan mereka yang mampu menjembatani dunia yang terbelah,” kata Denny JA.

About The Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *