Bali Interfood 2026, Alih Teknologi Industri Mamin Sebagai Keniscayaan

Loading

Nusadua (Independensi.com) – Pameran Bali Interfood 2026 menegaskan posisinya bukan sekadar ajang penampilan produk, melainkan wadah utama alih teknologi pengolahan, pengemasan, dan solusi bisnis bagi sektor pangan dan perhotelan. Di era persaingan yang ketat, adopsi teknologi serta digitalisasi operasional menjadi keharusan membawa efisiensi produksi, menjamin keamanan pangan, serta membuka jalan bagi inovasi produk yang konsisten.

Menurut Daud Salim, CEO Krista Exhibition, tahun ini pameran diikuti oleh 110 peserta, termasuk 35 UMKM serta industri kecil dan menengah bidang makanan, minuman, dan produk olahan, termasuk sejumlah pelaku industri cokelat khas Bali.

“Kegiatan ini juga membawa semangat ‘transfer of technology’ mulai dari peralatan pengolahan pangan hingga peralatan layanan makanan untuk hotel dan restoran,” jelasnya. Teknologi unggulan hadir dari negara-negara terdepan seperti Italia dan Jerman mulai dari oven serbaguna hingga sistem pendingin canggih yang sangat krusial untuk menjaga kualitas produk, terutama hasil laut dan bahan yang mudah rusak. Pola ini diperkuat melalui kemitraan strategis yaitu kerja sama dengan pemasok teknologi untuk pelaksanaan proyek percontohan, pelatihan, dan pendampingan penerapan langsung di lapangan.

Bali Interfood 2026 juga menjadi sarana peningkatan kapasitas manusia dan standar industri. Ada lintasan persiapan menuju Gelato World Cup Indonesian Selection yang ditujukan untuk mendorong kreativitas berbahan dasar lokal, serta serangkaian demonstrasi dan kompetisi bagi bidang roti, kopi, dan layanan makanan lainnya.

Acara ini dihadiri oleh perwakilan Gubernur Bali (I Wayan Ekadina), Ketua BPD PHRI Bali Prof. Dr. Ir. Tjokorda Oka Artha Ardhana Sukawati, M.Si., Ketua Bali Tourism Board (BTB) atau Gabungan Industri Pariwisata Indonesia (GIPI) Bali saat ini adalah Ida Bagus Agung Partha Adnyana, Wakil Ketua Umum GAPMMI Irwan S. Widjaja, serta Ketua Umum Ikatan Ahli Boga Indonesia (IKABOGA) Hj. Dewi Motik Pramono. Hal ini menunjukkan dukungan tinggi terhadap arah perkembangan industri ini.

Sonia Kaur (PHRI Bali, Bidang Restoran dan Waralaba) menilai teknologi ini mengubah proses kerja menjadi lebih cepat, praktis, dan terjamin.

“Teknologi industri makanan yang hadir sangat membantu memangkas waktu produksi serta menjamin konsistensi rasa dan higienitas terutama bagi sektor makanan beku dan siap saji.”

Meskipun membutuhkan investasi awal yang cukup besar, ia meyakini keuntungan jangka panjang jelas yaitu efisiensi tenaga, kapasitas produksi lebih besar, dan nilai jual yang lebih stabil.

Di Bali Interfood 2026, terlihat jelas bahwa alih teknologi bukan pilihan, melainkan keniscayaan. Melalui kolaborasi industri, pelatihan, serta peralatan dan metode terbaru, sektor makanan dan minuman dapat tumbuh lebih cepat, berjalan lebih rapi, dan melayani dengan standar kebersihan yang tak tergoyahkan cara terbaik untuk menjawab tantangan pasar masa depan.(hd)

About The Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *