![]()
BEKASI (Independensi.com)- Guna mendukung operasional Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sampah di Desa Burangkeng, Kecamatan Setu, yang merupakan program Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bekasi, jajaran Direksi Perusahaan Umum (Perumda) Tirta Bhagasasi dan Pemkab Bekasi membahas pasokan air .
Diperkirakan, dalam operasional PSEL itu, membutuhkan sedikitnya
5.000 m3 per hari. Pembahasan oleh pejabat dinas terkait dari Pemkab Bekasi, bertempat di Kantor Pusat Perumda Tirta Bhagasasi, kemarin.
Kepada peserta pertemuan, dalam penjelasannya, Direktur Teknik Perumda Tirta Bhagasasi Rika Nursantika memaparkan bahwa Perumda Tirta Bhagasasi belum memiliki jaringan distribusi utama (JDU) ke PSEL Burangkeng.
Lokasi instalasi pengolahan air (IPA) terdekat berada di Kantor Cabang Tambun yang berjarak sekitar 12 kilσometer ke lokasi PSEL. Karena itu, manajemen Perumda Tirta Bhagasasi harus membangun jaringan pipa memiliki JDU dari Cabang Tambun ke PSEL Burangkeng, Setu.
“Untuk membangun jaringan pipa, masih ada waktu sekitar dua tahun sebelum PSEL beroperasi,” kata Direktur Teknik Perumda Tirta Bhagasasi, Rika Nursantika, kemarin.
Dalam pertemuan itu, juga diikuti perwakilan PT Everbright Harmony serta Danantara secara daring. Sebab yang akan membangun PSEL adalah kerjasama pengusaha swasta dengan pemerintah pusat.
Saat pembahasan, Rika Nursantika didampingi Plt Direktur Usaha Perumda Tirta Bhagasasi, Lilie Subali, bersama para kepala bagian. Sedangkan, perwakilan dari Pemkab Bekasi dihadiri Kepala Bagian Kerja Sama, Dinas Lingkungan Hidup serta OPD terkait lainnya.
Dalam pembahasan, ada beberapa alternatif yang bisa digunakan sebagai sumber air untuk operasional PSEL Burangkeng, antara lain sumber air Kali Kembang. Namun saat puncak musim kemarau, kali tersebut surut.
Sementara pasokan air untuk operasional PSEL menjadi sangat penting dalam menghasilkan uap air dan menggerakkan turbin sehingga menghasilkan energi listrik. Prinsipnya, ketersediaan air selama operasional PSEL tidak boleh terganggu.
PSEL Burangkeng akan beroperasional sekitar 30 tahun, selama itu pula pasokan air tidak boleh terganggu. Dan, Perumda Tirta Bhagasasi akan menjadi pemasok air ke PSEL Burangkeng.
Nantinya, keberadaan PSEL Burangkeng mampu mereduksi sampah hingga 1.300 ton per hari. Bahkan, kapasitas maksimal PSEL Burangkeng digadang-gadang mampu mencapai 1.500 ton per hari
Mengatasi Sampah
Pemerintah pusat maupun pemerintah daerah tengah berupaya mewujudkan impian ini untuk mengatasi persoalan sampah secara nasional.
Sebagaimana diketahui, Pemerintah Kabupaten Bekasi menargetkan pembangunan fasilitas PSEL Burangkeng di TPA Burangkeng, Kecamatan Setu, dan akan mulai beroperasi tahun 2028.
Adapun kapasitas pengolahan dirancang untuk mengolah sekitar 1.000 ton sampah per hari guna menekan volume sampah kabupaten yang mencapai 2.200–2.300 ton setiap harinya.
Nantinya, untuk sisa timbunan sampah, Pemkab Bekasi juga bekerja sama dengan PT Asiana di TPA Burangkeng untuk fasilitas Refuse Derived Fuel (RDF) yang ditargetkan beroperasi akhir 2026 tanpa membebani APBD. (jonder sihotang)

