Proyek LRT Jabotabek terus digenjot agar bisa beroperasi 2019

LRT Jabotabek Gunakan Persinyalan “Moving Block”

JAKARTA (IndependensI.com) – Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi mengatakan Light Rail Transit Jakarta-Bogor-Depok-Bekasi (LRT Jabodebek) akan menggunakan sistem persinyalan “moving block” yang diatur secara tepat waktu dengan komputer.

Budi yang ditemui seusai rapat koordinasi di Kemenko Kemaritiman Jakarta, Rabu (12/7/2017), mengatakan sistem persinyalan itu kemungkinan akan menambah rincian anggaran proyek yang telah ditetapkan pemerintah sebesar Rp21,7 triliun.

“Ada kenaikan lagi biayanya, tapi ada kenaikan spesifikasi juga. Ada tambahan sekitar Rp200 miliar sampai Rp300 miliar,” katanya.

Mantan Direktur Utama Angkasa Pura II itu menjelaskan pemerintah memang berupaya untuk merampingkan anggaran proyek transportasi massal itu. Namun, ia memastikan efisiensi dilakukan dengan tetap memberikan manfaat sebesar-besarnya agar perjalanan tetap tepat waktu.

Awalnya, berdasarkan hitungan kontraktornya, PT Adhi Karya (Persero) Tbk, proyek tersebut ditaksir mencapai Rp23,4 triliun. Namun belakangan nilai proyek ditetapkan menjadi Rp21,7 triliun setelah evaluasi teknis dan kewajaran.

Budi mengatakan teknologi persinyalan dengan “moving block” diyakini akan memperpendek “head way” (jangka waktu kedatangan) rangkaian kereta sehingga dapat mengangkut lebih banyak penumpang. Misalnya jarak antara rangkaian kereta yang tadinya 5 menit, menjadi hanya 1 menit dengan sistem tersebut.

“Tadi kita bicara soal persinyalan ada yang ‘fixed’, ada yang ‘moving block’. Dengan ‘moving block’, penumpangnya bisa mendekati 500 ribu penumpang per hari sedangkan pakai ‘fixed block’ cuma 270 ribu penumpang per hari,” katanya.

Lebih lanjut, Budi mengatakan sistem “moving block” itu nantinya akan dioperatori oleh PT LEN Industri (Persero) yang bergerak di peralatan elektronik industri. “Kami mengarahkan LEN Industri sebagai mitra lokal. Siapapun yang menang, kita minta LEN sebagai mitra lokal karena kita ingin LEN jadi perusahaan yang membangun persinyalan di Indonesia,” katanya.

Direktur Operasi III Adhi Karya Pundjung Setya Brata mengatakan nilai total proyek akan mencapai sekitar Rp22 triliun untuk sistem “moving block”. “Nama teknologinya ‘moving block’, tapi ‘provider’ (penyedia) banyak. Nanti kami bicara lagi dengan LEN,” katanya.

Progres pembangunan LRT Jabodebek hingga saat ini tercatat mencapai sekitar 17 persen.

Sesuai arahan Presiden Jokowi, pemerintah akan tetap mengejar target penyelesaian proyek LRT Jabodebek pada awal 2019. Sementara LRT Palembang ditargetkan rampung pertengahan 2018 guna mendukung Asian Games 2018. (antaranews.com)