Mentan Amran di sebuah perkebunan jagung. (Ist))

Berikut ‘Tips’ Mentan Tanggulangi Hama Babi Hutan

JAKARTA (Independensi.com) – Babi hutan menjadi ancaman serius bagi pertanian budidaya jagung di Provinsi Bengkulu. Menurut Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Kaur, Nasrur Rahman upaya budidaya jagung kerap gagal akibat serangan babi hutan.

Untuk itu dalam kunjungan kerjanya ke propinsi tersebut, Mentan Amran Sulaiman berbagi tips cara menanggulangi hama tersebut.

“Ada tips yang ampuh, tolong siapkan catatan karena ada langkah-langkahnya,” kata Menteri Amran saat berdialog dengan para pihak di Balai Semarak atau Rumah Dinas Gubernur Bengkulu di Kota Bengkulu, Senin (18/9) malam.

Langkah pertama, Menteri menjelaskan, yaitu mengindentifikasi jenis tanaman yang diserang oleh babi.

Bila di areal perkebunan jagung, maka yang diamati dengan seksama adalah bagian tanaman yang dimakan. “Pengamatan dilakukan sembilan hari berturut-turut,” ujarnya.

Langkah selanjutnya, menyediakan jenis makanan tersebut untuk babi atau sejenis umpan.

Dalam tahap itu, jumlah makanan yang disediakan terus ditingkatkan sehingga semakin banyak babi yang akan datang untuk mendapatkan makanan di lokasi itu.

“Lakukan terus menerus dengan meningkatkan jumlah makanan sampai pada titik ada makanan yang tersisa,” kata mentan.

Pemberian jumlah pakan yang bersisa dilakukan tiga hari berturut-turut untuk memastikan kawanan babi hutan sudah terpancing atau memakan umpan.

Pada hari terakhir, disiapkan pakan yang sudah diberi racun dan sudah tersedia pada pukul 16.00 WIB.

“Cara itu sudah kami praktikkan dan ampuh membunuh hingga ribuan hama babi,” kata Menteri Amran.

Dalam sesi dialog tersebut, Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Kaur Nasrur Rahman menerangkan realisasi luas tanam jagung di wilayah itu mencapai 2.000 hektare.

Sedangkan potensi luas lahan kering yang dapat ditanami jagung di kabupaten tersebut mencapai 5.000 hektare.

Salah satu kendala pengembangan budidaya jagung menurut Nasrur adalah serangan hama babi yang memakan tanaman sejak jagung ditanam sampai jagung berbuah bahkan jagung sudah tua dan kering pun masih diserang. (Ant/beritasatu.com)