Kementerian PUPR Dukung Pemkot Ambon Wujudkan Bebas Kawasan Kumuh

AMBON (IndependensI.com)-Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) melalui Direktorat Jenderal (Ditjen) Cipta Karya mendukung pengurangan kawasan kumuh di berbagai kota di Indonesia, termasuk di Ambon. Melalui program ini, dari total kawasan kumuh yang terdata berjumlah 102,64 hektar saat ini, dapat dilakukan penataan secara bertahap sehingga pada 2019 ditargetkan tidak ada lagi kawasan kumuh di ibukota Provinsi Maluku ini.

Di Kelurahan Wainitu, Kecamatan Nusaniwe, Kota Ambon yang berada di pinggir laut, Kementerian PUPR telah menyelesaikan pembangunan jalan lingkungan sepanjang 362 meter dan ruang terbuka seluas 221 meter persegi. Pekerjaan yang dilakukan tahun 2016 tersebut, kini sudah dapat dinikmati hasilnya. Selain itu, melalui Balai Wilayah Sungai (BWS) Maluku, Kementerian PUPR juga membangun talud pengaman di tepian Pantai Air Salobar di Kecamatan Nusaniwe.

Saat berkunjung ke Kelurahan Wainitu dalam rangka Hari Habitat Dunia dan Hari Kota Dunia 2017, Sekretaris Ditjen Cipta Karya Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Rina Agustin Indriani, mengatakan, penanganan kawasan kumuh akan berdampak pada peningkatan kualitas hidup masyarakat.

Seperti kawasan lainnya di Kota Ambon yang memiliki pemandangan laut, pantai, dan gunung, penataan Kawasan Wainitu semakin meneguhkan keindahan, kebersihan dan keteraturan kawasan tersebut. “Kalau (menghadap) sana view-nya bagus, bukit, kalau ke situ menghadap laut. Luar biasa “ ujar Rina.

Keindahan panorama Wainitu ini, menurutnya, memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi daerah tujuan wisata. Rina berpendapat, rumah-rumah warga di kawasan Wainitu perlu diperbaiki sehingga dapat menjadi salah satu daya tarik bagi wisatawan. Penataan kawasan dengan rumah-rumah yang berpenampilan menarik terbukti dapat mendorong minat wisatawan untuk berkunjung.

Contohnya Kota Malang di Jawa Timur, kini memang cukup dikenal dengan kampung warna-warni Jodipan, yang cukup banyak dikunjungi wisatawan.

Rina juga menegaskan perlunya partisipasi masyarakat untuk menjaga kebersihan kawasan yang sudah mulai tertata. “Kalau daerahnya cantik, orang mau buang sampah juga akan segan“ ujar Rina.