Penghargaan bernama Philosophy Award diberikan untuk pertama kalinya pada tahun ini dalam rangka peringatan Lustrum X dan Dies Natalis ke-50 Fakultas Filsafat UGM. Dalam upacara pemberian penghargaan pada Sabtu (21/10), Franz Magnis diwakili oleh Ketua Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara Jakarta, Romo Simon Lily Tjahjadi

Romo Franz Magnis Dapat Penghargaan Philosophy Award dari UGM

YOGYAKARTA (IndepedensI.com) – Fakultas Filsafat UGM memberikan penghargaan Philosophy Award kepada Prof. Dr. Franz Magnis-Suseno SJ sebagai Filsuf Terkemuka Indonesia 2017. Franz Magnis-Suseno adalah seorang rohaniawan Katolik yang berasal dari Ordo Sarekat Yesus atau Jesuit atau SJ.

“Kami memberikan penghargaan ini diberikan sebagai bentuk pengakuan dan penghargaan atas dedikasi, kontribusi, dan pengaruh positif Romo Magnis terhadap pengenalan dan perkembangan studi filsafat,” ujar Dekan Fakultas Filsafat, Arqom Kuswanjono, Senin (23/10/2017).

Ia menjelaskan, Franz Magnis menerima penghargaan ini setelah melalui proses verifikasi empiris atas karya-karyanya dalam bidang kefilsafatan Indonesia dan pengaruhnya dalam perkembangan keilmuan filsafat di Indonesia. Melalui penghargaan ini, ia mengajak dunia akademik Indonesia dan dunia untuk memberi pengakuan pada individu-individu yang layak menyandang predikat sebagai seorang filsuf.

“Selama ini yang disebut filsuf hanya orang-orang dari luar. Padahal, di Indonesia juga ada pemikir-pemikir yang memiliki satu kekhasan dan layak disebut sebagai seorang filsuf,” imbuh Arqom.

Penghargaan bernama Philosophy Award diberikan untuk pertama kalinya pada tahun ini dalam rangka peringatan Lustrum X dan Dies Natalis ke-50 Fakultas Filsafat UGM. Dalam upacara pemberian penghargaan pada Sabtu (21/10), Franz Magnis diwakili oleh Ketua Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara Jakarta, Romo Simon Lily Tjahjadi.

Mewakili Franz Magnis yang berhalangan hadir karena sedang dirawat di Rumah Sakit, ia menyatakan apresiasi atas pemberian penghargaan ini yang menunjukkan perhatian UGM bukan hanya kepada Franz Magnis tetapi juga bagi perkembangan ilmu filsafat di Indonesia.

“Respek pada UGM yang sejak 50 tahun lalu telah menjadi pelopor dalam mengembangkan filsafat Indonesia. Ini adalah sebuah penghormatan terhadap filsafat sebagai ilmu yang berusaha mencari kebenaran dan yang tidak mengenal etnis dan agama yang membuat kita terpisah,” ujar Simon.

Dalam kesempatan ini ia membacakan orasi ilmiah Franz Magnis berjudul “Filsafat sebagai Ilmu yang Mempertanyakan” yang menjelaskan bagaimana filsafat merupakan unsur kunci dalam menyegarkan ketajaman dan kesegaran intelektual suatu bangsa.

“Filsafat bukan segala-galanya, tetapi tanpa filsafat alam intelektual akan menjadi tawar, dogmatis, dan mandul,” tulis Magnis dalam orasinya.

Mengenai arah perkembangan studi filsafat di Indonesia, Magnis memberi catatan tentang pentingnya menyediakan dukungan intelektual dalam setiap perjuangan seperti pokok-pokok etika politik yang melandasi pembangunan bangsa Indonesia, kedudukan agama dalam negara serta kebebasan beragama, juga tentang keadilan sosial dan implikasinya atas realisasi solidaritas bangsa dengan warga-warganya yang paling lemah.

Senada dengan pesan ini, Rektor UGM, Prof. Ir. Panut Mulyono, M.Eng., D.Eng., menyatakan bahwa ke depan UGM akan terus mengembangkan kajian mengenai filsafat Indonesia agar mendapat tempat yang semestinya di dalam ranah akademik dan dalam kehidupan berbangsa.

“UGM ingin terus mengembangkan filsafat agar di Indonesia lahir filsuf-filsuf yang hebat secara keilmuan dan bisa menggaet bangsa ke arah yang lebih futuristik dan optimis,” ujar Panut. (Sigit Wibowo)