Waktunya Kontraktor Indonesia Menjadi Investor Proyek Infrastruktur di Indonesia

JAKARTA (IndependensI.com) – Asosiasi Kontraktor Indonesia  (AKI) merayakan ulang tahunya yang ke 44 mengadakan seminar  dengan tema “ Peluang  Kontruksi Melalui Investasi”  dengan  moderator Pengamat Infrastruktur Danang Parikesit, di Hotel Le Meridien Jakarta, Kamis (2/11/2017).

Menteri PUPR diagendakan menjadi kynote speaker dalam seminar ini,  namun karena  mendampingi Presiden kunjungan kerja ke Surabaya, Menteri PUPR Basuki Hadimuljono  digantikan oleh Plt Dirjen Bina Konstruksi Kementerian PUPR Danis H Sumadilaga.

Danis H Sumadilaga mengatakan, kontraktor dapat memanfaatkan iklim investasi nasional yang kondusif. Hal ini terlihat dari meningkatnya peringkat daya saing Indonesia yang berada di posisi 36 dari sebelumnya di posisi 41 dan indeks daya saing infrastruktur Indonesia juga mengalami kenaikan dari peringkat 52 dari sebelumnya peringkat 60.

Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) mendorong para kontraktor besar mau menjadi investor pembangunan infrastruktur di Indonesia. Pasalnya, bila dibanding dengan negara lain, kontraktor di Indonesia baru sebatas menjadi penyedia jasa dan belum berani untuk terjun mendanai sejumlah proyek infrastruktur. Padahal, pemerintah sudah memberikan banyak kemudahan perijinan termasuk menyediakan dana talangan bagi pembebasan lahan.

Selain itu, Bank Dunia juga menempatkan Indonesia pada peringkat ke-72 dari 190 negara dalam Laporan Kemudahan Usaha 2018.  Laporan 2018 ini merupakan hasil survey yang dilakukan Bank Dunia pada tahun 2017.  Sebelumnya Indonesia berada di peringkat ke-114 pada laporan 2015, kemudian Indonesia menempati peringkat ke-109 pada laporan 2016 dan peringkat ke-91 pada laporan 2017.  Dengan begitu, Indonesia berhasil mencatatkan lonjakan 42 peringkat dalam tiga tahun terakhir.

“Asosiasi Kontraktor Indonesia (AKI) memiliki 183 anggota. Mereka punya potensi untuk menjadi investor berdasarkan dari pengalaman yang dimiliki. Karena itu sangat kita dorong. Bapak Ibu sekalian contoh di Korea, dan beberapa negara lain, kontraktor sudah menjadi investor infrastruktur yang besar. Saat ini kita butuh investasi yang besar walaupun dengan catatan harus memahami resiko investasi di bidang infrastruktur,” kata Danis

Menurut Danis, kontraktor besar harus didorong menjadi investor infrastruktur sebab di negara lain sudah banyak investor berasal dari kontraktor besar seperti Samsung C&T dan SK E&C di Korea dan bam PPP yang merupakan anak perusahaan Royal BAM Group di Belanda. “Para investor tersebut mengerjakan berbagai macam proyek infrastruktur jalan raya tol, transportasi, dan bangunan di Eropa. Dengan demikian, kontraktor swasta seperti Astra Infra, Nusantara Infrastruktur, Adaro, Saratoga, PT Bangun Tjipta Sarana dan PT MNC Group diharapkan dapat terlibat lebih jauh dalam pengembangan proyek infrastruktur dengan menjadi investor, “ tambah Danis.

Danis Sumadilaga, yang juga merupakan Kepala Balitbang Kementerian PUPR mengatakan, jika para kontraktor besar menjadi investor maka akan semakin banyak lagi peluang konstruksi tercipta di masa mendatang. Apalagi dengan dukungan penyediaan peralatan, material, dan ketersediaan tenaga ahli konstruksi juga akan semakin meningkat. “Yang terpenting adalah kita menciptakan pekerjaannya dulu agar proyek bisa terus berjalan. Ini yang kita harapkan semakin besar,” ujarnya.

Saat ini, peluang kontraktor besar menjadi investor sangat terbuka lebar. Pemerintah juga sudah memberikan dukungan dengan penyederhanaan perijinan, kemudahan dari aspek pembiayaan melalui PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI) yang siap menjadi katalis infrastruktur dan dukungan dana bagi pembebasan lahan dari Lembaga Manajemen Aset Negara (LMAN). “Jika hanya mengharapkan dukungan anggaran dari APBN tentu pemerintah tidak akan kuat membangun infrastruktur yang sangat besar tersebut,” pungkas Danis

Turut Menjadi pembicara dalam acara seminar tersebut adalah Direktur Keuangan PT Waskita Karya Tunggul Rajagukguk, Kepala Divisi Pembiayaan dan Investasi 1 PT Sarana Multi Infrastruktur (Persero) Rintis Sitaresmi, Kepala Biro Perencanaan Kementerian Perhubungan Gede Pasek Suardika, Deputi Bidang Koordinasi Percepatan Infrastruktur Pengembangan Wilayah Kementerian Perekonomian Wahyu Utomo.(***)