Bitcoin (AFP)

Bitcoin Tembus US$11.000

JAKARTA (IndependensI.com) – Nilai Bitcoin terus meroket. Pada perdagangan di bursa Amerika Serikat, Rabu (29/11/2017), nilai mata uang virtual itu sempat menembus US$11.000 untuk pertama kalinya.

Berdasarkan data Bloomberg News, bitcoin sebelumnya sudah menembus US$10.000 pada perdagangan di bursa Asia.

Kenaikan terus terjadi hingga mencapai nilai tertingginya US$11.434 sebelum turun lagi ke US$9.643 sekitar pukul 19.30 GMT (02.30 WIB), anjlok 15 persen hanya dalam beberapa jam.

Meski terjadi penurunan tajam, kenaikan nilai Bitcoin sepanjang tahun ini amat menakjubkan. Pada Januari 2017, bitcoin dihargai sekitar US$1.000. Pada Oktober 2017, nilainya mencapai US$5.000.

Kenaikan dalam beberapa pekan terakhir sebagian disebabkan oleh pengumuman Chicago Mercantile Exchange, akhir Oktober lalu, bahwa lembaga itu akan meluncurkan perdagangan berjangka untuk bitcoin. Bursa saham teknologi Nasdaq juga berencana meluncurkan perdagangan berjangka untuk bitcoin mulai tahun depan.

Dengan kenaikan belakangan ini, nilai total bitcoin di seluruh dunia mencapai US$180 miliar menurut data coinmarketcap.com.

Bitcoin diperkenalkan pada 2009. Mata uang virtual ini dirancang untuk mempermudah perdagangan global via internet. Berbeda dengan mata uang konvensional, bitcoin didapatkan dengan menambang “emas digital” berupa kode yang dikalkulasikan komputer.

Saat pertama kali diluncurkan, nilai bitcoin hanya beberapa US sen. Mata uang ini tidak punya nilai tukar legal, tidak ada bank yang mendukungnya, dan diperdagangkan hanya menggunakan pelantar khusus.

Bitcoin yang awalnya hanya digunakan oleh penggila komputer dan ahli finansial kini diterima oleh kalangan yang lebih luas. Bitcoin dipandang bisa menjadi alternatif dari investasi tradisional. Sudah banyak tempat usaha yang menerima bitcoin sebagai alat pembayaran.

 

Ditentang di Banyak Negara

Meski sudah banyak diterima, tidak sedikit yang menentang mata uang virtual ini. Bank Indonesia termasuk yang melarang perdagangan bitcoin.

Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardojo mengatakan pelarangan tersebut bertujuan untuk menjaga kedaulatan rupiah sebagai mata uang yang sah di Negara Kesatuan Republik Indonesia. Bitcoin juga dianggap berpotensi digunakan sebagai alat pencucian uang dan pendanaan tindak terorisme.

JP Morgan Chase menyebut bitcoin sebagai akal-akalan belaka. China menutup pelantar perdagangan bitcoin. Pekan ini, Korea Selatan mengutarakan kecemasan bitcoin dapat menyesatkan investor muda ke bidang investasi akal-akalan.

Kenaikan tajam nilai bitcoin belakangan ini juga dikhawatirkan akan diikuti penurunan tajam yang bisa merugikan investor.

“Ini gelembung dan sekarang memang banyak gelembung. Tapi ini akan menjadi gelembung terbesar sepanjang sejarah,” kata manajer keuangan Mike Novogratz pada konferensi cryptocurrency di New York, Selasa (28/11/2017).

Stephen Innes, dari broker valuta asing Oanda di Singapura, mengingatkan nilai bitcoin sudah tidak masuk akal. “Saya agak takut bahwa pedagang ritel terlalu senang karena merasa kenaikan ini akan berlangsung selamanya,” kata Innes.

“Kita semua tahu bahwa tidak ada yang terus melaju dalam garis lurus,” ujarnya.

Tapi ada juga yang berkomentar positif. Kelompok ini mengatakan bahwa naiknya popularitas bitcoin akan menarik investor tradisional ke mata uang digital ini.

“Saya rasa momentumnya masih cenderung ke atas,” kata Kay van Petersen, ahli ekonomi makro dan crypto di Saxo Bank, Singapura.

Dia mengingatkan nilai bitcoin masih bisa turun. Tapi dia memperkirakan nilai mata uang ini dapat mencapai US$50.000 hingga US$100.000 dalam enam hingga 18 bulan ke depan.