Ruselli Hartawan. (Istimewa)

Ruselli Juarai Kejurnas PBSI 2017

JAKARTA (IndependensI.com) – Pebulutangkis Pelatnas Pratama, Ruselli Hartawan berhasil mengalahkan Dinar Dyah Ayustine di partai puncak Kejuaraan Nasional (Kejurnas) PBSI 2017 di GOR Sahabudin, Pangkalpinang, Sabtu (2/12). Ruselli menang dua game langsung 21-9 dan 21-18 dalam tempo 38 menit.

“Senang sekali dan bersyukur bisa diberi kesempatan untuk juara Kejurnas pertama kalinya. Kunci kemenangan tadi di game pertama saya bermain lebih banyak menyerang dan membuat lawan susah untuk mengeluarkan permainannya,” ujar Ruselli seperti dikutip dari rilis Humas PP PBSI. “Di game kedua saat saya sempat unggul 16-10, lawan banyak melakukan perubahan permainan. Saya jadi bingung. Untungnya saat skor imbang 16-16, saya bisa kembali fokus. Dan bisa menang,” tambahnya.

Atlet binaan Jaya Raya Jakarta ini menuturkan tak menyangka bisa membawa pulang gelar juara Kejurnas. Dengan persiapan yang kurang, Ruselli sempat tak yakin untuk bisa tampil baik. “Nggak nyangka sebenarnya. Karena sebelumnya hanya target untuk lolos ke semifinal saja, persaingan ketat, saya pun kurang persiapan,” ujar atlet kelahiran 27 Desember 1997 ini.

Gelar juara Kejurnas PBSI 2017 ini menjadi gelar ketiga bagi Ruselli. Sebelumnya, ia mampu menjadi juara di Singapore International Series dan Malaysia International Challenge. Ruselli pun berharap jika ia kembali dipercaya menjadi penghuni Pelatnas Cipayung tahun depan, ia ingin bisa menjadi juara di turnamen dengan level lebih tinggi seperti grand prix gold.

Untuk gelar tunggal putra berhasil dibawa pulang oleh Wisnu Yuli Prasetyo. Atlet wakil Jawa Tengah itu berhasil menang dua game langsung atas Vicky Angga Saputra dari DKI Jakarta. Wisnu menang dengan dua game langsung 21-11 dan 21-15 dalam tempo 43 menit.

Di nomor ganda putri, Tania Oktaviani Kusuma/Vania Arianti Sukoco nyaris menemui kekalahan sebelum akhirnya menundukkan Agatha Imanuela/Siti Fadia Silva Ramadhanti 20-22, 21-17, 21-17. “Game pertama kami tegang, karena kami masih ada pikiran takut lagi untuk kalah kedua kalinya. Makanya ketat dan akhirnya harus kalah,” kata Tania usai laga. “Game ketiga lebih kepada menjaga fokus dan seling memberi semangat satu sama lain,” lanjut Tania.

Ini adalah pertemuan kedua bagi dua pasangan ini. Sebelumnya, Agatha/Fadia berhasil menghentikan langkah mereka di Indonesia International Challenge 2017. “Evaluasi dari kekalahan kemarin, kami kalah karena lengah. Kalau tadi kami sudah fokus dari awal, intinya nothing to lose, tidak memikirkan menang kalah yang penting main bagus,” ujar Vania.

Berhasil menyabet gelar juara, Tania/Vania pun mengaku bahwa hal ini sudah sesuai target mereka. “Sesuai target, karena memang batal tampilnya greysia apriyani menguntungkan untuk kami dan kami makin optimis. Kalaupun mereka ada, kami tidak mau kalah sebelum bertanding,” lanjut Vania. Saat dibahas mengenai target tahun depan, baik Tania maupun Vania menuturkan ingin bisa meraih gelar di turnamen yang lebih tinggi. “Target tahun depan kan belum tau apakah dipanggil lagi di pelatnas, atau tidak. Inginnya bisa lebih baik lagi dan bisa juara GP (grand prix),” pungkasnya.