Ramdhan Pomanto, “Little Jack” dan Mimpi Jadikan Makassar Kota Berkelas Dunia

MAKASSAR (IndependensI.com) – Warga Kota Makassar Sulawesi Selatan boleh bangga dengan pemimpinnya, terutama yang memiliki anak balita. Pemimpin kota Makassar ini sangat peduli dengan anak-anak, pendidikan dan suasana kota yang sangat ramah dengan anak-anak dan akan menjadikan kota Makassar berkelas dunia. Hal itu pula yang menjadi salah satu fokus Wali Kota Makassar Ramdhan Pomanto dalam memajukan kota maupun warganya.

Ir H Ramdhan Pomanto yang kelahiran Kota Makassar 30 Januari 1964 memiliki latar belakang pendidikan teknik yakni teknik arsitektur. Nah, ketika maju pada Pilkada 2014 lalu, Ramdhan membuat sebuah visi kota yang berkelanjutkan dan berkelas yakni mewujudkan kota dunia untuk semua, tata lorong bangun kota dunia. Misinya yakni merekonstruksi nasib rakyat menjadi masyarakat sejahtera standar dunia, merestorasi tata ruang kota menjadi kota nyaman kelas dunIa dan mereformasi tata pemerintahan menjadi pelayanan publik kelas bebas korupsi.

Dari visi dan misi tadi maka, maka lahirlah berbagai program yang menuju kota kelas dunia, termasuk dalam hal pendidikan. Atas dasar itu pula, Wali Kota Makassar Moh Ramdhan Pomanto saat ini sedang menyiapkan menjadikan “little jack” sebagai percontohan untuk membangun sekolah pra-Paud di lorong-lorong ibu kota Provinsi Sulawesi Selatan itu.

Persiapan tentang little jack sudah mantab dan tinggal merealisasikan saja. “Kabid Paud ke depan dapat menjadikan percontohan ini untuk dikembangkan di lorong-lorong, nanti ‘little jack’,” kata Ramdhan Pomanto yang akrab disapa “Danny” seusai peresmian sekolah pra-Paud Little Jack di Makassar, Sabtu (13/1/2018).

Dia mengatakan, hadirnya ‘little jack’ ini adalah sekolah yang menggunakan kurikulum internasional dan ini merupakan bukti bahwa Kota Makassar sebagai kota dunia. “Kalaupun ada kesan jika fasilitas untuk anak-anak enam bulan hingga tiga tahun hanya dapat dijangkau oleh masyarakat ekonomi kelas atas, hal itu tidak ada masalah sebagai tahapan awal,” ujarnya.

Alasannya, kata Danny, karena model little jack itu akan diduplikasi dan ini menjadi tugas kepala bidang Paud Dinas Pendidikan Kota Makassar untuk menerapkannya di lorong-lorong, sehingga dapat menjangkau masyarakat menengah ke bawah.

Sementara itu, pemilik “Little Jack” di Makassar Yenni Yulita mengatakan kehadiran pendidikan pra-Paud ini setelah adanya fenomena bahwa banyak anak yang mengalami kelainan seperti autis, hiperakrif dan terlambat berbicara (speech delay).

Di sisi lain, lanjut dia, pihak orang tua yang sibuk bekerja dan biasanya hanya mempercayakan kepada pengasuh yang dinilai kurang berinteraksi dengan anak, sehingga dapat menjadi salah satu pemicu anak terlambat berbicara.

“Harus disadari bahwa anak sejak usia enam bulan itu sudah dapat mendeteksi perkembangan motorik dan sensorik anak, oleh karena itu kami hadir untuk menjembatani masalah seperti ini,” ujarnya.

Mengenai “little jack” yang dianggap untuk kalangan ‘high class’ saja, Yenni mengatakan pihaknya juga akan menyiapkan hal serupa di Grand Mall dengan harga terjangkau, sehingga semua kalangan masyarakat dapat menikmati layanan pendidikan tersebut.