Perang Kreativitas Televisi

Oleh: Altobeli Lobodally

IndependensI.com – Iklan dan produk televisi seperti yin dan yang. Salalu membutuhkan satu sama lain, dan tak dapat dipisahkan. Kesuksesan sebuah program televisi seakan hanya diukur dari rating tinggi yang didapatkan. Rating yang tinggi juga menjanjikan iklan yang melimpah.

Altobeli Lobodally

Awalnya iklan hanyalah sebuah selingan sebuah acara televisi. Namun para pengiklan rasanya merasakan ruang di antara break sebuah acara masihlah terlalu minim. Sehingga ruang tersebut kian meluas dengan masuknya promo produk ke dalam sebuah program televisi.

Ketika promo produk yang masuk ke dalam sebuah program televisi, hanya muncul dalam satu spot pada sebuah segmen mungkin pemirsa masih dapat menerima sebagai bagian dari gimmick sebuah acara. Namun kini seolah hampir tiap segmen muncul promo produk dengan ide kreatif yang terkesan dipaksakan.

Belum lama ini salah satu televisi yang masih menguasai pasar dengan program dangdut dan sinetron religinya, menggelar sebuah acara spektakuler guna memeriahkan hari jadinya. Sejumlah artis ternama muncul sebagai pengisi acara, pembawa acara yang kini tengah mencapai puncak popularitasnya memandu acara tersebut, belum lagi tata artistik panggung, lighting yang luar biasa menjadi suguhan menarik dalam acara tersebut.

Namun di tengah keglamoran acara tersebut, sejumlah pengisi acara seolah harus ‘tunduk’ kepada produk-produk yang menjadi pengiklan dalam acara tersebut. Entah berpura-pura atau memang menunjukkan kesukaannya kepada produk yang diiklankannya.

Dari sejumlah produk yang masuk, sebagian besar adalah produk kesehatan.

Dari sejumlah produk yang masuk, sebagian besar adalah produk kesehatan. Baik berupa obat, jamu, ataupun produk perwatan kulit untuk mengantisipasi serangga. Produk-produk tersebut memaksa para pengisi acara dalam kondisi tertentu agar dapat menggunakan produk yang diiklankan. Entah memang benar apa yang dialami oleh pengisi acara benar-benar terjadi atau tidak.

Seperti dalam salah satu adegan yang mengharuskan salah satu pengisi acara yang juga dilahirkan oleh televisi yang bersangkutan. Setelah menunjukkan kemampuannya bernyanyi dengan performa yang cukup fit, dalam adegan tersebut sang pengisi acara menunjukkan dirinya dalam keadaan sakit dan memegang sejumlah anggota tubuhnya. Tentu saja, adegan ini akan bermuara kepada penggunaan produk yang merupakan pengiklan dalam acara tersebut.

Pada bagian dari kemeriahan acara tersebut, juga ditunjukkan penyanyi yang sudah memiliki nama dalam dunia dangdut, juga harus bertekuk lutut kepada kreativitas untuk mempromosikan produk. Setelah bernyanyi, penyanyi yang bersangkutan mengeluhkan nyamuk yang ada di sekitar studio, dan lagi-lagi sang dewa penyelamat adalah produk perwatan kulit tersebut.

Sementara itu, pada acara lain yang juga ditayangkan televisi yang sama, promo produk seolah telah menjadi bagian dari sebuah acara. Para pengisi acara maupun para pekerja televisi juga lagi-lagi harus tunduk kepada produk yang beriklan. Lagi-lagi kreativitas takluk di bawah para pengiklan.

Pada acara pencarian bakat menyanyi itu, berkali-kali penonton harus memahami kelalahan fisik yang dialami baik oleh pembawa acara maupun komentator. Di tengah membawakan acara tak jarang harus dhentikan dengan sejumlah keluhan para pengisi acara. Seperti: badan pegal-pegal, meriang, atau butuh yang hangat-hangat.

Pemirsa seakan-akan harus memaklumi kondisi kelelahan yang dialami oleh para pengisi acara berkali-kali. Pemirsa dituntut sabar menyaksikan para pengisi acaranya memulihkan stamina, menyembuhkan kondisi fisik dengan produk-produk yang merupakan pengiklan. Luar biasanya, produk-produk tersebut punya daya magis yang disebut instanisasi.

Mengapa instan? Karena tak butuh lama, produk yang dikonsumsi para pengisi acara dapat langsung memulihkan atau seringkali kalimat yang digunakan adalah menyegarkan kembali para pengisi acara. Di tengah dinamika perkembangan zaman yang begitu cepat, segalanya seakan harus dilakukan tanpa memerlukan proses. Termasuk kesembuhan.

Tentu apa yang sajikan di atas, hanyalah contoh kecil dari sebuah program televisi yang kini semakin ditinggal pemirsa mudanya. Tanpa bermaksud menggurui, mungkin para pemain besar televisi juga perlu berkaca dari bagaimana negara tetangga kita mengemas sebuah promo produk.

Dalam adegan sebuah web series dari Thailand misalnya. Web series yang mengisahkan para pekerja katering di bandara ini, menyajikan promo produknya seolah tidak disadari pemirsanya. Mulai dari intercut, atau perpindahan gambar yang mengambil produk yang ada di bandara saja, tanpa menambahkan kalimat berlebihan yang memuji produk, hingga memunculkannya dalam adegan-adegan.

Seperti ketika pemeran utama yang tengah berbincang mengisi waktu istirahat siang mereka. Kedua bermain menebak maskapai penerbangan, dari suara pesawat yang tengah lepas landas atau pesawat yang akan tinggal landas.

Kreativitas tanpa batas kini menjadi tuntutan bagi para pekerja televisi. Apalagi di tengah tuntutan para pengiklan yang merongrong ruang dan waktu dalam program televisi. Mungkin kebosanan melihat kreativitas yang memaksakan promosi produk tersebut juga yang membuat televisi kehilangan pemirsa mudanya.

Penulis adalah pengajar broadcasting Kalbis Institute.

2 comments

Comments are closed.