Bambang Sadono Saal Ini Prihatin Lunturnya Keralaan Genarasi Muda Berjuang

Loading

SEMARANG (IndependensI.com)  – Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI Bambang Sadono prihatin dengan semakin lunturnya kerelaan berjuang dari para generasi muda sekarang ini.

“Kalau di pewayangan ada tokoh namanya Setyaki yang memiliki suatu prinsip seorang pejuang yang dikenal dengan sumpahnya, yakni ‘Sumpah Setyaki’,” katanya di Semarang, Kamis.

Mantan Sekretaris Jenderal Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) itu mengatakan Setyaki adalah sosok pejuang sejati yang memiliki kerelaan dan tanpa pamrih dalam berjuang.

Dalam berjuang, kata dia, Setyaki tidak pernah memiliki ambisi menjadi raja, merebut putri dari kerajaan lain, tetapi karena merasa terpanggil untuk membela orang banyak.

“Motivasi dan kerelaan berjuang untuk orang banyak ini yang saya rasakan semakin kurang di kalangan generasi muda. Berbeda dengan generasi dahulu,” katanya.

Meski demikian, diakui senator asal Jawa Tengah itu, semakin lunturnya kerelaan berjuang di kalangan generasi muda juga tidak dilepaskan dari pengaruh senior-seniornya terdahulu.

Pengaruh dari para senior atau elite sekarang ini yang terkesan hanya memikirkan dirinya sendiri, lanjut dia, kemudian membuat semangat juang kian luntur di kalangan generasi muda.

“Sebagai contoh, anak sekarang kalau ditanya mau jadi apa? Polisi, itupun milihnya polisi lalu lintas. Saat ditanya kenapa? Dianggapnya lebih ‘renes’ (basah),” katanya.

Demikian juga di kalangan jurnalis, kata dia, tidak sepantasnya wartawan menerima “amplop” yang bisa memengaruhi objektivitasnya dalam menuliskan pemberitaan.

Namun, kata dia, tindakan yang salah semacam itu kemudian berkembang menjadi kebiasaan atau sesuatu yang normal sehingga semakin mendangkalkan generasi muda.

“Coba sekarang yang ditanya mau jadi guru berapa? Sedikit sekali. Kebanyakan mungkin pengin jadi artis. Ya, proses pendidikan juga sangat berpengaruh,” katanya.

Atas keprihatinannya terhadap semakin lunturnya kerelaan berjuang di kalangan generasi muda, Bambang mengumpulkan sajak-sajaknya menjadi buku berjudul “Sumpah Setyaki”.

Pada rentang 1980-an, Bambang aktif menuliskan sajak sebagai sebuah kritik yang kemudian dikumpulkannya sekitar 80 judul puisi yang terangkum dalam buku setebal 100 halaman.

“Ini misalnya, puisi saya berjudul ‘Musim Dingin di Niagara’. Ini berisi kritik yang bisa dijadikan pembelajaran bagi generasi muda,” katanya, seraya membacakan puisinya itu.

Rencananya, buku Bambang Sadono berjudul “Sumpah Setyaki” yang berisi kumpulan puisinya pada rentang 1978 hingga pertengahan 1985 itu akan diluncurkan pada 30 Januari 2018